Kondisi Terkini Kerusuhan di Hongkong, Sita Perhatian Pengguna Twitter
Kejadian kerusuhan di Hongkong telah menyita berbagai perhatian dari penjuru dunia dan merasa prihatin dengan pemukulan yang dilakukan kumpulan oknum.
TRIBUNBATAM.id - Hongkong tengah berduka, sebagai besar warga negaranya melakukan aksi menuntu penolakan RUU Ekstradisi yang telah ditangguhkan.
Kejadian kerusuhan di Hongkong telah menyita berbagai perhatian dari penjuru dunia dan merasa prihatin dengan pemukulan yang dilakukan oleh beberapa oknum.
Bahkan di media sosial Twitter, sedang trending #HongKongProtests menunjukkan respon dan tanggapan dari setiap warga internet.
• Sinopsis Serial Ishq Mein Marjawan ANTV Hari Ini Kamis (25/7), Aarohi Ketahui Rahasia Deep?
• Catat Jadwal dan Lokasi Pemadaman Listrik Bergilir di Tanjungpinang dan Bintan
• Tim Terpadu Gusur 88 Kios di Simpang Hutatap Batam
Kondisi Terkini Hongkong
Berita tentang kerusuhan Hongkong, terus menjadi pembicaraan di media sosial Twitter, termasuk warga negara Indonesia(WNI).
Berbagai akun Twitter memperingatkan tentang keadaan terkini kerusuhan di Hongkong seperti pada akun @RamyInocencio yang mengupload video kondisi di Hongkong.
Dalam rentetan utas yang di upload pada Senin (22/7/2019), Ramy menjelaskan kondisi di Hongkong melalui berbagai video seperti berikut ini:
Terlihat pemakaian baju putih dan hitam yang kontras menunjukkan perbedaan kubu yang anti-pemerintah dan grup pemukul demonstran.
Hal ini memancing simpati para netizen Indonesia dengan memperingatkan hati-hati kepada para WNI yang sedang berada di Hongkong.
" WNI jgn memakai baju hitam atau putih, waspda bentrokan susulan" tweet @yasadhiputra di akun Twitternya.
" Warga negara HongKong. Tetaplah kuat. Kami semua mendengar suaramu. Kami mendukungmu. Pertahankan kebebasan & pilihan kalian. " tulis @armyindo_twt dalam tweetnya.
Respon Pemerintah Hongkong
Pemerintah China bereaksi keras terhadap aksi unjuk rasa anti-pemerintah yang telah merusak dinding kantor perwakilan mereka di Hong Kong, pada Minggu (21/7/2019).
Beijing mengecam aksi unjuk rasa yang sampai merusak lambang nasional, dan menyebut para pengunjuk rasa sebagai perusuh dan telah melakukan hal yang tidak dapat ditoleransi.
Ribuan massa pro-demonstrasi telah menduduki jalanan di luar kantor di kota semi-otonom itu, Minggu malam, dan menargetkan bangunan dengan telur, batu bata, serta corat-coret grafiti, dalam sebuah aksi yang menentang keras pemerintahan Beijing.
"(Tindakan) ini... telah secara serius merusak perasaan seluruh rakyat China, termasuk tujuh juta rekan senegaranya di Hong Kong," Wang Zhimin, utusan utama Beijing untuk kota itu, mengatakan kepada wartawan, menyerukan kepada pihak berwenang untuk mengejar "para perusuh".
Pejabat lain, yang tidak disebutkan namanya, mengatakan tindakan para demonstran sebagai perbuatan yang benar-benar tidak dapat ditoleransi.
Demikian menurut kantor berita China, Xinhua, Senin (22/7/2019).
Hong Kong telah diguncang oleh aksi protes besar-besaran, terkadang disertai dengan kekerasan, yang awalnya diorganisir untuk menentang RUU Ekstradisi yang telah ditangguhkan.
Namun, kini gerakan tersebut telah berubah menjadi lebih luas untuk reformasi demokratis.
Para pengunjuk rasa telah bersumpah untuk mempertahankan gerakan mereka sampai tuntutan inti mereka, termasuk hak pilih universal dan pengunduran diri pemimpin Hong Kong yang pro-Beijing Carrie Lam, terpenuhi.
Sejauh ini, Beijing telah menolak untuk mengalah.
Para pejabat dan media pemerintah menuduh para pengunjuk rasa bermain di tangan kekuatan asing yang berusaha untuk menyakiti China dan mendukung pemerintah Hong Kong.
Di luar menyetujui untuk menunda RUU Ekstradisi, ada beberapa konsesi lain dan kekhawatiran meningkat bahwa kesabaran China sudah habis.
"Aksi protes radikal telah menghina negara dan bangsa", tulis media Partai Komunis, People's Daily, dalam artikel halaman depan.
"Tindakan kekerasan ini secara serius merusak tatanan sosial Hong Kong dan menginjak-injak aturan hukum," lanjut laporan tersebut.
Di bawah kesepakatan penyerahan dari Inggris pada tahun 1997, China berjanji untuk mengizinkan Hong Kong tetap memiliki kebebasan utama seperti peradilan independen dan kebebasan berbicara, tetapi banyak yang mengatakan ketentuan itu sudah banyak berkurang.
Beijing telah bereaksi dengan marah kepada pemerintah lain dan pejabat asing yang mengekspresikan solidaritas dengan gerakan pro-demokrasi Hong Kong, memperingatkan mereka agar tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri China.
"Kekerasan yang dilakukan oleh beberapa elemen fanatik tidak benar-benar untuk menentang atau mengubah undang-undang ekstradisi... (tetapi) untuk memajukan agenda politik mereka sendiri," tulis editorial People's Daily.
Surat kabar itu memperingatkan bahwa bentrokan di Hong Kong bertentangan dengan pandangan "mayoritas diam", yang ingin "menjalani kehidupan yang damai dan berusaha mencapai impian mereka daripada memutar otak untuk urusan politik".