BI: Utang Luar Negeri Indonesia per April 2019 Naik 8,7% Menjadi US$ 389,3 Miliar

Posisi utang luar negeri Indonesia tersebut tercatat sebesar US$ 389,3 miliar atau posisi terbesar pada bulan April dalam kurun lima tahun terakhir.

BI: Utang Luar Negeri Indonesia per April 2019 Naik 8,7% Menjadi US$ 389,3 Miliar
Thinkstock.com
Ilustrasi dollar AS 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Utang luar negeri (ULN) milik Indonesia pada akhir April 2019 kembali tumbuh cukup tinggi, yakni 8,7% secara tahunan (year on year/yoy).

Posisi utang luar negeri Indonesia tersebut tercatat sebesar US$ 389,3 miliar atau posisi terbesar pada bulan April dalam kurun lima tahun terakhir.

"Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan Maret 2019 sebesar 7,9% yoy, karena transaksi penarikan neto ULN dan pengaruh penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS)," jelas Bank Indonesia (BI) dalam laporan resminya, Senin (17/6/2019), seperti dilansir KONTAN.

BI juga menjelaskan, pada bulan April 2019, utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dollar AS.

Peningkatan pertumbuhan ULN terutama bersumber dari ULN sektor swasta di tengah perlambatan pertumbuhan ULN pemerintah.

Utang pemerintah dan bank sentral tercatat sebesar US$ 189,7 miliar sedangkan utang swasta termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar US$ 199,6 miliar.

Posisi ULN swasta pada akhir April 2019 tumbuh 14,5% yoy, lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya, sebesar 13% yoy.

ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas uap/air panas dan udara (LGAS), serta sektor pertambangan dan penggalian dengan total pangsa 75,2% terhadap total ULN swasta.

Sementara itu pertumbuhan ULN pemerintah melambat. Posisi ULN pemerintah pada April 2019 tercatat sebesar US% 186,7 miliar atau tumbuh 3,4% yoy sedangkan bulan sebelumnya tumbuh 3,6% yoy.

Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman senilai US$ 0,6 miliar dan penurunan kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) milik nonresiden senilai US$ 0,4 miliar.

"Akibat ketidakpastian di pasar keuangan global yang bersumber dari ketegangan perdagangan," imbuh BI.

ULN pemerintah dengan porsi terbesar tercatat pada sektor jasa dan kegiatan sosial 18,8% dari total ULN pemerintah, sektor konstruksi 16,3%, dan sektor jasa dan pendidikan 15,8%.

ULN bank sentral pada akhir April 2019 tercatat sebesar US$ 3,03 miliar, naik bila dibandingkan posisi Maret 2019 yang tercatat US$ 2,8 miliar.

BI menyebutkan struktur ULN Indonesia tetap sehat. Kondisi tersebut tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir April 2019 sebesar 36,5%. Selain itu struktur ULN Indonesia didominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 86,2% dari total ULN.

Editor: Alfian Zainal
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved