Singapura Larang Iklan Minuman Manis, Apakah Indonesia Perlu?

Singapura telah mengeluarkan larangan iklan minuman manis beredar di negaranya. Lantas apakah Indonesia perlu melakukan ini untuk pencegahan diabetes?

Singapura Larang Iklan Minuman Manis, Apakah Indonesia Perlu?
Instagram/singaporeworld
Ilustrasi Singapura saat malam hari 

Mengenai tingginya angka penderita diabetes di Indonesia, menurut Tan, ada peran iklan minuman manis yang melakukan promosi produk.

Apalagi, saat ini pemasarannya juga menggunakan jasa endorser, influencer, dan melayani pembelian secara online.

Dengan demikian, ia berharap pemerintah dan masyarakat Indonesia mampu meningkatkan literasi gizi agar dapat mengendalikan kadar gula dalam tubuh.

"Semua harus dijalankan serempak, karena sudah darurat. Selagi literasi itu digembleng, itu sabotase-sabotasenya juga harus ditertibkan," kata dia.

Menurut dia, upaya ini bisa dilakukan secara masif ke pihak sekolah, siswa, dan para penjual.

"Manusia adalah tujuan bagi dirinya, bukan sarana bagi kepentingan yang lain. Itu etika moral filsafat. Enggak salah jadi pengusaha, tapi jadilah pengusaha yang punya itikad baik," ujar Tan.

"Bukan demi cari untung lalu memanfaatkan kecanduan rakyatnya," kata dia.

Pengaruh iklan minuman manis

Mengenai iklan minuman manis, Tan mengatakan, ada pengaruh yang sangat kuat dari iklan tersebut untuk mendorong masyarakat mengonsumsi produk minuman tersebut.

Halaman
1234
Editor: Putri Larasati Anggiawan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved