Diduga Terjerat Utang Bitcoin Rp 150 Triliun, Konglomerat Muda China Meninggal Dunia

Konglomerat muda ini dilaporkan tergelincir ke dalam krisis utang yang cukup besar, sekitar AS$ 10,5 miliar atau sekitar Rp 150 triliun

Diduga Terjerat Utang Bitcoin Rp 150 Triliun, Konglomerat Muda China Meninggal Dunia
Weibo
Zhang Zhenxin 

TRIBUNBATAM.ID, LONDON - Seorang taipan keuangan yang mengendalikan kerajaan bisnis yang cukup luas di China, mencakup pinjaman peer-to-peer untuk penambangan bitcoin, dilaporkan meninggal dunia di London.

Konglomerat muda ini dilaporkan tergelincir ke dalam krisis utang yang cukup besar, sekitar AS$ 10,5 miliar atau sekitar Rp 150 triliun, demikian dilansir TribunBatam.id dari South China Morning Post, Senin (7/10/2019).

Zhang (48) adalah CEO dari UCF Group dari NCF Group, meninggal di Rumah Sakit Westminster di London pada 18 September lalu, namun baru diumumkan oleh  perusahaannya dalam sebuah postingan di  m,edia sosial China, WeChat, Sabtu (5/10/2019) malam.

Zhang adalah seorang pebisnis terkenal yang menjalankan tiga perusahaan yang terdaftar di Hong Kong. Disebut meninggal karena kegagalan banyak organ terkait dengan ketergantungan alkohol, dan pankreatitis akut, kata postingan itu.

Saat Hong Kong Bertempur Lawan Demonstran, Beijing Serang Uni Eropa dan Presiden Prancis: Munafik!

HEBAT! Menkominfo Beri Sinyal Aplikasi Ruang Guru Bakal Jadi Unicorn ke-5 Indonesia

VIDEO Detik-detik Aktris Celine Ma Berdarah-darah Dipukuli Demonstran Hong Kong yang Makin Brutal

Mengingat perusahaan sedang melalui periode waktu khusus, tim manajemen inti telah menyampaikan prinsip kehati-hatian dan tidak menjelaskan secara rinci terkait Zhang. 

Perusahaan itu tidak mengungkapkan secara rinci penyebab kematiannya.

"Periode waktu khusus" yang disebutkan dalam postingan tersebut diduga mengacu pada kesulitan keuangan perusahaan yang sangat besar sejak awal tahun ini.

Sebuah dokumen yang menggambarkan aset dan utang di bawah UCF Group telah beredar sejak akhir Juli, mengatakan perusahaan itu bangkrut dan menanggung total kewajiban sekitar 75 miliar yuan atau sekitar Rp 150 triliun melalui beberapa unit bisnis yang meliputi manajemen kekayaan, pinjaman peer-to-peer dan investasi ekuitas swasta.

Pada 5 Mei, perusahaan pialang dan cabang investasi utamanya, N-Securities, masuk dalam "inspeksi" Komisi Regulasi Sekuritas China.

Komisi pengawasan tersebut mengatakan, keputusan untuk menyelidiki perusahaan itu dilakukan setelah berbulan-bulan memantau kesehatan keuangan perusahaan.

Halaman
12
Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved