DEMO HONG KONG

Pidato PM Singapura Terkait Demo Hong Kong Dapat Pujian Luas di China Daratan, Ini Katanya

Dalam pidato yang videonya tersebar di media sosial China tersebut, PM Lee mengatakan, negaranya akan "selesai" jika dipukul demo gaya Hong Kong

Pidato PM Singapura Terkait Demo Hong Kong Dapat Pujian Luas di China Daratan, Ini Katanya
CHRISTOPHE ARCHAMBAULT / AFP
Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong 

Demonstran Terlalu Jauh

Pendemo pro-demokrasi Hong Kong menggunakan bom molotov menyerang polisi di Tuen Mun, Sabtu (21/9/2019)
Pendemo pro-demokrasi Hong Kong menggunakan bom molotov menyerang polisi di Tuen Mun, Sabtu (21/9/2019) (South China Morning Post)

Eugene Tan, seorang profesor hukum di Singapore Management University menilai bahwa reaksi China tidak mengejutkan karena perspektif Lee dilihat sebagai "validasi eksternal" bahwa para pengunjuk rasa di Hong Kong telah bertindak terlalu jauh.

Singapura memang harus memperhatikan hal itu karena banyak warga Hongkong mempertimbangkan bermigrasi karena krisis.

Dari survei terbaru, lebih dari 40 persen warga Hong Kong ingin keluar dari negara itu akibat berlarut-larutnya dan semakin kerasnya demonstrasi.

"Dari perspektif rata-rata orang di China, pernyataan Lee sangat erat karena mereka melihat Singapura sebagai negara kota dengan mayoritas etnis China dan ekonomi yang kuat, tidak jauh berbeda dari Hong Kong," kata Tan.

Pernyataan itu juga selaras dengan mereka yang merasa kekerasan yang terjadi saat ini tidak akan membantu mengatasi masalah ekonomi dan sosial yang serius di Hong Kong yang terus memburuk.

Namun ia menambahkan: "Yang pasti, pernyataan Lee tidak akan menemukan penerimaan serupa di Hong Kong."

Pernyataan PM Lee jauh lebih bijak dibanding sejumlah negara Barat yang saat ini justru memberi dukungan kepada demonstran Hong Kong, sehingga hal itu seperti menambah bensin ke dalam api.

DPR Amerika Serikat, misalnya, bahkan menggaungkan RUU mendukung gerakan pro-demokrasi di Hong Kong.

Uni Eropa juga mengungkapkan dukungan terhadap para demonstran sehingga hal ini membuat China merasa tersudut dan balik menyerang negara-negara yang mendukung demonstran.

China keukeuh mengatakan tidak pernah intervensi terkait masalahg Hong Kong dan tetap konsisten dengan kesepakatan "satu negara dua sistem".

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved