Dunia Terancam Resesi, Harga Emas Malah Semakin Kinclong

Turki sudah jatuh ke dalam resesi lantaran perekonomiannya turun dua kuartal berturut-turut. Argentina juga telah mengalami krisis ekonomi.

Dunia Terancam Resesi, Harga Emas Malah Semakin Kinclong
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Pengunjung membeli emas batangan di Butik Emas Logam Mulia Antam, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung, Jumat (7/9/2018). 

TRIBUNBATAM.id - Kekhawatiran resesi global meluas. Turki sudah jatuh ke dalam resesi lantaran perekonomiannya turun dua kuartal berturut-turut. Argentina juga telah mengalami krisis ekonomi.

Investor pun jeri sehingga cenderung melakukan risk aversion. Indeks Fear & Greed, per pukul 22.13 WIB kemarin, bertengger di level 30. Ini menunjukkan investor berada di posisi fear. Tak heran, pelaku pasar menyerbu safe haven. Salah satunya emas.

Kemarin, harga emas kontrak pengiriman Desember 2019 di Commodity Exchange mencapai US$ 1.556.20 per ons troi. Ini adalah harga tertinggi emas paling tidak sejak 2014 silam. Sepanjang tahun ini, harga emas naik 18,57%.

Turki dan Argentina sama-sama belum terlihat bisa keluar dari krisis ekonomi dalam waktu dekat. Krisis keuangan yang melanda Argentina juga membuat pemerintahnya menunda pembayaran utang sebesar US$ 100 miliar. Kini Standard & Poor's (S&P) sudah memasukkan utang tersebut dalam kategori berpeluang gagal bayar.

Resesi pun mulai mengintip AS. Ini terlihat dari data indeks manufaktur Negeri Paman Sam yang dirilis Institute for Supply Management (ISM). Indeks manufaktur berada di level 49,1 pada Agustus lalu. Posisi ini lebih rendah ketimbang konsensus analis yang sebesar 51,2. Selain itu, level di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Dengan kondisi global yang saat ini terjadi, Direktur Garuda Berjangka Ibrahim melihat harga emas berpeluang menembus US$ 1.600 per ons troi.

Perang dagang antara AS dan China yang belum kelar menambah pesona si kuning. "Karena itu, pelaku pasar saat ini ramai-ramai masuk ke aset safe haven seperti emas," kata dia, kemarin.

Potensi koreksi harga emas

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar menyebut, harga emas bisa terus meroket jika dalam pertemuan FOMC bulan ini The Fed kembali memangkas suku bunga acuan.

Mengutip Bloomberg, analis BNP Paribas SA Harry Tchilinguirian melihat harga emas berpeluang bergerak ke atas US$ 1.600 per ons troi. Sebab, permintaan terhadap aset lindung nilai melonjak.

Halaman
12
Editor: Rio Batubara
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved