Aktivitas Reklamasi di Teluk Tering, Ganggu Alur Pelayaran Internasional di Pelabuhan Batam Center

Aktivitas reklamasi hampir mengancam alur pelayaran internasional di Pelabuhan Internasional Batam Center, beberapa waktu lalu. Truk pengangkut tanah

Aktivitas Reklamasi di Teluk Tering, Ganggu Alur Pelayaran Internasional di Pelabuhan Batam Center
Istimewa
Penyegelan alat berat di lokasi reklamasi di Batam 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Aktivitas reklamasi hampir mengancam alur pelayaran internasional di Pelabuhan Internasional Batam Center, beberapa waktu lalu. Truk pengangkut tanah lalu lalang.

Mengangkut tanah entah darimana dan menimbunnya ke laut.

Posisi reklamasi ini ada di sebelah kanan pelabuhan. Tak jauh dari tempat kapal-kapal bersandar. Pohon-pohon bakau yang semula ada, berganti menjadi tanah timbun.

"Dulu memang terjadi aktivitas reklamasi di sini. Kita tak tahu dari perusahaan mana, mau dibuat apa. Tapi kalau kita lihat hari ini, sisa reklamasi itu masih ada," kata Manager Operasional PT Synergy Tharada, Nika Astaga, Selasa (10/9) di Pelabuhan Internasional Batam Center.

Aksi Walk Out Suporter Warnai Laga Timnas Indonesia vs Thailand, Teriakan Simon Out

Padahal, katanya, di undang-undang terkait navigasi, sudah diatur. Jarak 500 meter dari rambu pelayaran, mesti tidak ada bangunan. Karena masuk daerah terlarang. Nyatanya, ada aktivitas reklamasi di sekitar perairan itu.

"Kalau ditanya ancamannya bagi pelayaran, sudah pasti mengancam. Karena itu tanah timbun dan ada alur internasional. Ini berdampak ke internasional," ujar pria yang pernah berprofesi sebagai polisi ini.

Diketahui, pelabuhan internasional Batam Center sendiri, termasuk salah satu pintu gerbang wisatawan mancanegara datang ke Batam, Kepri, Indonesia. Karena itu, Nika pun prihatin.

Kebakaran Hutan Toapaya Dekat Kawasan Lokalisasi, Polsek Gunung Kijang Selidiki Unsur Kesengajaan

"Kita sudah surati pemerintah, kanpel, kemana-mana sudah kita surati. Termasuk BP Batam. Kita lampirkan juga undang-undangnya," kata Nika.

Iapun menegaskan, kawasan yang direklamasi itu termasuk dalam wilayah Teluk Tering. Nika melanjutkan, untuk alur pelayaran, ancamannya memang tidak terlalu signifikan. Penebalannya ada, hanya saja pelayaran tetap bisa melewati alur itu.

Namun dampak lainnya cukup mengganggu. Terutama debu akibat tertiup angin. Selain itu, sebagian air laut berubah menjadi warna kuning saat proses reklamasi masih berjalan.

Kemenhub Bakal Rekrut Pegawai Kontrak Baru, Penempatan di Bandara Tambelan, Ini Bidang Yang Dicari

"Ini kan termasuk pintu gerbang. Orang luar lihat, airnya kuning, dinding pelabuhan kena debu. Ibaratnya, orang mau bertamu ke rumah kita, tapi rumah jorok, begitulah," ujarnya.

Ia melanjutkan, lebih kurang 5 bulan ini, aktivitas reklamasi di kawasan itu memang berhenti. Apalagi semenjak kasus hukum yang menyeret Gubernur Kepri non aktif Nurdin Basirun. Hanya saja, masih ada kekhawatiran dari pihaknya suatu waktu aktivitas itu berjalan lagi. Lantaran, reklamasi itu belum ditutup.

"Kita minta itu diselesaikan. Kalau memang tak lanjut, ya dinormalkan kembali ke fungsi hutan bakau," harap Nika. (wie)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Eko Setiawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved