Rabu, 3 Juni 2026

Perang Dagang AS vs China Untungkan Indonesia, Ekspor Sepatu ke AS Melonjak

Produsen sepatu Indonesia diuntungkan karena pembuat sepatu China mulai memangkas produksinya akibat perang perdagangan AS vs China

Tayang:
South China Morning Post
Produksi sepatu di China memangkas produksi akibat perang dagang AS vs China. Indonesia dan Korea Selatan mengisi celah yang kosong. 

TRIBUNBATAM.ID - Perang dagang AS vs China membuat sejumlah sektor manufaktur asal China bergeser ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Beberapa produk manufaktur Indonesia mulai mendapat keuntungan dari perang dagang AS vs China, terbukti dari naiknya ekspor sepatu Indonesia ke Amerika Serikat.

Indonesia diuntungkan karena pembuat sepatu China mulai tergeser produksinya akibat perang perdagangan AS vs China yang semakin memburuk.

Kisah Aceng, Ketemu Kawan Lama Sekolah yang Kini Gangguan Jiwa: Kita Tetap Sahabat Walau Ada Beda

PUKULAN KEDUA! Setelah Menteri Malaysia Azmin Ali Membantah, Muncul Video Gay Baru, Lebih Jelas

Jawaban Cerdas Sri Mulyani saat BPK Soroti Utang Pemerintah Naik sejak 2015, Ini Penyebabnya

Deputi gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo melihat positif hal ini karena ekspor alas kaki ke Amerika Serikat tumbuh 6,7 persen pada awal 2019

Tetapi, Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara diperkirakan akan bergabung dengan pasar regional lain untuk memotong suku bunga untuk melawan perlambatan pertumbuhan global, demikian dilansir South China Morning Post dari AFP.

Ekspor Indonesia mengisi peluang pangsa pasar di Amerika Serikat di beberapa sektor karena rantai pasokan dari China mulai tersendat.

Dalam empat bulan pertama 2019, Indonesia mengekspor alas kaki senilai US $ 559,91 juta ke AS, naik 6,7 persen dari tahun sebelumnya.

Total ekspor alas kaki Indonesia tahun lalu naik 6,5 persen, jauh di atas kenaikan 3,5 persen dari 2017, menurut Asosiasi Alas Kaki Indonesia.

Dari itu, ekspor ke AS naik lebih dari 4,7 persen menjadi US $ 1,55 miliar tahun lalu, dibandingkan dengan kenaikan 3,5 persen pada 2017, berdasarkan data dari departemen perdagangan AS.

Sebaliknya, pengiriman dari Cina ke AS, yang secara tradisional menyumbang lebih dari setengah impor alas kaki AS, turun 1 persen menjadi US $ 13,89 miliar pada 2018.

Ekspor alas kaki Indonesia diperkirakan akan mencapai US $ 10 miliar dalam empat tahun ke depan.

Ketegangan perdagangan yang meningkat antara dua ekonomi terbesar di dunia telah menggigit ekonomi Cina dan Amerika.

Celah itu diisi oleh sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Vietnam untuk industri tertentu.

Meski demikian, secara global, perang dagang AS vs China lebih banyak mudaratnya secara global.

“Secara keseluruhan, kami melihat dampak negatif dari ketegangan perdagangan terhadap ekonomi pasar negara berkembang jauh lebih besar. Kami adalah korban terkena dampak dari konfrontasi antara dua negara besar ini, ” kata Waluyo.

Analis memperkirakan bahwa ekspor alas kaki Indonesia akan tumbuh dari US $ 5,3 miliar pada tahun 2018 menjadi US $ 6,5 miliar tahun ini, atau naik 23 persen, dan diperkirakan akan mencapai US $ 10 miliar dalam empat tahun ke depan.

Ratusan perusahaan mode dan alas kaki Amerika terus melobi AS untuk memberlakukan tarif baru sebagai bagian dari perselisihan hampir satu tahun antara AS dan Cina.

Secara keseluruhan para pengusaha mengeluh karena perang dagang ini menampar tarif ratusan miliar dolar pada impor dari masing-masing negara.

Pembuat sandal kasual Crocs asal China mengatakan, pekan ini mereka terpaksa memotong volume sepatu dan aksesori yang diproduksi di China untuk pasar AS lebih dari dua pertiga untuk tahun berikutnya.

Crocs termasuk dalam daftar produsen raksasa sepatu dan pakaian yang terus tumbuh, seperti Caleres dan Deckers.

Namun, kebijakan tarif yang diluncurkan Washington membuat mereka harus menahan produksi karena penerapan tarif oleh AS akan menghantam hampir semua barang asal Cina.

Sejauh ini, tarif kumulatif China telah menghentikan ekspor sebesar US $ 250 miliar ke AS dan posisinya kini berada di tempat kedua, di belakang Uni Eropa, kata analis JPMorgan.

Pemasok dari negara-negara di Asia, Uni Eropa dan juga Meksiko, kata Shatil, mulai mengisi kekosongan tersebut, mengambil sekitar 88 persen dari pangsa pasar AS yang hilang ditinggalkan China.

Lebih mengejutkan lagi, China juga telah menghentikan ekspor produk-produk yang belum masuk daftar tarif, seperti komoditas, bahan kimia, teknologi dan kategori elektronik lainnya ke AS.

perang dagang China vs Amerika Serikat
perang dagang China vs Amerika Serikat ()

Indonesia dan Korea Selatan telah menyumbat celah untuk alas kaki dan tekstil, sementara Taiwan untuk mesin dan peralatan, tiga produk yang paling memukul China.

Tetapi, Waluyo mengatakan bahwa dampak perang dagang ini memukul perekonomian Indonesia secara keseluruhan karena Cina dan AS juga berusaha untuk mengalihkan ekspor produksi mereka ke seluruh dunia. .

Akibatnya, terjadi kelebihan pasokan komoditas tertentu yang akan menyebabkan harga global menjadi turun dan yang pada gilirannya akan merugikan ekspor produk-produk ini di Indonesia.

"Jika pertumbuhan ekonomi di semua negara berkembang moderat atau datang lebih rendah dari ekspektasi, maka itu pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan global secara keseluruhan," kata Waluyo.

"Sekitar 30 persen dari total perdagangan Indonesia berasal dari AS dan China, sekitar 10 persen dengan AS dan sekitar 20 persen dengan China," katanya.

Mengenai ekonomi Indonesia yang lebih luas, Waluyo mengatakan kebijakan moneter Bank Indonesia menyebutkan bahwa mereka masih menunggu apa yang kemungkinan terjadi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada hari Rabu bahwa Indonesia mungkin akan bergabung dengan bank sentral lain dalam pelonggaran kebijakan moneter untuk menghadapi perlambatan ekonomi global.

“Ketika situasi sekarang telah berubah, terutama di negara-negara maju, termasuk tentang arah kebijakan moneter, dan ada sinyal pelemahan ekonomi global, saya pikir Bank Indonesia juga akan menyesuaikan sikap kebijakan moneternya,” kata Indrawati.

Inflasi utama Indonesia naik ke level tertinggi dalam tahun ini, 3,3 persen di bulan Mei.

Bank of America Merrill Lynch memperkirakan dalam sebuah laporan baru-baru ini bahwa inflasi Indonesia diperkirakan 3,5 persen pada akhir tahun ini, berada pada titik tengah di kisaran 2,5 hingga 4,5 persen yang ditargetkan Bank Indonesia.

Bank investasi AS mengatakan bahwa bank-bank sentral di seluruh kawasan dapat mengikuti Federal Reserve AS dan Bank Rakyat China (PBOC), menggeser ke arah kebijakan moneter yang lebih akomodatif, mengingat bahwa prospek inflasi di sebagian besar ekonomi tetap jinak.

Federal Reserve AS dan PBOC diharapkan untuk melonggarkan kebijakan untuk mendukung pertumbuhan yang melambat karena dampak dari perang dagang ini.

Ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen, jauh di bawah target 7 persen yang ditetapkan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo untuk tahun ini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved