Saat SD Kerap Di-bully, Angga Anak Penjual Gorengan di Boyolali Kini Raih Gelar Master di Skotlandia

Angga Fauzan, anak seorang penjual gorengan dari Cepogo, Boyolali, yang menorehkan prestasi gemilang di bidang akademik. Angga Fauzan berhasil meraih

Saat SD Kerap Di-bully, Angga Anak Penjual Gorengan di Boyolali Kini Raih Gelar Master di Skotlandia
TWITTER
Angga Fauzan, anak penjual gorengan yang raih gelar master 

"Saking seringnya baca buku di perpus, tasku sering jebol dan mesti ganti. Aku dapat penghargaan juga sebagai pengguna jasa perpustakaan terbaik di sekolah. Ada guru Bahasa Indonesia juga yang suka ngasih nilai tambahan kalau muridnya bikin resensi buku yang habis dia baca. Jadi deh makin rajin," imbuhnya.

Selesai menempuh jenjang SMP, Angga Fauzan meneruskan pendidikannya di SMA 3 Boyolali.

Bukan tanpa usaha keras, Angga Fauzan bisa sekolah di SMA favorit di Boyolali tersebut.

Untuk sekolah di SMA 3 Boyolali, Angga Fauzan harus mendaftar secara diam-diam.

Pasalnya, keluarga besarnya tidak menyetujui Angga sekolah di SMA 3 Boyolali.

Mereka lebih sepakat Angga Fauzan sekolah di SMK agar setelah lulus bisa langsung kerja.

Namun, ayah Angga Fauzan tak tega hati. Angga-pun diizinkan sekolah di SMA 3 Boyolali.

"Sampai akhirnya aku bilang pas aku udah keterima peringkat dua dari bawah. Ya mau gak mau mengandalkan keajaiban buat bayar uang pangkal. Aku nunggu bapak di sekolah yang lagi nyari pinjeman di bank tanpa bisa kasih jaminan, sampai menit-menit terakhir penutupan daftar ulang," kata Angga Fauzan.

Kemampuan Angga Fauzan semakin terasah di SMA 3 Boyolali. Ia mendapat banyak teman dari berbagai kalangan.

Saat duduk di kelas 3 SMA, ia berkeinginan untuk mengambil jurusan Seni Rupa di Universitas Sebelas Maret (UNS).

Namun keinginan itu ia pupuskan karena nasihat dari salah satu gurunya.

"Nah pas kelas tiga SMA, aku kepikir untuk masuk UNS ambil Seni Rupa. Alesannya karena sering ke sana buat lomba. Terus ada guru aku, Pak Eko, yang tanya mau kuliah ke mana, terus dia bilang, 'hidup itu gak cuma di Jawa Tengah, coba keluar, cari yang terbaik, biar jauh berkembang.'," ungkap Angga Fauzan menirukan ucapan gurunya.

Sempat tak diterima di ITB

Angga Fauzan kemudian memutuskan untuk masuk ke ITB lewat jalur undangan.

Namun nasib berkata lain, Angga Fauzan tak diterima di kampus favorit tersebut.

Tak patah arang, sekali lagi Angga Fauzan mencoba peruntungannya di ITB.

Dan di kali kedua usahanya, Angga Fauzan berhasil lolos ke ITB.

"Jadi aku gak pernah dikasih uang bulanan sama orangtua. Adanya uang semesteran tiap pulang kampung, sekitar 400-700 ribu hasil utang entah dari mana. Sisanya ngandelin beasiswa yang turun sekenanya. Seringkali aku kalau malam kelaperan karena gak punya duit buat makan. Apalagi FSRD tuh boros banget."

"Dulu juga pernah ada tetangga ngasih sedekah 1,5 juta, ku beliin laptop bekas yang ku pakai sampe tingkat tiga kuliah. Yang kalau dipakai, suaranya berisik, layarnya kadang biru, entah beberapa kali sering masuk servis. Sampai akhirnya bisa beli laptop sendiri hasil tabungan dan kerja ngajar privat," kata Angga Fauzan.

Setelah dari ITB, Angga kepikiran untuk masuk ke Oxford University.

Namun di akhir eksekusinya, ia justru memilih Edinburgh.

Perjalanannya ke Edinburgh dapat dibilang tak mulus.

Ia pernah gagal di uji coba pertama. Namun ui atak menyerah dan mencoba lagi.

Akhirnya Angga berhasil lolos dan kuliah di tempat yang diinginkannya.

Setelah lulus dari ITB, Angga Fauzan yang sudah memiliki penghasilan meminta ibunya untuk berhenti jualan gorengan.

Ia juga juga merenovasi rumahnya yang dulu bekas kandang kambing.

Sekarang orangtua Angga Fauzan mengurus usaha kerajinan di rumahnya, Cepogo, Boyolali.

Artikel ini telah tayang di Tribunsolo.com dengan judul Angga Anak Penjual Gorengan di Boyolali Kerap Di-bully saat SD, Kini Raih Gelar Master di Skotlandia

Editor: Zabur Anjasfianto
Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved