Sudah Kemahalan Beli Emas, Inilah Sejumlah Instrumen Pilihan Lainnya

Tren kenaikan harga emas yang masih berlanjut membuat investasi di safe haven emas semakin menarik

Sudah Kemahalan Beli Emas, Inilah Sejumlah Instrumen Pilihan Lainnya
kontan
ILUSTRASI telur emas 

TRIBUNBATAM.id - Tren kenaikan harga emas yang masih berlanjut membuat investasi di safe haven emas semakin menarik di tengah banyaknya sentimen yang beredar di pasar keuangan global.

Asal tahu saja, selain emas ada beberapa aset lainnya yang dianggap pasar sebagai safe haven atau aset imbal hasil dengan risiko rendah yakni currency seperti yen dan dolar AS, serta obligasi milik pemerintah.

Penasihat keuangan Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan, meskipun banyak pilihan safe haven di pasar keuangan, namun yang masih cukup menarik saat ini adalah emas. Harapannya, hingga akhir tahun ada peluang bagi harga emas untuk tumbuh hingga 12%.

"Biasanya kalai kondisi tidak menentu, emas jadi pilihan nomor 1, kemudian ke produk-produk obligasi pemerintah dan ketiga baru ke perbankan seperti ke deposito atau tabungan untuk jaga cash," jelas Eko kepada Kontan.co.id, Jumat (9/8).

Menurutnya, untuk jangka panjang tren harga emas masih akan meningkat. Namun bagi mereka yang baru akan masuk, sebaiknya ditahan terlebih dulu lantaran harga sudah terlalu mahal.

Harga emas Antam Senin (12/8) Tercatat Naik ke Rp 749.000

Ini 7 Macam Aksesori Resmi Yamaha Lexi dan Segini Harganya

TABLET ANDROID 2019 - Inilah Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy Tab S5e

Ramalan Zodiak Besok Selasa 13 Agustus 2019, Scorpio Jatuh Cinta, Aquarius Ada Bonus Menanti

 

Di sisi lain, investor juga bisa melirik aset-aset yang sudah terdiskon banyak seperti saham atau reksadana saham untuk investasi jangka panjang. Adapun sektor yang bisa dilirik seperti saham milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor konsumsi dan konstruksi.

"Jadi, kalau mau investasi jangka panjang untuk 5-10 tahun, sekarang jadi kesempatannya biar dapat harga diskon," tambahnya.

Adapun tips bagi investor yang memiliki tipe konservatif, bisa mengalokasikan 10% dananya untuk cash, 50% untuk investasi jangka menengah seperti obligasi dan sisanya bisa dialirkan ke investasi jangka panjang seperti emas.

Sedangkan yang memiliki tipe moderat, disarankan untuk mengalokasikan 10% dananya untuk cash, 45% untuk investasi jangka menengah dan 45% untuk jangka panjang. Terakhir untuk investor yang memiliki tipe agresif, 10% dialokasikan untuk cash, 30% untuk investasi jangka menengah dan 60% untuk investasi jangka panjang seperti emas dan reksadana saham.

"Kalau untuk currency bukan aset yang berbentuk fisik, nilainya juga sangat bergantung pada negara penerbit. Jadi kami lebih memilih emas," pungkas Eko.

Editor: Rio Batubara
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved