Pangkas Suku Bunga Acuan 4 Kali Berturut-turut, Ini Alasan Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (24/10).

Pangkas Suku Bunga Acuan 4 Kali Berturut-turut, Ini Alasan Bank Indonesia
Logo Bank Indonesia
Logo Bank Indonesia 

TRIBUNBATAM.id - Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (24/10). 

Ini merupakan penurunan suku bunga acuan yang keempat kali oleh BI sejak Juli lalu. Dengan begitu, suku bunga BI telah dipangkas sebesar 100 bps atau 1% sejak pertengahan tahun. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kebijakan BI menurunkan suku bunga sejalan dengan prakiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang masih menarik.

Selain itu, BI juga melanjutkan kebijakan pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perekonomian global yang melambat. 

“Ke depan, berbagai ketidakpastian dari ketegangan hubungan dagang AS dan Tiongkok, serta risiko geopolitik lain tetap dicermati karena dapat memengaruhi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi domestik dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal,” tutur Perry. 

Akhir tahun, proyeksi BI terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia belum berubah yaitu di bawah titik tengah kisaran 5,1% - 5,5%. Sementara inflasi diproyeksi berada di bawah titik tengah rentang sasarannya 2,5% - 4,5% di 2019.  

RUPIAH HARI INI - Rupiah Berada di Level Rp 14.035 per Dolar AS

Ramalan Zodiak Cinta Jumat 25 Oktober 2019, Cancer Siap Perang Demi Cinta, Capricorn Ada Kejutan

 

Perry mengatakan, BI menempuh kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif, serta memastikan likuiditas tetap longgar. Selain menurunkan suku bunga acuan sebesar 1% sampai bulan ini, BI juga telah menurunkan giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 bps pada Juni lalu.

Relaksasi kebijakan makroprudensial juga ditempuh dengan menyempurnakan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) dengan mengikutsertakan komponen pinjaman yang memiliki jangka waktu lebih dari sama dengan satu tahun.

Selanjutnya, BI telah melonggarkan Loan to Value (LTV) untuk kredit properti dan Financing to Value (FTV) untuk pembiayaan properti, serta menambah keringanan rasio LTV dan FTV untuk properti berwawasan lingkungan. 

BI juga melonggarkan uang muka untuk kredit dan pembiayaan kendaraan bermotor, serta menambah keringanan uang muka kredit dan pembiayaan kendaraan bermotor berwawasan lingkungan. 

“Berbagai kebijakan akomodatif ini akan mendorong ekonomi baik dari sisi pembiayaan oleh perbankan maupun diupayakan juga mampu mendorong permintaan pembiayaan,” tutur Perry. 

Prospek neraca pembayaran yang positif juga membuat BI lebih percaya diri menurunkan suku bunga acuannya lagi. Sepanjang kuartal III-2019, tercatat aliran masuk modal asing mencapai US$ 4,8 miliar dan posisi cadangan devisa sampai September sebesar US$ 124,3 miliar. 

“Secara keseluruhan kami meyakini neraca pembayaran akan mengalami surplus tahun ini, didukung dengan CAD pada 2,5%-3% sehingga stabilitas eksternal tetap terjaga,” kata Perry. 

Editor: Rio Batubara
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved