Gaya Trump Menekan China Mirip dengan Ukraina, untuk Kepentingan Pilpres 2020

Spekulasi berkembang bahwa Trump sebenarnya ingin menekan China untuk mmenyelidiki bisnis lawan politiknya pada Pilpres 2020 nanti, yakni Joe Biden.

Gaya Trump Menekan China Mirip dengan Ukraina, untuk Kepentingan Pilpres 2020
EPA-EFE
Joe Biden anaknya, Hunter Biden (kiri), ketika berkunjung ke Beijing tahun 2013. 

TRIBUNBATAM.ID, WASHINGTON - China mengurangi harapan pada pembicsaraan tingkat tinggi di Washington untuk mengatasi perang dagang AS vs China, Kamis (10/10/2019).

Wakil Perdana Menteri Liu He sekali lagi memimpin delegasi China ke Washington untuk pembicaraan pada hari Kamis dan Jumat sepertinya sudah patah arang dengan tidak jelasnya komitmen Washington dalam menyelesaikan perang dagang AS vs China yang sudah berlangsung 15 bulan.

Apalagi, dua hari menjelang pertemuan, tiba-tiba Donald Trump mengeluarkan jurus yang seakan menekan China, memblack-list delapan perusahaan startup China dan 20 lembaga publik dengan alasan yang sama sekali tidak berhubungan dengan masalah perdagangan, yakni pelanggaran HAM terhadap muslim Uygur di Provinsi Xinjiang.

Lucunya, tekanan HAM itu dilakukan oleh Donald Trump yang selama ini dituduh rasis di negaranya sendiri, setelah beberapa kali terlibat perseteruan dengan anggota parlemen Demokrat non-kulit putih.

Jelang Pertemuan, 8 Perusahaan China Di-blacklist AS dengan Dalih Pelanggaran HAM Muslim Uygur

Saat Hong Kong Bertempur Lawan Demonstran, Beijing Serang Uni Eropa dan Presiden Prancis: Munafik!

Tak Punya Uang untuk Tampil Cantik, Remaja Ini Nekat Curi Motor Tetangga Modal Beli Kosmetik

Spekulasi berkembang bahwa Trump sebenarnya ingin menekan China untuk mmenyelidiki bisnis lawan politiknya pada Pilpres 2020 nanti, yakni Joe Biden.

Sebelumnya, Trump diselidiki untuk kemungkinan impeachment karena berusaha meminta bantuan Ukraina untuk menyelidiki bisnis migas putra Joe Biden, Hunter.

Trump pekan lalu secara terus terang mengakui percakapannya dengan Presiden Ukraina terkait Joe Biden dan berharap China juga melakukan hal yang sama.

Caranya pun hampir mirip. Sehari sebelum pembicaraan telepon Trump dengan Presiden terpilih Ukraina  Volodymyr Zelensky, AS menghentikan bantuan militer senilai US$ 500 miliar.

Untuk semakin memperumit situasi, Trump telah secara terbuka meminta Beijing menyelidiki bisnis mantan wakil presiden Barack Obama tersebut.

"Khusus untuk pihak AS, politik dalam negeri mempersulit pembicaraan perdagangan untuk benar-benar kebal dari masalah lain, yakni politik," kata Louis Kuijs, kepala Ekonomi Asia di Oxford Economics.

Halaman
1234
Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved