UIB Hadir Sebagai Pembicara dalam Workshop Tingkat Nasional

Workshop ini membahas mengenai berbagai isu yang terjadi seputar kerjasama PT dalam tingkat nasional dan internasional.

UIB Hadir Sebagai Pembicara dalam Workshop Tingkat Nasional
ist
Dr. Hepy saat mengisi acara workshop di IBIS Style Hotel Batam 

TRIBUNBATAM.id - Dalam rangka peningkatan pengetahuan dan pemahaman pengurus perguruan tinggi dalam hal kerjasama antar perguruan tinggi baik ditingkat nasional dan internasional, LLDIKTI Wilayah X mengadakan workshop selama 3 hari (18-20 Juni 2019) yang bertempat di IBIS Style Hotel Batam dengan tema “Workshop Peningkatan Kerjasama Perguruan Tinggi Bagi PTS di Lingkungan LLDIKTI Wilayah X”. Workshop ini dihadiri sekitar 80 Perguruan tinggi swasta dengan 140 peserta.

Turut hadir pula Ketua LLDIKTI Wilayah X Prof.Herri,SE.,MBA yang sekaligus melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PT. Pegadaian.

Workshop ini membahas mengenai berbagai isu yang terjadi seputar kerjasama PT dalam tingkat nasional dan internasional.

Hadir beberapa pembicara dari Kemenristek DIKTI yang memberikan materi seputar kerjasama internasional, legal/hukum serta tata cara kerjasama, cara pelaporan kerjasama dalam system aplikasi hingga berbagi pengalaman kerjasama internasional.

Universitas Internasional Batam sebagai salah satu peserta, diundang menjadi pembicara dalam salah satu sesi yakni “The Implementation of International Collaboration”. UIB diwakili oleh Wakil Rektor III Bidang Kerjasama yakni Dr. Hepy Hefri Ariyanto berbagi pengalaman serta tips-tips terkait sejarah, proses dan pencapaian kerjasama internasional UIB yang telah memiliki 34 mitra universitas diluar negeri, yakni dari Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Taiwan, Thailand, Malaysia, Kamboja dan Philipina.

Program internasional yang telah dijalankan UIB adalah Joint Degree, Credit Transfer, Learning Collaborative, Internship, UIB Island Camp, Volunteer, Language and Cultural Program dan International Seminar.

Dr.Hepy menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika akan melakukan kerjasama internasional.

Pertama, pihak PT harus memeriksa dahulu universitas yang dituju (kecocokan dengan misi PT). Kedua, lakukan Mou kemudian MoA atau surat perjanjian kerjasama, MoA harus detail terutama dari segi biaya kuliah/program, pilih PT yang biaya kuliahnya terjangkau oleh mahasiswa.

Ketiga, pilih negara yang banyak menarik mahasiswa, kalau bisa yang lebih baik secara kualitasnya, kemudian tawarkan short program yang menarik pada mitra agar kerjasama bersifat reciprocal, dan yang terakhir adalah kontak jangan terputus sebatas formal tapi harus secara informal, cari key person (PIC) yang flexible dalam komunikasi, sehingga komunikasi lebih nyaman dan jika ada program baru bias langsung dikontak.

Dr. Hepy menekankan bahwa banyak Mou yang ditolak pada saat akreditasi karena kurangnya implementasi, sehingga MoU yang sudah dibuat jangan sampai “tidur”.

Mou harus secara aktif difollow up hingga MoA atau bentuk perjanjian kerjasama yang detail sehingga bias dijadikan portofolio dalam boring akreditasi. Pihak PT harus bijak dalam memilih mitra dan kerjasama harus setara (equal), dalam proses kerjasama pihak PT tidak hanya mewakili individu PT tapi juga mewakili martabat bangsa Indonesia, sehingga kerjasama harus ada saling menghargai, mutual dan tidak merugikan masing-masing pihak.

Editor: Rio Batubara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved