Jumlah Pelajar Singapura yang Stres Akibat Pelajaran Sekolah Semakin Banyak

Banyak pelajar Singapura saat ini dilaporkan mendapatkan bantuan psikiater ketika mereka bergelut mengatasi tekanan terus-menerus di bidang akademik

Jumlah Pelajar Singapura yang Stres Akibat Pelajaran Sekolah Semakin Banyak
intisarionline
Ilustrasi 

TRIBUNBATAM.ID,  SINGAPURA - Jumlah pelajar di Singapura yang tertekan dan stres akibat beban pelajaran sekolah semakin banyak.

Banyak pelajar Singapura saat ini dilaporkan mendapatkan bantuan psikiater ketika mereka bergelut mengatasi tekanan terus-menerus untuk cemerlang dalam prestasi akademik.

Anak-anak melaporkan gejala keresahan dan tekanan berkaitan sekolah, terutama di tingkat sekolah rendah, kata pakar, seperti dilansir TribunBatam.id dari Kantor Berita AFP.

Bahkan, kecenderungan tekanan itu semakin berat dan ada kasus pelajar yang terdorong untuk bunuh diri.

Sebelum Juventus Bertanding di ICC 2019, Cristiano Ronaldo Sudah Tiba Duluan di Singapura

Viral Nenek Sutasmi Nikah dengan Pemuda 19 Tahun di Pati, Beda Nasib dengan Nenek Rohaya dan Slamet

Ketua DPRD Kepri Ingatkan Kepala Disdik, Jangan Ada Anak yang Tidak Dapat Sekolah

Remaja kerap berhadapan masa panjang di sekolah, pekerjaan rumah serta desakan orangua untuk mengikuti les atau kursus sehingga memberi dampak yang buruk kada kondisi mental anak.

Laporan terbaru mendapati, hampir seluruh pelajar di republik pulau itu tertekan karena semakin tingginya nilai rata-rata  sekolah, memaksa mereka belajar lebih keras.

Kini, demi upaya mengurangi tekanan di sekolah, Singapura mulai melakukan pembaharuan dengan menghapuskan beberapa ujian akademik dan mengubah gaya belajar-mengajar.

“Kita perlu menyeimbangkan kesenangan belajar dan ketekunan dalam pendidikan,” kata Menteri Pendidikan, Ong Ye, di parlemen.

Tingginya tekanan terhadap pelajar kini menjadi masalah terbesar di Asia karena banyak pemerintah yang memaksakan sektor pendidikan sebagai program politik.

Stres Pendidikan di Asia

Hong Kong, China dan Jepang adalah salah satu negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi di kalangan pelajar.

Kasus bunuh diri di kalangan anak-anak di Hong Kong, umumnya disebabkan oleh beban sekolah yang tinggi.

Di China, Februari lalu, seorang remaja bunuh diri karena stres diduga tidak mampu mengerjakan tugas sekolah usai libur panjang.

Murid kelas 7 sekolah menengah Xiao Jin (13) dijadwalkan kembali ke sekolah untuk memulai semester baru pada Kamis (21/2/2019) lalu.

Walapun libur telah selesai, pelajar yang bersangkutan belum juga menyelesaikan tugas yang diberikan sebelum musim libur tiba.

Namun, baru setengah hari di sekolah, ia diperintahkan seorang guru untuk menyelesaikan tugas untuk liburan musim dingin yang telah ia abaikan.

Alih-alih menjalankan tugas, remaja itu meninggalkan pesan terakhir, sebelum melompat dari atap sebuah gedung.

Sekolah dan orangtua di China memang kerap memberikan tekanan besar pada anak-anak. Itu kadang-kadang bahkan menyebabkan mereka putus asa dan mencoba bunuh diri.

Kenali Gejala Anak Stres

Stres bukan hanya milik orang dewasa. Anak-anak juga bisa mengalami stres. 

Stres pada anak bisa mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologinya.

Menurut HealthDay News, American Academy of Pediatrics mengungkapkan beberapa tanda stres pada anak, yaitu:

* Menunjukkan tanda-tanda depresi, meskipun si anak tidak terlalu komunikatif.

* Gampang marah dan kehilangan minat pada beberapa kegiatan favoritnya.

* Kurangnya minat belajar di sekolah, hingga nilai-nilainya pun menurun.

* Berubah perilakunya seperti berbohong, mencuri, menghindari tanggung jawab di rumah, atau menjadi tergantung pada orangtua.

Sebelum terlambat, bila mengetahui tanda-tanda tersebut pada anak, cobalah mengajaknya berbicara untuk mengetahui apa yang menyebabkan mereka stres.

Bila tidak ditemukan solusi, ajaklah anak berkonsultasi ke psikolog. 

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved