8 Menteri Lulusan UGM Yogyakarta di Kabinet Indonesia Maju Jokowi-Maruf Amin
Ada 8 lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam kabinet Indonesia Maju Jokowi-Maruf Amin.
TRIBUNBATAM.id - Ada 8 lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam kabinet Indonesia Maju Jokowi-Maruf Amin.
Presiden Jokowi telah mengumumkan kabinet Indonesia Maju, Rabu (21/10/2019).
Dari nama-nama menteri yang ditunjunk, UGM Yogyakarta menyumbangkan 8 menteri.
Siapa saja mereka?
1. Budi Karya Sumardi

Presiden Joko Widodo kembali menunjuk Budi Karya Sumadi sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.
Penunjukan Budi Karya sebagai Menteri Perhubungan diumumkan Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10/2019).
Pengumuman dilakukan tiga hari setelah Jokowi dilantik sebagai presiden di Gedung DPR/MPR kemarin, Minggu (20/10/2019).
Budi Karya Sumardi merupakan alumni UGM jurusan Arsitekur pada tahun 1981.
Budi Karya Sumardi melanjutkan kementerian yang ia pimpin sebelumnya.
Saat memimpin Angkasa Pura II, proyek menonjol yang ditanganinya yaitu pembangunan Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang Banten yang pada akhirnya diselesaikan dan diresmikan saat Beliau sudah menjabat Menteri Perhubungan.
2. Praktikno

Praktikno tetap menjabat Menteri Sekretaris Negara.
Sederhana, kata itulah yang secara spontan dapat mewakili sosok seorang Pratikno.
Seorang anak desa yang mementingkan pendidikan dan pemberdayaan sosial sampai akhirnya Jokowi kepincut dan menunjuknya sebagai menteri di kabinetnya.
Pratikno adalah anak desa yang lahir pada 13 Februari 1962 di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Sejak lulus sekolah dasar, ia melanjutkan ke SMP yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah sehingga terpaksa indekos. Kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai guru SD mengizinkannya indekos demi satu makna, yakni melanjutkan pendidikan.
Kampung halaman Pratikno dikelilingi hutan jati dan perkebunan tembakau.
Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Kota Bojonegoro dan baru dialiri listrik pada awal 1990-an.
"Saya kos karena sekolahnya jauh dari kampung saya. Waktu saya itu kan enggak ada teman yang melanjutkan ke SMP, dari 13," kata Pratikno, saat dijumpai Kompas.com, di Jakarta, Selasa (21/10/2014) lalu.
Pratikno bercerita, ia dan keluarganya selalu hidup dalam kesederhanaan.
Semuanya ia nikmati meski akrab dengan kesulitan. Ia melanjutkan SMA di Kota Bojonegoro dan lulus tahun 1980.
Setelah itu, Pratikno melanjutkan kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM.
"Saya kan anak desa, kalau universitas yang kami kenal dan ternama, ya hanya UGM," ujarnya.
Semasa menjadi mahasiswa di UGM, Pratikno sempat merasa minder karena status sosialnya.
Tetapi, berbekal tekad kuat, ia pernah menjadi mahasiswa terbaik di jurusannya saat memasuki semester III.
Ia juga bergabung dengan kelompok diskusi dan sering memenangi lomba riset mahasiswa.
Selain itu, pada pertengahan tahun 1980, Pratikno telah mulai mengirimkan tulisan ke beberapa media terkemuka di Pulau Jawa.
Honor yang ia dapat digunakan untuk biaya hidup di Yogyakarta.
Pratikno melanjutkan pendidikan master dan doktornya di luar negeri.
Ketika kembali ke desanya pada medio 1990-an, ia membentuk sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Ademos Indonesia.
Lembaga ini merupakan wadah untuk masyarakat bersama-sama mengembangkan diri, mengadvokasi, serta membentuk kelompok peternak dan mengembangkan teknologi peternakan.
"Selesai saya studi, saya merasa harus membuat masyarakat happy, harus membantu masyarakat, makanya saya dirikan lembaga untuk sinau bareng (belajar bersama)," ucap pria yang sejak 2012 menjabat sebagai Rektor UGM itu.
Dalam bayangannya, ia tak pernah berpikir akan menjadi seorang menteri.
Pada awal masa kuliahnya, sempat tebersit mimpi ingin menjadi camat. "Camat itu sangat dihormati di desa saya, rumah saya dari kantor kecamatan itu jaraknya 18 kilometer," tuturnya.
Sebagai seorang akademisi, Pratikno mengenal Jokowi cukup dekat. Ia dipercaya menjadi anggota tim sinkronisasi Tim Transisi Jokowi-Jusuf Kalla. Pratikno, bersama Andrinof Chaniago dan Cornelis Lay, adalah orang yang menyatukan semua usulan kelompok kerja Tim Transisi dan menetapkan langkah prioritas pelaksanaannya sebagai masukan kepada Presiden.
Saat ditanya soal tawaran menteri, ia tak pernah memikirkannya sampai akhirnya namanya diumumkan Jokowi sebagai Menteri Sekretaris Negara di Kabinet Kerja pada Minggu (26/10/2014) sore.
"Saya enggak pernah dihubungi Pak Jokowi dan berbicara soal menteri. Ibarat wawancara, itu wawancara sudah lama terjadi," pungkasnya saat itu.
3. Basuki Hadimuljono
Basuki Hadimuljono kembali dipilih menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Basuki merupakan sosok yang sederhana.
Terbukti dari ponsel yang ia kenakan, Basuki Hadimuljono memilih menggunakan ponsel lawas dari pada smartphone.
Di era perkembangan teknologi yang cukup pesat seperti sekarang, Basuki rupanya masih menggunakan ponsel jadul.
Diketahui ponsel milik Basuki Hadimuljono hanya mendukung fitur telepon dan SMS saja.
Hal itu terlihat dari unggahan akun Instagram resmi PUPR di @kempupr.
Di unggahan tersebut terdapat empat buah foto.
Di mana dalam foto tersebut, terdapat Basuki Hadimuljono tengah menunjukan ponsel miliknya.
Pendidikan
- S-1; Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
- Magister (S2), Colorado State University, Amerika Serikat
- Doktor (S3) Teknik Sipil, Colorado State University, Amerika Serikat
4. Airlangga Hartarto

Airlangga Hartarto kembali masuk dalam daftar Kabinet Kerja Jilid 2 di pemerintahan Joko Widodo sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian).
Dia menggantikan Darmin Nasution yang sebelumnya menjabat jadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di Kabinet Kerja Jilid 1.
Sebelumnya pada Senin (21/10/2019), Ketua Umum Partai Golkar ini memang terlihat datang ke istana mengenakan kemeja putih.
Dia mengaku Presiden menunjuknya lagi menjadi menteri.
"Bapak Airlangga Hartarto sebagai Menko Perekonomian. Saya kira akan ada terobosan dan bisa sinergikan antar kementerian sehingga ada ruang kerja yang baik," begitu ucap Joko Widodo saat mengumumkan jajaran menteri untuk Kabinet Kerja Jilid 2 di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10/2019).
Terpilih menjadi menteri memang bukan hal baru bagi Airlangga. Di Kabinet Kerja Jilid 1, Airlangga menjabat sebagai Menteri Perindustrian.
Dia terpilih melalui reshuffle kabinet pada tahun 2016.
Dikutip dari berbagai sumber, ayahnya yaitu Hartarto Sastrosoenarto juga pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) dan Kabinet Pembangunan V (1988-1993).
Tak hanya itu, sang ayah juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Produksi dan Distribusi (Menko Prodis) pada Kabinet Pembangunan (1993-1998).
Adapun karir politik pria lulusan Universitas Gadjah Mada ini dimulai sejak dia menjabat anggota DPR tahun 2004.
6. dr Terawan
Dokter Terawan Agus Putranto ditunjuk menjadi Menteri Kesehatan.
Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM, Terawan Agus Putranto langsung mengabdi sebagai dokter TNI Angkatan Darat. Ia menghabiskan kariernya di dunia medis dengan menemukan metode baru, terapi cuci otak, untuk pengobatan stroke.
Berikut informasi singkat dokter Terawan yang dirangkum Tribunnews.com:
Terkenal dengan metode 'cuci otak'
Nama dokter Terawan pernah jadi pemberitaan karena dianggap telah melanggar kode etik dengan metode "cuci otak".
Hal ini membuat Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie menyerukan upaya penyelamatan dokter Teriawan di akun Instagramnya.
Abrizal Bakrie mengungkap metode yang digunakan dokter Terawan sudah menolong dan terbukti mampu mencegah maupun mengobati ribuan penderita stroke.

Hal itulah yang kemudian membuat nama dokter Teriawan kemudian menjadi trending topik di Google.
Kemampuan dokter Terawan mencuci otak demi kesembuhan pasien menuai kontroversi.
Meski begitu, metode Cuci Otak yang dilakukan dokter Terawan pernah menyembuhkan 40 ribu pasien.
Dilansir dari laman warta kota, dokter asal Yogyakarta ini mengaku sudah menerapkan metode mengatasi masalah stroke sejak tahun 2005.
"Sudah sekitar 40.000 pasien yang kami tangani," katanya.
Bahkan menurutnya, tak banyak komplain dari masyarakat yang ia terima sehingga menjadikan bukti keampuhan metode yang diterapkannya itu.
Setelah itu, ia menemukan metode baru untuk menangani pasien stroke yang disebut dengan terapi çuci otak dan penerapan program DSA (Digital Substraction Angiogram).
Melansir dari TribunJateng, Dokter Terawan menjelaskan metode 'cuci otak' itu secara ringkas sebenarnya adalah memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha penderita stroke.
Hal tersebut dilakukan untuk melihat apakah terdapat penyumbatan pembuluh darah di area otak.
Penyumbatan tersebut dapat mengakibatkan aliran darah ke otak bisa macet dan dapat menyebabkan saraf tubuh tidak bisa bekerja dengan baik.
Kondisi inilah yang terjadi pada penderita stroke.
Sumbatan tersebut melalui metode DSA kemudian dibersihkan sehingga pembuluh darah kembali bersih dan aliran darah pun normal kembali.
Cara membersihkan sumbatan pembuluh darah pun terdapat berbagai cara.
7. Retno Marsudi

Retno Marsudi kembali dipilih menjadi Menteri Luar Negeri.
Retno Marsudi merupakan wanita pertama yang menjabat menteri luar negeri Indonesia.
Karirnya sebagai menteri bisa dibilang cemerlang saat menjabat Menlu periode 2014-2019.
Lantas seperti apa sosok suami yang selalu mendukung karir Retno Marsudi ?
TRIBUNSTYLE.COM - Karir Retno Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia periode 2014-2019 bisa dibilang cukup cemerlang.
Hal itu pun membuatnya digadang-gadang masuk kembali dalam bursa menteri kabinet Jokowi untuk periode 2019-2024.
Dirinya bahkan pernah menerima Penghargaan Khusus untuk Pemimpin Diplomasi Kemanusiaan dari PKPU Human Initiative pada (19/12/2018).
• Wishnutama Digadang Jadi Menteri Jokowi, Berikut 5 Fakta Sosok Pendiri NET Mediatama Televisi
Retno Marsudi dan keluarga (TribunStyle.com/ Instagram @retno_marsudi)
Karir cemerlang wanita asal Semarang terebut ternyata tak lepas dari dukungan sang suami, Agus Marsudi .
Dari pernikahaannya dengan Agus, Retno dikaruniai 2 orang putra bernama Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi.
Banyak warganet yang kemudian mencari tahu sosok suami wanita bernama lengkap Retno Lestari Priansari Marsudi itu.
Berikut ini fakta menarik mengenai Agus Marsudi.
a. Lulusan Universitas Gajah Mada
Retno Marsudi dan Agus Marsudi (TribunStyle.com/ Instagram @retno_marsudi)
Agus Marsudi dan Retno Marsudi ternyata sama-sama lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Retno mengambil jurusan hubungan internasional sedangkan Agus memilih jurusan arsitek.
Selain UGM, Agus ternyata juga merupakan lulusan University Delft.
Agus Marsudi kini memiliki perusahaan konsultan arsitektur.
b. Sosok suami pengertian
Agus Marsudi dan Retno Marsudi (TribunStyle.com/ Instagram @retno_marsudi)
Melihat karir Retno Marsudi yang gemilang, ternyata sosok Agus Marsudi memiliki peran dibaliknya.
Retno Marsudi pernah mengungkapkan jika Agus sangat mengerti tentang pekerjaannya.
Sebelum menikah, Retno dan Agus sempat berpacaran selama 7 tahun.
Dalam masa itulah keduanya melewati proses dialog yang sangat lama untuk memunculkan rasa pengertian satu sama lain.
Bagi Retno, komunikasi merupakan kunci hubungannya dengan Agus.
c. Miliki anak yang sukses
Keluarga Retno Marsudi (TribunStyle.com/ Instagram @retno_marsudi)
Dari pernikahannya dengan Retno Marsudi, Agus memiliki 2 orang anak laki-laki.
Keduanya bernama Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi.
DYota lahir pada tahun 1989 dan merupakan lulusan INSEAD Paris dan Universitas Indonesia.
Dyota juga merupakan direktur eksekutif di sebuah perusahaan modal ventura.
Sedangkan Bagus Marsudi lahir pada tahun 1993 yang merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada dan kini berprofesi sebagai dokter.
Kedua anak Agus telah menikah dan berkeluarga.
d. Temani sang istri bertugas
Agus marsudi temani Retno Marsudi (TribunStyle.com/ Instagram @retno_marsudi)
Agus juga kerap telihat menemani sang istri saat bertugas.
Seperti dalam sebuah unggahan di Instagram Retno Marsudi, Agus terlihat menemani Retno saat sedang menghadiri Pekan Kebudayaan Nasional pada (6/10/2019).
Selain itu, Agus juga pernah menemani Retno saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun Kementrian Luar Negeri.
Keduanya terlihat mengikuti fun walk di Ecopark Ancol.
Saat Retno Marsudi dilantik jadi Menteri Luar Negeri pada tahun 2014, Agus diketahui menjabat ketua RW di lingkungan kompleksnya.
Dikutip dari Kompas.com, Agus merupakan ketua RW 28 di kompleks Pesona Khayangan, Depok.
Bahkan Agus juga pernah menjabat sebagai ketua RW 27 saat keluarga Retno Marsudi tinggal di Blok CK Pesona Khayangan.
8. Muhadjir Effendy

Muhadjir Effendy dipilih menjadi Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Pria kelahiran 29 Juli 1956 meraih gelar sarjana di IKIP Malang pada 1982.
Setelah itu, Muhadjir melanjutkan pendidikannya ke jenjang Magister (S-2) di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan mengambil jurusan Administrasi Publik dan tamat pada 1996.
Setelah itu, ayah tiga anak tersebut meraih gelar doktornya dari Universitas Airlangga (Unair). Sejak 2015, Muhadjir menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015 sampai 2020.
Suami dari Suryan Widati tersebut juga pernah mendapatkan tanda jasa yaitu Satayalencana Karya Satya XX pada 2010.
Pria asal Madiun ini pernah menduduki jabatan sebagai rektor di UMM sebanyak tiga kali. Muhadjir menjabat sebagai rektor pada periode 2000-2004, 2004-2008, dan periode 2008-Februari 2016.
Selain itu, Muhadjir juga aktif menulis sejumlah buku di antaranya Bala Dewa, Seperti Menyaksikan Dahlan Muda, dan juga Muhammadiyah dan Pendidikan di Indonesia.
Semasa muda, Muhadjir aktif sebagai wartawan kampus hingga mendirikan surat kabar kampus UMM, BESTARI pada 1986.
Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (UMM) Perwakilan Malang Raya itu juga merupakan penulis artikel lepas di beberapa media massa nasional.
Pada Rabu 27 Juli 2016, sosiolog yang ahli di bidang militer dan intelektual muslim itu resmi ditetapkan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang menggantikan Anies Baswedan sebagai Mendikbud sebelumnya.(*)