Anambas Terkini

Pelni Tanjungpinang dan Bintan Bikin Aturan Baru Bagi Penumpang Kapal. Pembelian Tiket Makin Ketat

Kapal Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) sudah lama melayani masyarakat di pulau terdepan

Pelni Tanjungpinang dan Bintan Bikin Aturan Baru Bagi Penumpang Kapal. Pembelian Tiket Makin Ketat
TRIBUNBATAM.id/Septyan Mulia Rohman
Kapal Bukit Raya 

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Bunyi klakson khas itu terdengar dari Jalan Pelantar Tanjung Desa Tarempa Barat, Kecamatan Siantan Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau Senin (22/7/2019) sekitar pukul 05.49 WIB.

Bunyi yang cukup memekakkan telinga itu sudah dua kali terdengar. Bagi warga pulau semisal di Anambas atau Natuna, suara itu sudah bisa ditebak. Kapal Motor (KM) Bukit Raya masuk ke Anambas.

Kapal Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) sudah lama melayani masyarakat di pulau terdepan. Dari cerita sejumlah warga, kapal ini sudah melayani masyarakat ketika Anambas masih bergabung dengan Kabupaten Natuna. Mulai dari pejabat sampai ke warga biasa pun punya cerita dengan kapal berkapasitas 970 orang penumpang itu.

Pemuda Penderita Tumor Tulang Belakang Asal Karimun Dirujuk ke Awal Bross Batam

Syahrul Ingatkan JCH Asal Tanjungpinang Agar Jaga Kesehatan Fisik dan Sabar Hadapi Cobaan

Berlayar Satu Hari Dari Tarempa ke Tanjungpinang, Harga Tiket Sabuk Nusantara 83 Ternyata Murah

Meski tergolong tua, namun kapal buatan Jerman itu masih saja diminati warga. Terlebih, memasuki cuaca laut yang biasa mengganas pada akhir tahun.

Cuaca laut yang biasa disebut warga dengan musim utara memang tidak boleh diangap remeh. Kapal barang dari Anambas atau sebaliknya, mengalami insiden karena nekat berlayar. Dampaknya, transportasi laut lain seperti kapal ferry tidak diizinkan berlayar oleh otoritas pelabuhan. Tidak hanya transportasi laut. Transportasi udara pun juga terkena dampaknya. Ketika cuaca seperti itu, kapal ini yang menjadi andalan.

Warga cenderung mengesampingkan lama perjalanan hingga 16 jam hanya untuk sampai Pelabuhan Sri Bayintan Pura, Kijang, Kabupaten Bintan. Harga tiket yang tak sampai 300 ribu Rupiah untuk bisa sampai ke Kijang menjadi penyebab lain. Pada hari-hari tertentu seperti libur anak sekolah, atau hari besar, jumlah penumpang bisa membludak 2 kali lipat dari kapasitas angkut.

Penumpang mulai atur posisi mengambil tempat di sisi samping dek. Tidak jarang bercampur dengan koper dan barang bawaan penumpang. Namun hal itu dalam waktu dekat tidak bakal ditemukan lagi. Per 1 Agustus 2019, Pelni mengeluarkan pengumuman penjualan tiket sesuai dengan tempat tidur. Pelni pun juga menyerukan tidak lagi menjual tiket tanpa tempat tidur (non seat). Aturan ini setidaknya baru diterapkan di Pelabuhan Sri Bayintan Pura, Kijang. Itu pun tidak sesuai dengan nomor tempat tidur yang tertera pada tiket.

Kepala Cabang Pelni Tanjungpinang dan Bintan, Ahmad Syafran yang dikonfirmasi membenarkan adanya aturan ini. Aturan ini dilakukan agar penumpang dapat lebih nyaman selama perjalanan dalam kapal. Ia pun memberikan saran bagi calon penumpang yang ingin berlayar dengan kapal Pelni.

Perencanaan perjalanan dan membeli tiket jauh hari bisa dilakukan agar tidak kehabisan ketika akan bepergian. Pembelian tiket dapat dilakukan di loket kantor Pelni, kantor perjalanan, hingga aplikasi yang dapat diakses di ponsel cerdas. "Betul Mas. Untuk pembelian tiket harus sesuai dengan identitas diri serta nomor telepon," ujarnya melalui What's App Senin (22/7/2019).(tribunbatam.id/septyanmuliarohman)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Ucu Rahman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved