BJ Habibie Meninggal

Mimpi BJ Habibie Untuk Batam, Ingin Batam Jadi Pusat Industri Dirgantara

Momen ini dimanfaatkan mantan Kepala Otorita Batam (OB) itu, menegaskan kembali mimpi awalnya. Eyang ingin membangun industri dirgantara di Batam.

Mimpi BJ Habibie Untuk Batam, Ingin Batam Jadi Pusat Industri Dirgantara
TRIBUNBATAM.id/ARGIANTO
BJ Habibie Presiden RI ke-3 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - April lalu, Presiden RI ke-3, BJ Habibie datang ke Batam. Ia sempat berkunjung ke beberapa tempat di Batam.

Momen ini dimanfaatkan mantan Kepala Otorita Batam (OB) itu, menegaskan kembali mimpi awalnya. Eyang ingin membangun industri dirgantara di Batam. Batam akan dijadikan pusat produksi pesawat terbang, sehingga dapat menjadi penghubung untuk seluruh wilayah di Indonesia.

Saat pertama kali datang ke Batam, Bapak Pembangunan Batam ini sudah menyampaikan niatannya kepada Perdana Menteri Singapura saat itu, Lee Kuan Yew. Ia ingin menjadikan Batam sebagai pusat industri dirgantara. Hal ini dipertegasnya saat datang lagi ke Batam.

BJ Habibie Banyak Berikan Kenangan di Batam, Pegawai BP Batam Merasa Kehilangan Orang Hebat

"Saya datang kemari (Batam) bukan hanya untuk Pollux. Saya sudah putuskan untuk industri dirgantara pusatnya akan ada di Batam," kata Habibie, Senin (29/4).

Untuk memproduksi pesawat terbang ini, Indonesia bisa bekerjasama dengan Singapura, atau Malaysia. Atau siapa saja sesuai kemampuannya.

"Kita sudah buktikan. Kita mampu membuatnya. Kita sudah kembangkan tiga pesawat terbang. Saya mau pindahkan kemari (Batam), dan semuanya high-tech," ujarnya.

Dikatakan, dalam pembuatan pesawat terbang, 40 persen bahan bakunya diproduksi Boeing, sedangkan 60 persennya diproduksi supplier.

Jembatan Barelang, Ikonik Kota Batam yang Dibangun di Era Kepemimpinan BJ Habibie

"Tapi vendor companies harus bersaing. Dia akan datang sedekat mungkin di tempat yang nyaman, ada prasarana, ekonomi yang baik, ada sistem yang baik, peraturan yang baik, transparan dan seterusnya," kata Habibie.

Mengapa pesawat terbang?

Habibie menegaskan, dalam pembangunan dan pengembangan produk-produk di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, infrastruktur menjadi hal penting.

"Kita tidak mungkin buat kereta api dari Sabang sampai Merauke. Karena 70 persen wilayah Indonesia lautan," ujarnya.

Tidak juga hanya bisa mengandalkan kapal laut. Karena hanya sampai pantai. Jalan satu-satunya, harus membuat pesawat terbang. Sementara jika mengimpor pesawat terbang dari luar negeri apalagi dalam jumlah besar, memakan biaya yang tinggi.

"Kita tak bisa impor pesawat terbang. Bagaimana bayarnya? Tak bisa dalam Rupiah. Kita harus bayar dengan valuta yang dikehendaki," kata Habibie. (wie)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Eko Setiawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved