2 Warga Batam Ditangkap Polisi, Sudah Sering Selundupkan TKI Ilegal ke Malaysia

Dua Tekong TKI yang sering memberangkatkan TKI secara ilegal ditangkap Polisi. Diketahui mereka bernama Lobing Subandryo (36) dan Supriadi (35) warga

2 Warga Batam Ditangkap Polisi, Sudah Sering Selundupkan TKI Ilegal ke Malaysia
tribunbatam.id/Leo Halawa
Polda Kepri saat melakukan ekspose perkara penangkapan tekong TKI Ilegal 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Dua Tekong TKI yang sering memberangkatkan TKI secara ilegal ditangkap Polisi.

Diketahui mereka bernama Lobing Subandryo (36) dan Supriadi (35) warga Nongsa, Batam, Kepri.

Keduanya ditangkap personel kapal patroli KP Yudhistira 8003.

Komandan KP Yudhistira 8003 AKBP Handoyo S saat konferensi pers di Polda Kepri Rabu (17/7) mengatakan, kedua pelaku merupakan orang yang memberangkatkan tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal ke Malaysia.

"Penangkapan dilakukan pada Hari Minggu 14 Juli 2019. Korban ada sembilan orang. Korban ini berasal dari Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi, Jawa dan dari Medan," kata Handoyo.

Kejadian penangkapan di perairan Nongsa Batam.

Diceritakan Handoyo, Minggu itu personelnya menggunakan kapal patroli Pukul 17.00 WIB melakukan pengejaran speed boat yang membawa pekerja ilagal.

BPS Sebut Orang Miskin Kepri Bertambah 5.748 Orang, Indikatornya dari Kemampuan Beli Rokok dan Beras

OYO Jadi Jaringan Hotel Terbesar ke 3 di Dunia, AS dan Eropa Pendorong Utama Pertumbuhan Perusahaan

Hasil PSM Makassar vs Persebaya Surabaya, Gol Irfan Jaya Bawa Skor Imbang di Babak Pertama

Polisi perairan ini menggunakan bantuan Perahu karet Sea Rider di tengah laut. Kemudian, dilakukan penyisiran sampai ke perumahan pemko Batam Botania II Batam Center.

Usut punya usut, ternyata Subandryo dan Supiadi adalah pelaku. Berdasarkan keterangan keduanya, mereka memiliki peran masing-masing. "Ada bagian yang mengecek barang-barang TKI adanya ada juga penampung di rumahnya," tambahnya.

Si tempat dan waktu yang sama, Dirpolair Polda Kepri Kombes Pol Benyamin Sapta menambahkan, berdasarkan pengakuan kedua tersangka sudah melakoni pekerjaan itu sebanyak tiga kali. "Dua kali sukses dan kali yang ketiga ditangkap. Jadi itu pengakuan mereka," katanya.

Kesembilan korban itu, mengaku dipungut biaya transportasi dan makan-minum bervariasi oleh pelaku. Yakni Rp5-6 juta. Uang itu biaya mulai dari daerah asal hingga diantar ke Malaysia.

Oppo Reno 10x Zoom Edisi FC Barcelona Segera Rilis, Lihat Penampilan Hapenya

Pemko Tanjungpinang Lelang Jabatan Sekdako, Begini Sosok Sekdako Menurut Syahrul

Lihat Terumbu Karang Rusak di Laut Anambas, Susi Pudjiastuti Ancam Nelayan Begini

Kaesang Sindir Garuda Indonesia Soal Imbauan Larangan Mengambil Foto/Video di Dalam Pesawat

Kabid Humas Polda Kepri Kombes S Erlangga mengatakan, kesembilan korban akan dipulangkan ke daerah asal. Selanjutnya, Polda Kepri berkoordinasi dengan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja (BP3TKI) Tanjungpinang untuk pemulangan nya.

Sementara pelaku yang kini berstatus tersangka, dijerat pasal berlapis. Pasal 81 jo pasal 69 jo pasal 86 huruf c jo pasal 72 huruf c Undang-Undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, yang berbunyi

Pasal 81 ”orang perseorangan yang melaksanakan penempatan pekerja migran indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 69 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp15 miliar. Pasal 69 ”orang perseorangan dilarang melaksanakan penempatan pekerja migran indonesia”

"Pasal 86 huruf c ”menempatkan pekerja migran indonesia tanpa sip2mi sebagaimana dimaksud dalam pasal 72 huruf c”.
• Pasal 72 huruf c ”menempatkan pekerja migran indonesia tanpa sip2mi," jelas Erlangga.(tribunbatam.id/leo Halawa). 

Penulis: Leo Halawa
Editor: Eko Setiawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved