Haram Puasa di Hari Tasyrik Idul Adha, Perbanyak Amalan Ibadah Ini
Hari tasyrik Idul Adha, dilarang puasa selama 3 hari, tapi tetap bisa lakukan jenis ibadah ini
TRIBUNBATAM.id - Hari tasyrik Idul Adha merupakan hari yang haram berpuasa di bulan Dzulhijah.
Hari tasyrik Idul Adha berlangsung tiga hari mulai 11, 12. dan 13 Dzulhijah.
Larangan berpuasa juga terjadi pada 10 Dzulhijah.
Tahun ini Hari Raya Idul Adha atau 10 Dzulhijah 1440 H bertepatan pada 11 Agustus 2019.
Sehingga Hari tasyrik Idul Adha jatuh pada 12,13, dan 14 Agutus 2019.
Dikutip dari Banjarmasinpost.co.id, hari tersebut adalah hari dimana umat muslim dilarang untuk berpuasa.
• Manfaat Puasa 9 Hari Jelang Idul Adha, Ampunan Dosa hingga Dihindarkan dari 30 Pintu Kemelaratan
• Manfaat Puasa Senin Kamis Bikin Jiwa Lebih Tenang, Terhindar dari Asam Urat
Namun dianjurkan untuk berzikir dan berdoa.
Bertepatan dengan hari tersebut, jamaah haji di Makkah melaksanakan ibadah yaitu melempar jumrah.
Sementara umat Islam di seluruh dunia yang tidak berhaji melakukan penyembelihan hewan kurban.
Dikutip dari Rumaysho.com, disebutkan dalam Matan Al Ghoyah wat Taqrib -salah satu rujukan fikih dalam madzhab Syafi’i- bahwa ada lima hari diharamkan puasa, yaitu hari Idul Fithri, hari Idul Adha, dan tiga hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah).
Lima hari yang diharamkan untuk berpuasa, atas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Artinya : “Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim no. 1141)
Allah Ta’ala mengistimewakan hari tasyrik, karena pada hari tersebut Allah jadikan hari ini sebagai waktu istimewa untuk berdzikir sehingga Allah perintahkan kaum muslimin untuk memperbanyak dzikir di hari tersebut.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hari tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha (yaitu 11, 12, 13 Dzulhijjah). Disebut tasyrik karena tasyrik itu berarti mendendeng atau menjemur daging qurban di terik matahari. Dalam hadits disebutkan, hari tasyrik adalah hari untuk memperbanyak dzikir yaitu takbir dan lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 18)
Menurut Ibnu Rajab, ada rahasia di balik larangan berpuasa di hari Tasyrik.
Dahulu, ketika ketika orang-orang yang bertamu ke Baitullah karena perjalanan panjang yang dilalui.
Mereka kelelahan kemudian beristirahat setelah ihram, melaksanakan manasik haji dan umrah.
Allah mensyariatkan kepada mereka untuk beritirahat dan tinggal di Mina pada hari kurban dan tiga hari setelahnya.
Allah juga perintahkan mereka untuk makan daging sembelihan.
Di saat itulah, mereka mendapatkan jamuan dari Allah, karena kasih sayang Allah kepada mereka.
Allah mensyariatkan kaum muslimin untuk menjadikan hari ini sebagai hari makan-makan dan minum.
Agar bisa membantu mereka untuk semakin giat dalam berdzikir mengingat Allah dan melakukan ketaatan kepada-Nya.
Dan itu merupakan bentuk syukur nikmat yang paling sempurna.
Hal itu menjadikan kaum muslim diberbagai belahan dunia turut menyemarakkan ibadah yang dilakukan jemaah haji.
Kaum muslimin juga diperintahkan untuk memperbanyak ibadah selama 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
Puasa Sunnah
Puasa 9 hari disunnahkan bagi umat Islam jelang Idul Adha 10 Dzulhijjah 1440 H yang jatuh pada 11 Agustus 2019.
Manfaat puasa 9 hari di bulan Dzulhijjah sangat besar, mulai dari ampunan dosa hingga besarnya nilai ibadah yang akan diterima bagi yang menjalankan.
Dikutip dari Tribunnews.com, beberapa puasa sunah yang dilakukan di bulan Dzulhijjah.
• Manfaat Puasa Senin Kamis Bikin Jiwa Lebih Tenang, Terhindar dari Asam Urat
• Jelang Idul Adha, Jadwal Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah, Simak Tanggal, Keutamaan & Bacaan Niatnya
Berikut 3 puasa sunnah pada bulan Dzulhijjah:
1. Puasa Dzulhijjah
Adapun keutamaan puasa Dzulhijjah, simak penjelasan berikut:
Tanggal 1 Dzulhijjah: Allah mengampuni Nabi Adam AS di Arafah, maka yang berpuasa di hari itu akan diampuni dosa-dosanya.
Tanggal 2 Dzulhijjah: Allah mengabulkan doa Nabi Yunus AS dan mengeluarkannya dari perut ikan nun, maka orang yang berpuasa di hari itu sama seperti beribadah dan berpuasa satu tahun tanpa maksiat.
Tanggal 3 Dzulhijjah: Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya AS, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dikabulkan doanya.
Tanggal 4 Dzulhijjah: Nabi Isa AS dilahirkan, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dihilangkan kesusahan dan dikumpulkan bersama orang mulia di hari kiamat.
Tanggal 5 Dzulhijjah: Nabi Musa AS dilahirkan dan dimuliakan munajatnya, maka orang yang berpuasa di hari itu akan terlepas dari sifat munafik dan siksa kubur.
Tanggal 6 Dzulhijjah: Allah membukakan pintu kebaikan semua nabi, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dipandang Allah dengan penuh rahmat dan kasih sayang.
Tanggal 7 Dzulhijjah: Pintu neraka jahanam dikunci dan tidak akan dibuka sebelum berakhir pada 10 Dzulhijjah, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dihindarkan dari 30 pintu kemelaratan dan kesukaran dan dibukakan 30 pintu kemudahan untuknya.
Puasa Dzulhijjah dianjurkan bagi umat muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji.
Niat puasa Dzulhijjah:
"Nawaitu shauma syahri dhilhijjati sunnatan lillahi ta’ala."
Artinya, "Saya niat puasa sunah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta'ala."
2. Puasa Tarwiyah
Puasa Tarwiyah dilaksanakan tanggal 8 Dzulhijjah.
Keutamaan puasa Tarwiyah adalah dihapuskan dosa tahun lalu.
Niat puasa Tarwiyah:
"Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala."
Artinya, "Saya niat puasa sunah Tarwiyah karena Allah Ta'ala."
3. Puasa Arafah
Puasa Arafah dilaksanakan tanggal 9 Dzulhijjah.
Dimana pada tanggal itu umat muslim yang tengah melaksanakan ibadah haji menunaikan wukuf di Arafah.
Umat muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji dianjurkan berpuasa Arafah.
Keutamaan puasa Arafah sangat istimewa.
Jika melaksanakan puasa Arafah maka akan dihapuskan segala dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.
Hal itu tertuang dalam hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah al-Anshari ra, "Dan Rasulullah SAW ditanya tentang berpuasa di hari Arafah. Maka, baginda bersabda, 'Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang'.” (HR Imam Muslim).
Niat puasa Arafah:
"Nawaitu shauma ghadin min yaumi arafata sunnatan lillahi ta'ala."
Artinya, "Sengaja saya berpuasa esok hari, yaitu puasa Arafah sunah karena Allah Taala."
Selain menyembelih hewan kurban, umat muslim di seluruh dunia akan melaksanakan salat Id pada tanggal 10 Dzulhijjah 1440 Hijriyah.
Berikut tata cara salat Idul Adha dikutip dari Muslim.or.id:
1. Dimulai dengan takbiratul ihram, seperti salat yang lainnya.
2. Pada rakaat pertama ditambah takbir tambahan (zawaaid) sebanyak 7 kali selain takbiratul ihram.
3. Pada rakaat kedua ditambah takbir sebanyak lima kali.
4. Dibolehkan mengangkat tangan ketika takbir tambahan sebagaimana yang dicontohkan sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.
5. Tidak ada dzikir khsusus yang dibaca diantara takbir. Namun terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan : “Di antara takbir, hendaklah memuji Allah”.
6. Setelah selesai takbir tambahan, kemudian membaca Al Fatihah dan surat pilihan
7. Dianjurkan untuk membaca suarat Qaaf pada rakaat pertama dan surat Al Qamar pada rakaat kedua. Atau bisa juga membaca surta Al A’laa dan Al Ghasiyah.
Selengkapnya simak penjelasan berikut:
1. Lafal niat salat Id pada hari raya Idul Adha:
أُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) لِلهِ تَعَــــــــالَى
Artinya: “Aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”
2. Takbiratul Ihram
Pada rakaat pertama, setelah niat kemudian takbiratul ihram, lalu dilanjutkan membaca doa iftitah, kemudian takbir lagi hingga tujuh kali.
Di antara takbir-takbir itu disunahkan membaca:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Artinya: “Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang.”
Atau baca kalimat berikut:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”
3. Surat al-Fatihah
Membaca al-Fatihah setelah takbir.
Kemudian dianjurkan membaca Surat al-Ghâsyiyah.
Setelah itu ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.
4. Takbir Lima Kali pada Rakaat Kedua
Saat posisi berdiri di rakaat kedua, takbir lagi sebanyak lima kali seraya mengangkat tangan.
Di antara takbir-takbir itu, lafalkan kembali bacaan seperti yang dijelaskan pada poin dua.
Berlanjut ke ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.
5. Anjuran setelah Salam
Setelah salam sehingga shalat Id selesai, jamaah dianjurkan tak buru-buru pulang, untuk mendengarkan khutbah Idul Adha hingga selesai.
Dilansir dari rumahfiqih.com, ada beberapa kesamaan dalam teknis pelaksanaan salat Id pada hari raya Idul Adha dan Idul Fitri, di antaranya:
- Jumlah rakaat sama-sama dua, rakaat pertama dengan 7 takbir dan rakaat kedua dengan 5 takbir.
- Bacaan di antara takbir
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
(Subhanallah wal hamdulillah wa laailaaha illallah wallahu akbar)
Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”
- Tidak didahului Adzan dan Iqamat.
- Tidak Disyariatkan Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah.
- Disunnahkan Ada Khutbah Sesudahnya.
- Dianjurkan Untuk Dihadiri Oleh Semua Kalangan (termasuk perempuan yang sedang haid dianjurkan pergi ke tempat pelaksanaan salat ied).
- Dikerjakan di waktu Dhuha.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/niat-puasa-syawal.jpg)