Harga Minyak Tengah Menguji Level US$ 50 per barel, Ini Kata Analisis
Penurunan harga minyak masih berlangsung. Bahkan, penurunan harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober 2019 di ICE Futures nyaris mendekati 5%.
TRIBUNBATAM.id - Penurunan harga minyak masih berlangsung. Bahkan, penurunan harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober 2019 di ICE Futures nyaris mendekati 5%.
Mengutip Bloomberg, pukul 08.18 WIB harga minyak brent untuk pengiriman Oktober 2019 berada di level US$ 57,50 per barel, naik 2,25% dibanding sehari sebelumnya.
Namun, bila menghitung selama sepekan, harga minyak jenis ini sudah turun 4,95%.
Sementara itu, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2019 di New York Mercantile Exchange pukul 08.20 WIB ada di US$ 52,42 per barel, naik 2,60% dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan, harga minyak jenis ini masih turun 2,83%.
Analis HFX Internasional Berjangka Ady Panghestu mengatakan, penurunan dalam pada harga minyak terjadi akibat adanya kenaikan pasokan minyak mentah AS secara tak terduga.
Dalam laporan Administrasi Informasi Energi (IEA) disampaikan bahwa jumlah persediaan minyak mentah hingga minggu (2/8) naik 2,4 juta barel, padahal sebelumnya pasar memprediksi bakal ada penurunan sebanyak 2,8 juta barel.
• Harga Emas Antam Kembali Kinclong, Naik Rp 7.000 ke level Rp 753.000 Kamis (8/8)
• Demi Jegal Trump Agar Tak Terpilih Lagi, Begini Strategi China
• Penjualan Emas Antam Tembus 15,7 ton Hingga Semester I-2019
• HP ANDROID 2019 - Spesifikasi Samsung Galaxy Note 10 dan Galaxy Note 10+, Intip Harganya
Apalagi, IEA AS awal pekan ini sempat memangkas perkiraan permintaan AS untuk bahan bakar minyak dan cairan, menjadi 210.000 barel per hari (bph) tahun ini, atau 40.000 bph lebih rendah dari perkiraan bulan lalu.
Mereka juga memangkas perkiraan untuk konsumsi minyak mentah global sebesar 0,1% untuk 2019 dan 2020.
Namun ironisnya, produksi minyak mentah AS malah naik 1,28 juta barel setiap harinya menjadi 12,27 juta barel di tahun ini.
Di sisi lain, tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, semakin memanas.
Itu terjadi sejak Washington menuduh Beijing memanipulasi mata uangnya untuk keuntungannya, setelah yuan turun pada Senin ke level terendah terhadap greenback lebih dari 10 tahun.
"Kekhawatiran permintaan minyak mentah yang lebih rendah akibat kelanjutan dari tensi perdagangan yang memanas antara AS-Tiongkok memperparah kondisi harga," kata Ady, Kamis (8/8).
Minyak mentah terus diperdagangkan lebih rendah, walaupun negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC dan partisipan dari mitra penghasil minyak berusaha untuk menekan produksi dengan alih-alih menjaga harga pasaran.
Tetapi nampaknya Amerika memiliki cara untuk mempropaganda harga minyak agar lebih rendah di bawah harga pasaran. Kondisi ini dipandang sebagai politik dagang, di mana orang akan berfokus pada negara besar yang berpengaruh seperti AS.
Sementara itu, imbas dari ketegangan perang dagang, dinilai Ady telah merestrukturisasi tatanan dan sistem perdagangan yang sudah ada, secara global dan bisa merubah peradaban etika bisnis secara sistematis.
"Hari ini (harga minyak Brent) menjajaki level support US$ 50,55 per barel, sekaligus menjadikan harga terendah yang baru dalam tujuh bulan," jelasnya.
Apalagi, harga minyak Brent diakui telah jatuh 13% lebih sejak Trump mengatakan akan menaikkan tarif impor 10% terhadap barang China dan akan berlaku pada 1 September 2019 mendatang. Akibatnya, hampir semua ekuitas global anjlok secara bersamaan.
Peran faktor teknikal saat ini pun dianggap tidak akan berpengaruh banyak untuk melihat pergerakan harga komoditas.
Ini karena, kecemasan investor terhadap perkembangan kondisi global lebih mendominasi, tercermin dari naiknya permintaan untuk aset safe-haven seperti utang pemerintah.
Ady juga menilai ketegangan geopolitik di Teluk Timur Tengah mampu mengubah tatanan harga minyak dari yang sebelumnya masih di kisaran US$ 60 per barel.
"Namun, kondisi saat ini serba tidak pasti dan sulit untuk dibaca. Hampir semua investor mencari investasi yang rendah risiko seperti surat hutang negara dan logam mulia," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrasi-harga-minyak-dunia.jpg)