Breaking News:

Setelah Batam, Malaysia dan Filipina, Kamboja Juga Digempur Ribuan Ton Sampah Plastik

Setelah Filipina, Malaysia dan Indonesia, kini giliran Kamboja melawan gempuran pengiriman sampah plastik dari luar negeri.

AFP
Temuan sampah plastik impor di Kamboja 

Dalam enam bulan pertama, pada 2018 hampir mencapai jumlah total sampah yang negara itu terima pada 2016 dan 2017.

Pada Mei 2019 lalu, Malaysia juga mengembalikan ribuan ton sampah plastik yang ditangkap di sejumlah pelabuhan.

Filipina juga mengembalikan sekitar 69 kontainer sampah ke Kanada bulan lalu, setelah Presiden Rodrigo Duterte mengancam akan mengembalikan sendiri sampah itu jika Kanada tidak menjemputnya.

Sekitar 300 juta ton plastik diproduksi setiap tahun, menurut Worldwide Fund for Nature (WWF), dengan sebagian besar berakhir di tempat pembuangan sampah atau mencemari laut, yang kemudian menjadi krisis internasional yang berkembang.

Sebelumnya, kontainer berisi sampah plastik asal Amerika Serikat juga ditemukan di pelabuhan Surabaya.

Dalam dokumennya, kontainer tersebut disebut berisi potongan kertas, namun setelah diperiksa, isinya botol, sampah plastik, hingga popok, kata pejabat senior kementerian lingkungan Sayid Muhadhar.

Lima kontainer milik perusahaan Kanada  dikirim dari Seattle, Amerika Serikat ke Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia pada akhir Maret, kata Muhadhar.

Sampah Plastik di Batam

Masuknya 65 kontainer berisi sampah plastik ke Batam, awalnya, menurut Kepala KPU BC Tipe B Batam, Susila Brata, dilakukan oleh empat perusahaan scrub plastik dan disebut-sebut telah memenuhi kelengkapan dokumen.

Tapi setelah dicek, ada beberapa yang memenuhi kriteria, dan ada yang tidak memenuhi kriteria.

Setelah melewati uji laboraturium, ternyata 38 kontainer berisi sampah plastik yang mengandung B3 atau Limbah Berbahaya.

Tribun merangkum bebrapa fakta kasus limbah plastik yang hebohkan Batam.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Herman Rozie mengatakan, pengecekan isi kontainer yang dilakukan Jumat (14/6/2019) ini di Pelabuhan Batuampar, Batam, Kepri, merupakan kelanjutan dari pemeriksaan Kamis (13/6/2019) lalu.

Saat dibuka Satu persatu kontainer yang berisikan limbah plastik ini mengeluarkan bau menyengat. 

Punya 4 Perusahaan Besar

Anggota Komisi I DPRD Kota Batam Lakukan Sidak ke Dua perusahaan Plastik yang Ada di Batam
Anggota Komisi I DPRD Kota Batam Lakukan Sidak ke Dua perusahaan Plastik yang Ada di Batam (ist)

Teka-teki siapa pemilik Limbah Plastik yang mengandung B3 atau bahan berbahaya akhirnya terungkap.

Puluhan kontainer yang berisi limbah berbahaya tersebut milik empat perusahaan besar.

Perwakilan dari kementerian terkait seperti dari Kementerian Kemaritiman, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian RI ikut turun ke lapangan.

Sebanyak 65 Kontainer dibuka satu persatu dan diambil sampelnya.

Sampel tersebut kemudian dibawa ke laboraturium untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Dari hasil pemeriksaan dari 65 kontainer, 38 di antaranya mengandung unsur B3 atau limbah berbahaya.

Hasil Lab atau pemeriksaan tersbeut diungkapkan langsung oleh Kepala Bidang BKLI BC Batam Sumarna.

Secepatnya Akan di Pulangkan.

Kabid BKLI BC Batam Sumarna mengatakan, semua kontainer berisikan limbah plastik itu segera di kembalikan ke negara asalnya.

Namun untuk melakukan reekspor, BC Batam harus berkordinasi dulu dengan pihak terkai dan juga pemilik barang.

"Yang jelas kita akan meminta barang ini harus segera mungkin di kembalikan kenegara asalnya, karena mengandung Limbah berbahaya," tegas Sumarna. 

Sebanyak 38 kontainer limbah plastik di Batu Ampar mengandung B3 atau bahan berbahaya.

Dari hasil uji laboratorium, limbah yang terkontaminasi B3 harus dikembalikan lagi alias dire-ekspor.

Kabit BKLI BC Batam Sumarna mengatakan, jadwal untuk diekspor kembali limbah itu tentunya harus koordinasi dengan pemilik barang.

"Kita masih lakukan koordinasi dengan pemilik barang. Kapan barang itu di re ekspor tunggu kesepakatannya," katanya.
Namun Sumarna menggarisbawahi kalau untuk pengiriman kembali 38 kontainer limbah berbahaya itu segera mungkin.

"Kita tidak mau berlama-lama. Kita harapkan secepat mungkin limbah itu bisa diekspor kembali," sebutnya.

Negara-negara menganbil tindakan

Dikutip dari BBC, negara-negara pengimpor sampah lantas menyadari bahwa jumlah sampah yang datang sulit ditangani dan membuat sejumlah negara mengeluarkan langkah pengendalian.

Polandia, pada Mei 2018, mengumumkan aturan pengetatan penerimaan sampah setelah terjadi beberapa kebakaran di lokasi pembuangan.

Negara itu mengaitkan peningkatan impor sampah secara ilegal dengan tindakan China yang menolak menerima kiriman sampah.

Thailand sementara melarang impor sampah plastik dan menyatakan akan menerapkan larangan penuh pada 2021.

Malaysia mencabut izin impor dan menutup berbagai tempat pemrosesan sampah ilegal.

Vietnam tidak lagi mengeluarkan izin baru dan akan melarang impor semua jenis sampah plastik pada 2025.

Pada Oktober, Taiwan menyatakan hanya akan mengimpor sampah plastik dari satu sumber.

India melebarkan larangan impor sampah plastik padat pada Maret lalu.

Bagaimanapun, masih ada permintaan untuk mengirim sampah plastik dan limbah lain untuk didaur ulang. Tantangan untuk membuangnya pun masih menjadi tantangan.

Ada beberapa indikasi bahwa setelah sukses melarang impor sampah, negara-negara ini mulai menerima sampah dalam jumlah besar lagi.(*)

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved