Kapolri Tito Karnavian Cecar Habis-habisan Irjen Pol Boy Rafli Amar dengan 5 Pertanyaan Tajam

Di sidang, Kapolri Tito Karnavian Cecar Habis-habisan Irjen Pol Boy Rafli Amar dengan 5 Pertanyaan Tajam

Kapolri Tito Karnavian Cecar Habis-habisan Irjen Pol Boy Rafli Amar dengan 5 Pertanyaan Tajam
ANTARA FOTO/Indrianto Suwarso
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian didampingi Asops Irjen Pol Martuani Sormin 

Manajemen media merupakan upaya Polri dalam mengelola opini publik untuk menciptakan kepercayaan publik pada institusi Polri dan sebagai jalan untuk mempercepat aktualisasi promoter.

Manajemen media Polri ini dinilai penting di tengah kepercayaan publik pada Polri yang sempat menurun.

Salah satunya, survei Transparansi Internasional Indonesia (TPI) menempatkan Polri sebagai lembaga terkorup bersama DPR RI pada 2014.

Kemudian Litbang Survey Kompas pada 2014 yang menyebutkan tingkat kepuasan punlik pada Polri hanya 46,7 persen.

"Penelitian ini memberikan saran kepada Polri untuk menjadikan setiap anggota menjadi agen kehumasan dalam proses interaksi polisi dan masyarakat.

Kemudian, dapat berperan menjadi news maker dalam menampilkan kinerja positif di mata publik yang didukung dengan semangat profesionalisme dan bersikap simpatik serta humanis," ujar dia.

Selain itu, menurutnya, Polri harus mendorong prakarsa publik menciptakan etintas kecerdasan melalui budaya literasi, pos gagasan.

"Setiap anggota diharapkan memiliki kemampuan untuk orasi, menyusun narasi dan artikulasi agar dapat mencegah berkembangnya cara berpikir sesat (logical fallacy) di masyarakat. Serta mengajak masyarakat untuk disiplin berpikir benar dan pro logika," katanya.

Penelitiannya juga berkesimpulan agar Polri bisa mewujudkan polisi yang humanis dalam memberikan perlindungan.

"Perlu adanya peningkatkan kapasitas personil di bidang cyber public relations. Oleh karena itu Institusi Polri perlu membangun sarana pendidikan dan latihan kehumasan berbasis penggunaan teknologi," ujar Boy.

Setelah jawaban-jawaban Boy, Tito pun menanggapi sekaligus menguliti disertasi Boy.

"Tadi saya lihat ada pertanyaan kalau seandainya peneliti meneliti lingkungan sendiri. Kami kira jawaban yang paling pas kita menggunakan data. Dalam collecting data ada sumber informasi baik wawancara maupun second resources, untuk menghindari dosa besar dalam dunia akademik selain plagiat," ujar Kapolri.

Dalam disertasi ini, daerah penelitiannya fokus di Polri.

Kata Tito, penelitian seperti yang diajukan Boy‎ memiliki keuntungan sendiri.

"Saya sampaikan apresiasi ke Pak Boy telah selesaikan disertasinya, saya sudah baca. Saya kira cukup banyak referensi dan sudah ada sejumlah kerangka teorinya. Delapan konsep dan kemudian menggunakan metodologi berpijak kepada kualitatif dibanding kuantitatif. Kemudian saya juga apresiasi pemilihan tema tentang manajemen media terutama berhubungan dengan Polri. Namun mungkin tidak ada salahnya menyampaikan pendapat tentang disertasi," ujar Tito.

Tito kemudian menyampaikan sejumlah kritikan terhadap disertasi Boy Rafli dengan bermula menyampaikan tentang disertasi itu sendiri.

Kata Tito, dsertasi berisi dua hal, disertasi di samping harus menuruti norma ke-akademikan, dan kedua substansi yang tidak lain tema masalahnya.

Salah satu penguji sempat menanyakan apa teori baru yang diulas dalam disertasi Boy Rafli Amar.

Menurut Tito, flow disertasi harus dimulai dari problem. Tidak ada penelitian tanpa persoalan

"Jadi yang tertulis dalam ini apa problemnya. Saya melihat dalam tulisan ini, seyogyanya problem could be. Seyogyanya hanya 1 pertanyaan pokok dan di breakdown pada persoalan. Kedua yang lain, menentukan persoalan memberikan hipotesis jawaban sementara atas pertanyaan. Sayangnya setelah kami baca tidak ada hipotesis," ujar Tito.

‎Kemudian Tito mengomentari bagian akhir disertasi.

"Di bagian akhir muncul saran praktis tapi tidk bertemu hal spesifik untuk seorang dokter. Disertasi S3 isinya sudah harus men-challange teori.

Men-challange itu menemukan teori baru atau paling mudah varian baru.

Kedua mematahkan teori yang ada atau ketiga menemukan teori baru.

Di bagian solusi kisaran praktis tapi tidak teoritis akademis. Apakah ini varian baru teori baru atau mematahkan teori atau menemukan teori baru. Kalau menemukan teori baru excellent.

Kalau mau ditanggapi boleh kalau tidak juga tidak apa-apa," ujar Tito yang disambut tepuk tangan oleh para tamu.

Tito kemudian mengulas soal manajemen media.

Kata Tito, manajemen media disampaikan karena perlu adanya upaya membangun opini publik untuk mendapatkan public support.

"Dukungan publik legitimiasi publik restu publik ini hal penting untuk negara di era demokrasi. Karena itu kekuasaan rakyat. Pemerintah atau rakyat yang ingin survive perlu mendapatkan dukungan publik," ujarnya.

Setelah menguliti isi disertai mantan Kadiv Humas Mabes Polri itu, Tito kemudian mengajukan lima pertanyaan.

"Jadi saat ini jika kita didukung publik, menganggap public support menjadi kritikal bagi polri untuk survive, menurut provendus kita menghadapi demokrasi liberal mana atau pancasila karena beda.

Ini akan menentukan public support kita harus all out atau tidak," ujar Tito.

Dalam sidang disertasi ini, hadir Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriady, Kadiv Humas Polri M Iqbal hingga Kapolri era 2010-2013, Jenderal (Purn) Timur Pradopo.

Sementara penguji selain Tito Karnavian, yakni :

1. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos.,SH.,M.Si.
2. Dr. Dadang Sugiana, M.Si. 
3. Prof. Deddy Mulyana, MA.,Ph.D. 
4. Dr. Edwin Rizal, M.Si. 
5. Dr. Atwar Bajari, M.Si. 
6. Dr. Ninis Agustini Damayani, M.Lib. 
7. Dr. Siti Karlinah, M.Si. 
8. Jendral Pol. Prof. H.M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D 
9. Prof.Dr.Ir. Mahfud Arifin, M.S.‎ (men)

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Saat Kapolri Tito Karnavian Cecar Habis-habisan Irjen Pol Boy Rafli Amar dengan 5 Pertanyaan Menohok

Editor: Aminnudin
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved