Pakar UGM: Pembangunan Ekonomi Batam Harus Selaras Dengan Pembangunan Ekologi

Ketika dibangun 30 tahun lalu, tata ruang Batam sudah didesain berdasarkan kemampuan lingkungan saat itu.

Pakar UGM: Pembangunan Ekonomi Batam Harus Selaras Dengan Pembangunan Ekologi
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA
Foto tangkapan udara Dam Baloi. Dam Baloi tak bisa lagi digunakan karena pertumbuhan penduduk di area tangkapan air tak terkendali. Batam harus fokus menjaga daerah tangkapan air. Jika tidak daya dukung dan daya tampung Batam berpotensi terus tergerus, sehingga daya saing kawasan juga menurun. 

“Harus tetap ada keseimbangan dan keserasian,” ujarnya.

Dari segi tata ruang, pengambil kebijakan harus bisa mengukur sampai mana tingkat jenuh pengembangan kawasan.

Misalnya sampai sejauh mana pengembangan perumahan, industri dan lain-lain bisa dilakukan.

Jika sudah masuk dalam batas jenuh, maka harus sudah mulai dibatasi.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah mengenai ekspansi perumahan yang harus mulai dibatasi.

Apalagi jika lahan yang digunakan untuk membangun perumaha masuk ke dalam kawasan lindung.

Karena pasti akan berdampak kepada lingkungan.

Dalam aturan tentang kawasan lindung, termasuk di dalam Kepres 32 tahun 1990 maupun UU Penataan ruang mengatur kawasn lindung yang tak boleh diganggu.

Salah satunya adalah sekitar 200 meter hingga 500 meter dari wilayah hutan.

“Untuk hutan ada yang namanya kawasan penyanggah. Itu hanya boleh digunakan untuk produksi terbatas. Sementara hutan lindung hanya boleh untuk jasa, seperti Eco Wisata, dan aktifitas lain yang tak merusak kayu atau pohon,” paparnya.

Halaman
1234
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved