Sutami Menteri Termiskin di Indonesia, Cicil Rumah hingga Pensiun, Dipakai Soekarno dan Soeharto

14 tahun masuk kabinet, Sosok Sutami Menteri Termiskin di Indonesia yang Dihormati Soeharto, Karyanya Bikin Bangga

Sutami Menteri Termiskin di Indonesia, Cicil Rumah hingga Pensiun, Dipakai Soekarno dan Soeharto
net via Surya Malang
Ir Sutami dan arsitek Frederich Silaban 

Penampilan dan tindakannya tetap bersahaja.

Suatu ketika PLN pernah mencabut listrik di rumah pribadinya di Solo.

Menteri Sutami ternyata pernah kekurangan uang hingga telat bayar listrik.

Yang menyedihkan, Sutami sempat takut dirawat di rumah sakit.

Ternyata dia tidak punya uang untuk bayar rumah sakit.

Baru setelah pemerintah turun tangan, Sutami mau juga diopname.

Presiden Soeharto kerap menjenguk Sutami saat sakit.

Soeharto pula yang meminta Sutami mau berobat ke luar negeri.

Ir Sutami menginggal dunia 13 November 1980 pada umur 52 tahun.

Dia menderita sakit lever.

Tanggal 16 Desember 1981, Presiden Soeharto meresmikan Bendungan Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Soeharto membacakan pidato penghormatannya untuk Sutami.

Dia pun memberi nama Bendungan Karangkates sebagai nama Bendungan Sutami.

Monumental

Menteri yang lahir 19 Oktober 1928 ini adalah menteri termuda yang dipercaya Presiden Soekarno saat berusia 36 tahun.

Tepatnya pada tahun 1964, Ir Sutami bergabung pada Kabinet Dwikora I sebagai Menteri Negara diperbantukan pada Menteri Koordinator Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk urusan penilaian konstruksi.

Ketika kekuasaaan Soekarno beralih ke Soeharto tahun 1966, Ir Sutami tetap dipercaya menjadi menteri Pekerjaan Umum hingga tahun 1978.

Ir Sutami adalah Menteri Pekerjaan Umum terlama di era Soeharto dengan masa jabatan selama 12 tahun dan dua tahun di era Soekarno.

Di tangan Ir Sutami, terbangun jembatan Semanggi Jakarta yang hingga kini menjadi salah satu ikon Ibukota.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Yusmada Faizal Samad bahkan menyebut Jembatan Semanggi sebagai karya konstruksi sipil yang fenomenal.

“Suatu struktur konstruksi jembatan panjang (60 meter tanpa penyangga) di Indonesia untuk pertama kali menerapkan teknologi prestressed concrete,” tulis Yusmada seperti dikutip Kompas Properti.

Penerapan teknologi prestressed concrete saat itu memang sempat menuai pendapat pro dan kontra, serta diskursus di tataran akademik.

Pasalnya, kekuatan dan keandalan struktur jembatan tersebut dipertanyakan.

Keraguan pun terjawab. Saat Presiden Soekarno meresmikan jembatan itu pada tahun 1962.

Ketika itu Ir Sutami sebagai penanggungjawab pembangunan Jembatan Semanggi melakukan aksi ‘heroik’.

Dengan mengendarai sebuah jeep, Ir Sutami menuju ke tengah bentang untuk membuktikan struktur jembatan itu kuat.

Soekarno pun sangat puas dan bangga dengan kehabatan Ir Sutami muda ketika itu.

Sejak karya monumental Ir Sutami tak hanya Jembatan Semanggi.

Kubah Gedung MPR/DPR berwarna hijau seperti kura-kura juga menjadi bukti kehebatan Ir Sutami.

Kompleks MPR/DPR itu merupakan hasil rancangan arsitek lulusan Berlin, Soejoedi Wirjoatmodjo, dan salah satu stafnya, Ir Nurpontjo.

Kompleks itu dibangun untuk menggelar Conference of the New Emerging Force (Conefo), dan bangunannya harus bisa menandingi gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Konferensi itu guna menggalang kekuatan di kalangan negara-negara baru untuk membentuk tatanan dunia baru.

Pemancangan tiang pertama pembangunan kompleks Conefo itu dilakukan pada 19 April 1965.

Padahal konferensi internasional sudah harus digelar setahun kemudian.

Sebagai pelaksana lapangan, Ir Sutami menyanggupi pembangunan kompleks itu dalam tempo setahun.

Atap gedung ini mirip dengan prinsip struktur sayap.

Semula atap akan berbentuk kubah murni.

Tapi Sutami selaku ahli struktur bangunan mengingatkan hal itu akan memunculkan masalah serius.

Sebab, hal ini menyangkut pemerataan penyaluran beban gaya vertikal ke tiang-tiang penopang kubah.

Sutami kemudian membuat sketsa dan perhitungan teknisnya.

Dia menjamin kubah semacam itu bisa dikerjakan. Sebab, desain tersebut tak berbeda dengan prinsip struktur kantilever pada pesawat tebang.

Keberhasilan Sutami sebagai pelaksana proyek dan juga turut andil dalam merealisasi atap berbentuk kubah mengundang pujian dari gurunya semasa di ITB, Ir Roosseno.

Ahli beton itu mengakui gedung Conefo sebagai karya besar Sutami.

Ir Sutami juga menjadi pimpinan pusat proyek pembangunan Jembatan Ampera di Sungai Musi, yang kini menjadi kebanggan masyarakat Sumatera Selatan.

Ketika Proyek Listrik Tenaga Air di Maninjau, Sumatra Barat, yang diperkirakan tak akan bisa dibuat akhirnya berhasil dilakukan berkat tangan dingin Ir Sutami.

Sebagai kekaguman

‘Tukang insinyur’ ini ikut pula membidani lahirnya Fakultas Teknik Universitas Indonesia, serta munculnya dan beroperasinya jalan tol yang sekarang dikenal sebagai tol Jagorawi.

Sutami juga sukses membangun Waduk Jatiluhur dan memimpin proyek pembangunan Bandara Ngurah Rai Bali yang megah hingga kini. (berbagai sumber)

Artikel ini telah tayang di suryamalang.com dengan judul 14 Tahun Jadi Menteri, Tapi Atap Rumah Bocor hingga Tak Mampu Berobat, Karyanya Bikin Bangga


Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved