Mbah Pani Ungkap Pengalaman 5 Hari Dikubur Hidup-hidup, Digoda Mahluk Ini Selama Dikuburan
Mbah Pani, pelaku topo pendem atau tap pendem mengungkap pengalaman mistisnya selama menjalani topo pendem.
TRIBUNBATAM.id - Mbah Pani, pelaku topo pendem atau tapa pendem mengungkap pengalaman mistisnya selama menjalani topo pendem.
Mbah Peni mengatakan, selama berada dalam kuburan ia tak henti-hetinya melakukan wirid.
Tapa pendem atau bertapa yang dilakukan Mbah Pani menyedot perhatian masyarakat.
Betapa tidak, Mbah Pani melaksanakan topo pendem dengan cara dikubur hidup-hidup selama lima hari.
Layaknya orang meninggal, Mbah Pani dikafani sebelum dikuburkan.
Topo pendem Mbah Pani dilakukan selama lima hari lima malam.
Selama melakukan topo pendem, Mbah Pani tidak makan, tidak tidur dan buang air kecil.
Saat diangkat ke atas usai menjalani topo pendem, tubuh Mbah Pani lunglai dan lemas.
Kondisi ini diduga karena Mbah Pani tidak makan dan minum selama lima hari.
Untuk mengetahui cerita Mbah Pani selama dikubur hidup-hidup, Tribun Jateng berhasil mewawancarai secara exclusive di rumahnya di Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Kepada wartawan Tribun Jateng, Mazka Hauzan Naufal menceritakan berbagai hal saat dia menjalankan topo pendem, termasuk cerita mistis yang dialaminya.
Mbah Pani menjelaskan, ritual topo pendem yang dilakukannya adalah ke-10 atau penutup.
"Sebelum-sebelumnya tiga hari tiga malam. Kalau yang penutup ini saya dipendem lima hari lima malam," ujar Mbah Pani membuka obrolan dikutip dari Tribun Jateng.com.
Mbah Pani menjelaskan, dirinya sendiri yang memasang kain kafan sebelum dikubur hidup-hidup.
Mbah Pani berbaring dengan posisi miring menghadap kiblat.
"Terus alas berbaring saya di dalam hanya blarak (daun kelapa kering)," katanya.
Bantal Gelu
Seperti layaknya orang meninggal, di dalam liang lahat juga disediakan bantal gelu (bantalan dari tanah).
Bantal gelu diletakan di kepala, pantat dan kaki.
"Itu gelu yang saya pakai dari dulu. Nanti kalau saya dipanggil Gusti Allah, saya ingin gelu ini juga yang dipakai ketika saya dikuburkan," katanya.
Saat ditanya apakah ada pantangan bagi seseorang melakukan topo pendem?
Mbah Pani menjelaskan, pantangannya tidak boleh tidur, tidak boleh makan, tidak boleh minum, tidak boleh buang air kecil, dan tidak boleh buang air besar.
"Istilahnya pati geni, mateni geni memadamkan api. Sebelum menjalani topo pendem,
selama tiga bulan saya tidak makan apa-apa selain buah-buaha," katanya.
Wirid Khusus
Mbah Pani mengatakan, selama menjalani topo pendem ia terus melakukan wirid.
Selain itu, selama dikubur Mbah Pani juga tidak lupa melaksanakan shalat lima waktu, shalat tahajud dan hajat.
"Wirid sebisa-bisanya saya, sebab saya bukan kiai. Sebisanya saya baca, entah itu Alfatihah atau lainnya.
Yang jelas saya meminta kekuatan kepada Allah SWT.
Selama dalam kuburan itu saya melaksanakan salat, bertayamum pakai tanah. Juga salat tahajud dan salat hajat. Saya lakukan semampu saya," kata Mbah Pani.
Kejadian Mistis
Mbah Pani mengaku selama menjalani topo pendem, ia mengalami hal-hal gaib.
"Biasa. Lumrah saja. Ada (makhluk) yang menggoda. Rasanya merinding-merinding, begitu saja.
Ibarat orang perang, pihak sana saya lawan, akhirnya mereka mundur," kata Mbah Pani.
Namun, Mbah Pani tidak mau berterus terang mahluk gaib apa yang menggodanya.
"Ritual saya lanjutkan, alhamdulillah kuat. Namanya orang nglakoni tentu ada perlawanan dari pihak 'sana'. Saya tak melihat tapi merasakan," katanya.
Kondisi Mbah Pani
Mbah Pani mengaku bersyukur dirinya diberi kekuatan oleh Allah dalam menjalani tirakat tapa pendem yang sudah kesepuluh kali dan merupakan penutup ini.
"Alhamdulillah saya dikuatkan lima hari lima malam.
Bisa kuat sampai diangkat, sampai sekarang.
Bisa kuat atas kekuasaan Allah," ucapnya dikutip dari TribunJateng.com
Mbah Pani juga bersyukur karena pelaksanaan ritual tapa pendem didukung Kepala Desa Bendar dan jajarannya, kepolisian, Kapolsek, Koramil, dan warga sekitar.
Mbah Pani mengaku masih sakit kepala dan kondisinya belum fit usai tuntas melaksanakan ritual tapa pendem.
Tujuan Tapa Pendem
Mbah Pani mengaku tujuannya menjalani tapa pendem ialah demi keselamatan dan kekuatan dirinya sekeluarga.
"Sementara, saya baru kuat kasih keterangan ini. Kalau ada kekeliruan ucap saya mohon maaf sebesar-besarnya. Lain hari, kalau ada kesempatan saya siap membicarakan lebih lanjut," ujar Mbah Pani.
Adik sepupu Mbah Pani, Abdul Qohar, kembali menegaskan bahwa kondisi Mbah Pani belum memungkinkan untuk berbicara banyak.
Menurutnya, kondisi Mbah Pani sehat.
Namun, kemungkinan inderanya belum kembali sempurna.
Ia masih perlu beradaptasi setelah berhari-hari dalam kegelapan di bawah tanah.
Hingga pukul 21.00 lewat, warga masih terus berdatangan ke rumah Mbah Pani.
Mereka duduk lesehan di hadapan Mbah Pani yang duduk lemah di kursi ruang tamunya.
Air Obat
Setelah berkunjung, sebagian warga tampak membawa keluar satu jeriken kecil berisi air.
Air tersebut ialah air tanah yang disedot dari tempat pertapaan Mbah Pani.
Menurut Abdul Qohar, air tersebut diyakini bisa untuk obat.
Pihak keluarga mempersilakan siapa pun untuk membawa pulang air tersebut selama belum habis.
Tapa Terakhir
Tribunjateng.com menemui Mbah Pani, beberapa saat sebelum menjalani prosesi tapa pendem.
Mbah Pani mengatakan, tapa pendem kali ini merupakan yang ke 10 atau terakhir.
Sebelumnya, dia sudah melakukan ritual yang sama sebanyak sembilan kali.
Dalam menjalani ritual tapa pendem itu, ia dikubur selama tiga hari tiga malam dalam liang di dalam rumahnya.
Dan dua kali dijalani di luar desanya yaitu di desa Ketip, tetangga desa.
Mbah Pani yang juga Ketua Ketoprak Desa Bendar, Juwana ini tampak tenang saat bertemu wartawan.
Sebelum berganti pakaian dengan kain kafan sebagaimana kain untuk orang yang akan dikubur, Mbah Pani menjawab singkat.
"Karena ini yang terakhir, nanti tidak cuma tiga hari, tapi lima hari," kata Mbah Pani di rumahnya.
Ditanya mengenai tujuan dan hal lainnya, Mbah Pani enggan memberi keterangan sebelum ritual tuntas dilaksanakan.
Lubang Pernapasan
Suyono, anak angkat Mbah Pani, mengatakan, ritual tapa pendem dilakukan Mbah Pani dengan menguburkan diri di dalam tanah yang diberi lubang untuk pernapasan.
"Topo pendem seperti ini sudah dilakukan beliau sebanyak sembilan kali. Dan hari ini adalah yang ke-10," ungkapnya.
Berdasarkan keterangan warga sekitar, terakhir kali Mbah Pani melakukan ritual ini adalah 2001 lalu.
Sebelumnya, Mbah Pani melakukan ritual ini setahun sekali, setiap bulan Suro.
Adapun ritual terakhir ini dilakukan 18 tahun berselang.
Dalam tapa pendem, Mbah Pani diperlakukan hampir sama seperti jenazah yang akan dikubur.
Ritual
Sebelum dikuburkan, Mbah Pani dipakaikan kain kafan.
Layaknya pemulasaran jenazah, disediakan bunga-bunga.
Hanya saja, tidak ada prosesi azan supaya tidak sepenuhnya seperti prosesi penguburan jenazah.
Ukuran liang kubur untuk ritual tapa pendem atau topo pendem sekitar kedalaman 3 meter, panjang 2 meter dan lebar 1,5 meter.
Di dalam liang kubur itu, sudah disediakan peti untuk tempat pertapaan.
Di dalamnya disediakan pula bantal dari tanah.
Ketika prosesi ritual mulai dilaksanakan, hanya pihak keluarga dan tokoh masyarakat setempat yang diperkenankan masuk rumah.
Pintu dikunci dari dalam.
Tribunjateng.com serta para tetangga tidak diizinkan masuk rumah.
Menurut pihak keluarga, ritual ini adalah prosesi sakral.
Dan suasana pun hening menegangkan saat Mbah Peni dikubur.
Setelah Mbah Pani dikubur, Sutoyo, Carik Bendar sekaligus tetangga Mbah Pani memberi keterangan.
"Tentang ritual ini, berdasarkan pesan Pak Pani, kejelasannya belum bisa disampaikan saat ini.
Besok kalau sudah selesai bertapa baru bisa menjelaskan sesuatu yang ada di dalam.
Tujuan ritual ini juga belum bisa disampaikan saat ini, karena dia mungkin punya rahasia.
Punya sesuatu yang kaitannya dengan ritual," katanya.
Sutoyo mengatakan, sehari-hari Supani bekerja sebagai pedagang bakso dan seniman ketoprak.
"Dia selalu di mushala. Setiap waktu salat dia yang azan. Salat lima waktu selalu di musala," ujarnya.
Sebagaimana keterangan warga, Sutoyo mengatakan, ritual topo pendem yang dilakukan Mbah Pani kali ini adalah yang kesepuluh.
Kali pertama ritual ini dilaksanakan Mbah Pani pada 1991.
Adapun ritual kesembilan dilaksanakan pada 2001.
Di antara sembilan ritual tersebut, ada dua ritual yang dilaksanakan di Desa Ketip, Kecamatan Juwana.
"Beberapa waktu setelah ritual ke-9, beliau sempat sakit stroke. Jadi ritual penutup baru bisa dilaksanakan hari ini," ujarnya.
Prosedur pelaksanaan ritual ini, menurut Sutoyo, tidak pernah berubah sejak dulu. Ada kain mori dan perlengkapan penguburan jenazah.
"Tapi tidak diazani. Karena menurut pesan dari Pak Pani, kalau azan itu ritual pelaksanaan orang meninggal dunia," paparnya.
Sutoyo mengungkapkan, bersama seluruh warga Bendar, ia berharap ritual topo pendem yang dilakoni Mbah Pani berjalan dengan lancar.
Lubang kubur itu dibuat di dalam rumahnya. Sudah beberapa kali lubang itu digunakan oleh Mbah Pani untuk menjalani topo pendem.
Meski ratusan warga ingin menyaksikan prosesi penguburan Mbah Pani, namun hanya keluarga yang diizinkan masuk rumah.
Warga lain menyaksikan dari luar rumah.
Saat digali, kondisi lubang itu berair. Namun segera disedot dikeringkan saat Mbah Pani sudah mengenakan kain kafan.
Sebagaimana proses pemakaman biasa, Mbah Pani juga dikafani dan dimasukkan ke dalam peti.
Ada pipa untuk saluran pernapasan yang menghubungkan Mbah Pani dari dalam kubur ke permukaan tanah.
Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul : Cerita Mbah Pani yang Mengaku Digoda Mahluk Ini Selama Dikubur Hidup-hidup : Merinding Begitu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/22092019_dikubur-hidup-hidup.jpg)