Pakar UGM: Pembangunan Ekonomi Batam Harus Selaras Dengan Pembangunan Ekologi

Ketika dibangun 30 tahun lalu, tata ruang Batam sudah didesain berdasarkan kemampuan lingkungan saat itu.

Pakar UGM: Pembangunan Ekonomi Batam Harus Selaras Dengan Pembangunan Ekologi
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA
Foto tangkapan udara Dam Baloi. Dam Baloi tak bisa lagi digunakan karena pertumbuhan penduduk di area tangkapan air tak terkendali. Batam harus fokus menjaga daerah tangkapan air. Jika tidak daya dukung dan daya tampung Batam berpotensi terus tergerus, sehingga daya saing kawasan juga menurun. 

Setelah data tersebut, belum ada pembaharuan data dari BPS terkait luas hutan lindung di Batam.

Namun beberapa titik hutan lindung berpotensi mengalami penurunan karena sejumlah aktifitas.

Salah satunya adalah aktifitas cut and fill di hutan lindung Baloi yang dilakukan selama tahun 2016.

Aktifitas perkebunan di hutan lindung Duriangkang juga terlohat semakin meluas.

Jika melihat citra satelit dari Google Earth, hampir separoh hutan lindung Duriangkang yang berada di sisi Jalan Sudirman telah digunakan untuk lahan perkebunan warga.

Kondisi tak jauh berbeda juga terlihat ketika menyambangi Dam Duriangkang secara langsung.

Kawasan ini lebih cocok disebut sebagai perkebunan rakyat ketimbang hutan lindung.

Pepohonan tak lagi berdiri rapat menghalangi sinar matahari, lebih banyak hamparan luas berisi tanaman holtikultura.

Yang jamak terlihat adalah daun Singkong, Jagung, Serai, Pepaya, Nangka dan tanaman-tanaman sejenis.

Masing-masing kebun tampaknya dirawat dengan baik. Tampak dari sepinya ilalang disekitar tanaman-tanaman tersebut.

Masuk lebih jauh, kita bisa menemukan barisan-barisan pohon menghitam seperti terbakar.

Di bawahnya rumput-rumput pendek bernasib sama.

Barisan pohon ini tampaknya sengaja dibakar untuk membuka lahan perkebunan baru.

Di seberangnya ada barisan pohon gosong yang telah ditebang.

Lahan di belakannya telah gembur dicangkul, dan dipenuhi batang-batang singkong yang distek.

Beberapa telah tumbuh daun muda. Beberapa bulan ke depan sudah bisa dipanen dan dijual.

Aktifitas perambahan juga terjadi di sejumlah hutan lindung lainnya.

Dengan maraknya aktfitas tersebut, dikhawtirkan volume hutan lindung sudah berada di bawah ambang batas yang ditentukan pemerintah.

Jika itu terjadi, maka Batam harus segera melaksanakan program rehabilitasi hutan untuk menjaga keberlangsungan kawasan.

“Jika sampai nilai ambang batas 30 persen tak terpenuhi, maka Batam sudah lampu merah. Harus dilakukan langkah-langkah yang dituangkan dalam program 3 sampai 5 tahun kedepan. Salah satunya melalui rehabilitasi hutan,” paparnya. (*)

Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved