ANAMBAS TERKINI

Kesulitan Akses Air Bersih, Warga Tarempa Terpaksa Menggali Sumur

Masyarakat Tarempa, Kecamatan Siantan, Kepulauan Anambas terpaksa menggali sumur karena kesulitan mendapatkan air bersih.

Kesulitan Akses Air Bersih, Warga Tarempa Terpaksa Menggali Sumur
TRIBUNBATAM.ID/RAHMA TIKA
Warga sedang mengantri menampung air di depan Taman Bermadah, Jalan Imam Bonjol, Tarempa, Selasa (24/9/2019). 

Persoalan Sulitnya Air Tak Kunjung Usai, Warga Terpaksa Menggali Sumur

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Kesulitan air yang dirasakan masyarakat Tarempa, Kecamatan Siantan, Kepulauan Anambas hingga kini tak kunjung usai.

Pasalnya masih banyak masyarakat yang harus menampung air saat malam hari, dan ada juga beberapa masyarakat yang membeli air untuk kebutuhan mandi dan masak.

Beberapa individu berinisiatif membuat sumur, yang nantinya akan dialiri ke rumah warga. Emi warga Tanjung secara pribadi akan membuat sumur yang dibantu oleh 4 warga lainnya, guna untuk mendistribusikan air ini kepada warga yang membutuhkan air.

"Kami sedang buat sumur dekat kampung melayu, ini kami buat karna melihat air yang semakin sulit didapat, nanti air ini kalau sudah jalan, siapa saja bisa ambil," ujar Emi pada tribunbatam.id Selasa (24/9/2019).

Nantinya jika sumur telah siap dan sudah bisa dipakai, akan dibuat tangki untuk mengisi air. Sehingga warga yang kesulitan air bisa mengambil air tersebut.

"Sumur yang kami buat ni memang kami buat untuk kami pakai sendiri dan untuk warga yang membutuhkan air, ini tak kami jual airnya, siap saja bisa ambil nanti," ucapnya.

Setelah sumur sudah siap, Emi sangat berharap semoga mata air di mana sumur berada tidak kering. Sebab memang sulit mencari lokasi sumur yang ada sumber mata airnya.

Hasnidar Wanita Pertama yang Jadi Ketua DPRD Kabupaten Anambas

Pemkab Anambas Gandeng Premier Oil Gelar Festival Pesona Seni Dan Budaya Melayu

Selama dua bulan belakangan Emi mengaku selalu membeli air, setiap 4-5 hari sekali ia akan memesan air kepada penjual air, sekali beli Emi harus merogoh kocek Rp 200 ribu untuk memperoleh 1 ton air. "Iya selama ini saya beli air, harganya 1 ton itu dua ratus ribu, paling tahan 4-5 hari, udah sama masak, nyuci, dan mandi orang rumah," ungkap Emi.

Warga yang tidak punya sumur, biasanya pada malam hari hingga subuh harus rela antri untuk mendapatkan air, sebab air yang bersumber dari gunung akan dialiri pada malam hari. 

Eddi warga Tanjung yang harus mengangkut air setiap malam, merasa terbiasa dengan rutinitas ini.

Tak hanya sedikit yang harus ia angkut, setidaknya 2-3 jerigen harus ia tampung untuk kebutuhan di rumah.

"Setiap malam emang ini lah kerja saya, air di tanjung ini agak susah ngalirnya, terpaksa saya harus nampung air kalau malam, kemarau tahun ni agak beda sama tahun lalu, dulu tak seperti ini lah susahnya, sekarang ni betul-betul payah," tutur Eddi. (tribunbatam.id/Rahma Tika)

Penulis: Rahma Tika
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved