Anggota Dewan Ini Pertanyakan Izin Perusahaan yang Impor Limbah Plastik Dari Luar Negeri

Temuan limbah plastik yang diduga mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) menimbulkan beragam komentar dari sejumlah pihak.

Anggota Dewan Ini Pertanyakan Izin Perusahaan yang Impor Limbah Plastik Dari Luar Negeri
TRIBUNBATAM.id/Dewi Haryati
Wali Kota Batam Muhammad Rudi dan wakilnya Amsakar mengecek kontainer di Batu Ampar menyusul ada pesan berantai yang menyebut ada kontainer bermuatan limbah, Jumat (14/6/2019). 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Temuan limbah plastik yang diduga mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) menimbulkan beragam komentar dari sejumlah pihak.

Mulai dari Asosiasi Export Import Plastik Industri Indonesia (Aexipindo) Batam, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melalui twitternya hingga Anggota DPRD Batam.

Lik Khai, Anggota Komisi 1 DPRD Batam misalnya tidak ketinggalan memberikan komentar terkait masalah tersebut.

"Semua pihak harus turun tangan. Saya kira tidak hanya satu negarapun yang menerima adanya limbah plastik ini," ujar Lik Khai kepada Tribun, Senin (17/6/2019).

Soal Sampah Plastik yang Diduga Bermuatan B3, Wawako Batam: Kita Tunggu Hasil Laboratorium Saja

Anang Hermansyah Sekeluarga Panik saat Libur di Kanada, Ashanty Bahkan Pakai Pakaian Apa Adanya Saja

Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Habiskan Rp 50 Juta untuk Nginap Saja, Ini Rinciannya

Informasi Akurat, Sandiaga Uno Sudah Pasti Masuk Menteri Jokowi, Sosok Ini yang Bocorkan, Percaya?

Masuknya limbah tersebut, tegasnya perlu dipertanyakan.

Dia yakin tidak ada izin yang memberikan restu masuknya limbah baik itu B3 maupun non-B3 ke Batam.

Dia bersikeras tetap harus mempertanyakan perizinan perusahaan tersebut.

"Sudah jelaslah sangat melanggar Undang-Undang. Harus dicek benar, apakah mereka memiliki izin atau tidak. Kalau memang mereka memegang izin limbah, berarti pihak Kementerian yang perlu dipertanyakan," ujar Lik Khai dengan nada tinggi.

Dia menambahkan mengingat plastik yang datang ke Batam tersebut bukanlah dalam bentuk bahan baku atau biji pola stik, melainkan plastik yang masuk dalam kategori limbah.

Jadi kondisinya sangat beda antara bahan baku dengan sampah plastik.

"Kan lucu. Masukan limbah eh malah dikatakan bahan baku," jelas politisi Nasdem ini dengan nada tinggi.

Sebagaimana diketahui bersama, ada beberapa negara yang tidak memperbolehkan adanya import limbah plastik.

Akhirnya limbah itu dikembalikan lagi ke negara pengirimnya.

"Saya akan segera koordinasi dengan Ketua Komisi 1 untuk panggil perusahaan ini atau kita yang Sidak ke sana langsung. Bagaimana sistem kerja mereka menjadikan limbah plastik jadi bahan baku," tegasnya. (tribunbatam.id / Roma Uly Sianturi)

Penulis: Roma Uly Sianturi
Editor: Thom Limahekin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved