Kamis, 11 Juni 2026

HEADLINE TRIBUNBATAM

Batam Markas Cyber Crime Asia, Pakai Seragam Polisi China saat Beraksi

Banyak yang tidak tahu, 47 orang warga negara asing (WNA) asal Tiongkok (China) dan Taiwan ini melakukan aksi kejahatan di Batam.

Tayang:
TRIBUNBATAM.ID/MADI DWINANDO
HEADLINE TRIBUN BATAM, SABTU 21 SEPTEMBER 2019 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Banyak yang tidak tahu, 47 orang warga negara asing (WNA) asal Tiongkok (China) dan Taiwan ini melakukan aksi kejahatan di Batam.

Sebanyak 47 WNA, 3 di antaranya perempuan ini, sudah dua bulan terakhir beraksi melakukan kejahatan siber (cyber crime) di sebuah ruko di Batam Centre.

Rapinya cara mereka beraksi, membuat sekuriti ruko di Komplek Grand Orchid Batam Centre itu, tidak menyadari puluhan orang asal Tiongkok itu beraksi di dalam ruko.

Namun, setelah dua bulan, aksi pelaku kejahatan siber ini tercium juga oleh aparat keamanan dari kepolisian. Kerjasama Satintelkam Polresta Barelang dan Satreskrim

Polresta Barelang berhasil mengungkap aksi mereka dan meringkusnya. Puluhan WNA diamankan unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Barelang, Rabu (18/9/2019).

Kepala Kantor Imigrasi kelas 1 khusus Batam, Agung Lucky mengatakan, kejahatan siber yang dilakukan puluhan WNA sulit mereka deteksi karena tidak punya alat untuk memantaunya.

“Itu kejahatan siber, kami tidak punya alat untuk mengetahui itu. Yang punya alat untuk mengetahui itu hanya Polri,” ucap Agung, Rabu (18/9) lalu.

Tak Ada WNI Dirugikan, Ternyata 47 WNA Penjahat Siber Bermarkas di Batam Buronan Interpol

Pekerjakan 47 Penipu, Cj Harus Keluarkan Rp 100 Juta Perbulan Untuk WNA

“Mereka ini merupakan subjek bebas visa. Masuk ke Batam itu kan alasannya bermacam macam,” lanjutnya.

Agung mengungkapkan saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan polisi untuk memeriksa paspor puluhan WNA itu. “Kita akan tindak nantinya, bisa kena undang-undang Imigrasi dan undang-undang siber,” kata Agung.

Dalam ekspose perkara yang digelar di Mapolresta Barelang, Jumat (20/9), Kapolresta Barelang AKBP Prasetyo Rachmat Purboyo mengatakan, para pelaku melakukan kejahatan siber di Indonesia dengan leluasa, karena jauh dengan lokasi korban yang menjadi target mereka.

Kapolresta Barelang AKBP Prasetyo Rahmad Purboyo mengatakan, aktor intelektual pelaku penipuan online ini berada di Taiwan. "Ya, aktor intelektualnya ada di Taiwan," katanya.

Berdasarkan keterangan mereka, puluhan WNA melakukan kejahatan siber berupa penipuan dan pemerasan melalui telepon dengan target korban di China dan Taiwan.

“Mereka menggunakan teknologi internet alias siber untuk menipu warga negaranya yang ada di China dam Taiwan,” ujar Kapolres.

Modus yang mereka lakukan adalah menelepon korban untuk menyampaikan saudara korban ditangkap polisi China atau Taiwan (tergantung lokasi korban). Pelaku kemudian video call dengan mengenakan seragam polisi China atau Taiwan untuk meyakinkan korban.

Setelah korban yakin, mereka ditelepon polisi, barulah kemudian melanjutkan aksi dengan meminta uang dan segera melakukan transfer. Jika tidak, maka kasus saudara korban akan diproses dan dipenjara.

Menurut Kapolresta Barelang, para pelaku berkasi dengan cara yang sangat rapi.

"Aksi mereka sangat rapi. Ada pelatihan juga. Masing-masing mempunyai peran. Ada yang memberikan no HP, ada yang menerima transferan dari korban, ada yang menelepon dan ada juga yang ngomong langsung pakai video call," sebutnya.

Dalam kasus ini polisi menetapkan satu orang tersangka bernama Cj alias CH. Cj adalah orang yang mengendalikan semua pelaku, yang menyuruh dan memberikan pelatihan, termasuk membiayai mereka selama di Batam.

Tersangka juga menjanjikan bayaran kepada pelaku jika mereka sukses melakukan aksinya. Namun, berdasarkan pengakuan pelaku,mereka belum mendapat bayaran dari tersangka.

"Katanya belum dapat bayaran. Cuma mereka diberi fasilitas tempat tinggal dan alat-alat untuk bekerja," katanya.

Polisi menggunakan penerjemah saat melakukan pemeriksaan dengan tersangka, karena tidak satu pun dari mereka yang diamankan bisa berbahasa Indonesia atau pun bahasa Inggris.

Dari hasil pemeriksaan sementara diketahui, Indonesia menjadi tempat melakukan kejahatan agar mereka leluasa bertindak karena jauh dari lokasi negara mereka.

Apalagi, sasaran mereka (korban) adalah orang-orang negara asal mereka sendiri (China dan Taiwan).

"Mereka menggunakan akses internet, dan sarana penipuan menggunakan nomor dari negara mereka semua. Tentunya susah untuk dilacak," kata Pras.

Pelaku merupakan jaringan internasional yang menjadi buronan Interpol, menurut Prasetyo Polresta Barelang tentunya akan melakukan koordinasi dengan Interpol.

"Kalau memang mereka jaringan internasional, kita akan berkoordinasi dengan interpol," katanya.

Kepala Seksi Penindakan Imigrasi Kelas I TPI Khusus Batam Riang Satiawan mengatakan, karena sudah pernah melakukan kejahatan di negara asalnya, puluhan WNA ini menjadi buronan Interpol.

"Jadi kejahatan mereka dilakukan di negara asalnya. Untuk kejahatan yang dilakukan disini sejauh amatan kami belum ada. Kami melakukan koordinasi dengan polisi karena yang berhak memeriksa itu polisi," katanya.

Terkait kasus ini, Taiwan mengirim seorang anggota kepolisian dan Konsulat ke Batam.

"Mereka datang berkat kerja sama kami dan Imigrasi. Ini kan warga mereka, makanya mereka datang ke sini," kata Kasat Reskrim Polresta Barelang AKP Andri Kurniawan.

Kepala Seksi Penindakan Imigrasi Kelas I TPI Khusus Batam Riang Satiawan mengatakan, 47 pelaku kejahatan siber itu kemungkinan dideportasi ke negara asal mereka, Taiwan dan China.

"Kami bersama kepolisian akan membicarakan dulu. Apakah ada pasal yang menjerat mereka atau bagaimana. Jika tak ada ya dideportasi," katanya.

Riang mengatakan, 47 WNA itu hanya melakukan kejahatan di negara mereka. Sementara di Indonesia sejauh ini belum ada.

"Mereka melakukan kejahatan di negara masing-masing. Atas kerja sama interpol dan di sini mereka ditangkap. Kalau untuk kejahatan yang dilakukan di sini, sejauh amatan kami belum ada," kata Riang. (koe/leo/brt/bob)

Tak Ada Yang Tahu Mereka dalam Ruko

MODUS puluhan Warga Negara Asing (WNA) yang berhasil diamankan Satreskrim Polresta Barelang akhirnya terungkap setalah Polresta Barelang menggelar konferensi pers, Jumat (20/9).

Kapolresta Barelang, AKBP Prasetyo Rahmad Purboyo menerangkan bahwa aktivitas puluhan WNA tersebut merupakan kejahatan penipuan dan pemerasan.

“Mereka menggunakan teknologi internet alias siber untuk menipu warga negaranya yang ada di China dam Taiwan,” ujar Kapolresta.

Hanya saja, kata Prasetyo, para pelaku hanya menjadikan Batam sebagai tempat mengendalikan aktivitas kejahatan siber yang mereka lakukan itu.

Dalam melancarkan aslinya, mereka berpura pura sebagai petugas polisi China, kemudian mereka mencari korban dengan menghubungi korban yang menjadi target sasaran.

Dengan alasan ada keluarga mereka yang sedang dalam masalah hukum. Mereka kemudian minta uang lewat transferan agar kasus tidak dilanjutkan atau dipenjara.

Saat konferensi pers di Mapolresta Barelang, ke 47 pelaku tampak tak kuasa menahan malu.Itu terlihat dari upaya mereka menutup muka dengan tangannya selama ekspose berlangsung, termasuk tiga perempuan.

Tertutup

Saat beraksi di ruko Komplek Grand Orchid Nomor 12 A, berbagai cara dilakukan agar aktifitas tidak diketahui. Mereka mampu mengelabuhi orang di lingkungan komplek ruko itu, termasuk petugas sekuriti yang sehari-hari berjaga.

Tidak tahu siapa dalang dibalik hal tersebut. Namun petugas sekuriti mengakui kaget atas ruko yang tidak pernah ada aktivitas itu.

Pantauan Tribun ruko tiga lantai berwarna kuning itu tampak dipasangi CCTV dibeberapa sudut.

Untuk dapat masuk ke dalam ruko itu, ada tiga pintu. Pintu pertama dari depan ruko, dan pintu Kedua lewat belakang ruko serta ketiga lewat samping ruko yang menyatu dengan ruko sebelah yang merupakan pemiliknya.

Pintu samping itu tampang ditutup dengan triplek. Hal itu terungkap setelah polisi berhasil menjebolnya. Tidak hanya itu, satu unit ruko itu dipasangi 10 unit mesin pendingin ruangan atau AC.

Petugas sekuriti Komplek ruko grand orchid, Nuril mengaku heran sekaligus misterius dengan puluhan orang asing itu.

“Di sini saya jadi sekuriti sudah bertahun-tahun, bolak balik patroli pagi, siang dan malam namun sama sekali tidak pernah ada aktivitas di ruko itu,” ujarnya.

“Saya nggak tahu mereka masuk lewat mana. Sebab, pintu ruko ini tidak pernah buka sama sekali. Bahkan berdasarkan pengakuan pemilik ruko pun tidak mengetahui aktivitas mereka,” jelas Nuril

“Ternyata di dalam ruko itu lengkap semua, mulai dari peralatan mandi, makan dan tidur sudah seperti kamar hotel di dalam,” katanya. (brt/bob/leo/koe)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved