Rabu, 6 Mei 2026

HEADLINE TRIBUN BATAM

Presiden Jokowi Ingin Kerja Cepat, Gubernur BI Optimis Ekonomi Tumbuh

Presiden Joko Widodo menambah jumlah wakil menteri di kabinetnya hingga 12 orang dan berharap para wakil menteri bisa mempercepat kinerja presiden.

Tayang:
wahyu
halaman 01 TB 

Presiden Jokowi Ingin Kerja Cepat, Gubernur BI Optimis Ekonomi Tumbuh

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Presiden Joko Widodo menambah jumlah wakil menteri di kabinetnya hingga mencapai 12 orang.

Padahal di periode pertama Jokowi dan Jusuf Kalla, hanya ada tiga wakil menteri, yakni wakil Menteri Keuangan, Wakil Menteri Luar Negeri, serta Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Lalu, apa alasan Jokowi kini menambah Wakil Menteri sampai empat kali lipat dari sebelumnya?

"Karena kan Presiden ingin cepat kerjanya. Jadi harus dibantu banyak orang," kata Juru Bicara Presiden Fadjroel Rahman di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Menurut Fadjroel, Presiden mengharapkan para wakil menteri bisa membantu meningkatkan dan mempercepat kinerja di masing-masing kementerian.

Ia membantah penambahan jumlah wakil menteri ini untuk bagi-bagi kursi.

Hal serupa disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

3 Sosok Wanita Cantik Ini Pernah Dinikahi Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Wishnutama

Menurut Moeldoko, wamen dalam jumlah cukup besar memang dibutuhkan untuk mempercepat langkah tiap kementerian dalam mencapai target yang sudah ditetapkan.

"Kenapa kok banyak, namannya saja sudah Kabinet Indonesia Maju. Kalau orang mau maju kan high speed kan, jadi perintah Presiden harus kerja keras, kerja cepat, maka memang perlu ada backup dengan kapasitas yang ada ini," kata dia.

Presiden Joko Widodo sudah memperkenalkan dan melantik 12 orang sebagai wakil menteri di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Bank Indonesia Optimis

Kabinet Indonesia Maju yang dipimpin Presiden Joko Widodo, baru saja terbentuk komplet, ditandai pelantikan 12 orang wakil menteri, Jumat (25/10/2019).

Mereka baru mulai bekerja, lalu bagaimana perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan?

Di tengah ketidakpastian perekonomian global karena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, ekonomi Indonesia diyakini masih bisa berada di atas 5 persen.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan tahun depan ekonomi Indonesia bakal mencapai 5,3 persen.

"Kami optimistis pertumbuhan ekonomi tahun depan menuju 5,3 persen. Hasil kegiatan ekonomi meningkat dan didorong kebijakan yang akomodatif, pelonggaran likuiditas dan ditambah Kementerian Keuangan yang memberi stimulus ekonomi dari sisi pengeluaran," ujar Perry di kantor BI Jakarta, Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Perry mengatakan, defisit anggaran pemerintah tahun depan meningkat menjadi 2,3% dari PDB.

Ini dilakukan untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Karena itu pengeluarannya mesti harus ditingkatkan. Yang dipilih defisit dan pengeluaran terus didorong. Di samping kebijakan pajak yang pro pertumbuhan ekonomi," katanya.

Sementara itu, Kementerian Keuangan, menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi valuta asing (valas) alias global bond, kemarin.

Pemerintah menerbitkan global bond berdenominasi dua mata uang asing, yaitu dolar Amerika Serikat (USD) sebesar 1 miliar dolar AS dan euro senilai 1 miliar euro.

Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman menjelaskan, penerbitan obligasi global tersebut sebagai antisipasi potensi pelebaran defisit APBN 2019.

Pemerintah memproyeksi, defisit anggaran akan lebih lebar dari outlook di pertengahan tahun sebelumnya yang sebesar 1,93% dari PDB.

Selain itu, Luky mengatakan, penerbitan obligasi global juga memanfaatkan momentum yang tepat di tengah kondisi pasar keuangan yang relatif stabil.

“Respons dan sentimen pasar cukup positif atas pelaksanaan pelantikan Presiden dan pembentukan Kabinet Indonesia Maju periode 2019 – 2024,” kata Luky.

Penerbitan global bond berdenominasi dolar AS memiliki tenor 30 tahun dengan yield sebesar 3,75% dan spread sebesar 150,7 basis poin (bps) dengan US Treasury.

Penerbitan kali ini, kata Luky, merupakan penerbitan dengan yield dan spread terendah sepanjang sejarah transaksi global bond berdenominasi dolar AS untuk tenor 30 tahun.

Yield terendah pada penerbitan sebelumnya terjadi pada Desember 2017 untuk global bond USD 30 tahun yaitu sebesar 4,4%.

Sementara, penerbitan global bond euro memiliki tenor 12 tahun dengan yield dan spread over mid-swap bonds masing-masing sebesar 1,412% dan 130 bps.

Transaksi tersebut juga menjadi penerbitan dengan yield dan spread over Euro mid-swap terendah. Yield dan spread over mid-swap ini bahkan lebih rendah dibandingkan pada tenor 7 tahun yang diterbitkan pada Juni 2019 yang yield dan spread-nya sebesar 1,487% dan 145 bps.

Untuk penerbitan global bond berdenominasi dolar AS, final price guidance mengetat hingga 35 bps dari initial price guidance.

Sementara untuk global bond berdenominasi euro terjadi pengetatan hingga 30 bps dari initial price guidance.

"Dengan pengetatan ini maka level yield penerbitan USD Bonds maupun Euro Bonds lebih rendah dari fair value yield penerbitan bonds tersebut atau istilahnya inside the curve sebesar masing-masing 6 bps,” tutur Luky.

Target pemerintah

Saat, pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, empat lembaga dunia, mulai dari Dana Moneter Internasional (IMF) hingga Bank Dunia, memproyeksikan ekonomi Indonesia tidak akan mampu mencapai target tersebut.

Mereka bahkan telah beberapa kali memangkas proyeksikan pertumbuhan ekonomi RI untuk tahun 2019 dan tahun depan.

Ini terjadi karena banyaknya tantangan yang dihadapi oleh Indonesia. Mulai dari tantangan domestik seperti pergantian pemimpin negara dan para menteri hingga tantangan eksternal seperti perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China yang menyebabkan pertumbuhan global melambat.

International Monetary Fund (IMF) menyebut prospek pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia untuk tahun 2019 menjadi 5% saja.

Angka ini sama dengan perkiraan IMF di Juli. Namun sebenarnya direvisi dari proyeksi pertumbuhan pada April, yang sebesar 5,2% untuk 2019. Demikian menurut Laporan Outlook Ekonomi Dunia Oktober 2019 yang dirilis pada hari Rabu (23/10).

Sementara itu pertumbuhan global diperkirakan hanya 3% untuk 2019, level terendah sejak 2008-2009. Ini juga turun 0,3 poin persentase dari proyeksi sebelumnya di April 2019.

Pada tahun 2020, ekonomi diproyeksikan meningkat menjadi 3,4%. Turun 0,2 poin persentase dibandingkan dengan proyeksi April.

Adapun Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) memperkirakan ekonomi RI tahun 2019 hanya akan tumbuh pada angka 5,1% dan 5,2% pada 2020. Inflasi diperkirakan akan tetap stabil pada 3,2% tahun ini dan 3,3% pada 2020.

Sementara itu untuk Asia, ADB memproyeksikan pertumbuhan akan melambat dari 5,9% pada 2018 menjadi 5,4% pada 2019 dan 5,5% pada 2020.

Inflasi di seluruh negara berkembang Asia diperkirakan meningkat dari 2,5% pada 2018 menjadi 2,7% pada tahun 2019 dan 2020.

Kemudian, Bank Dunia (World Bank) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 5% di tahun ini.

Sebelumnya pada April lalu World Bank memprediksi ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,1%.

Sebelumnya pada bulan April, lembaga ini juga memperkirakan ekonomi global akan tumbuh hanya 2,6% pada tahun 2019. Itu merupakan tingkat pertumbuhan paling lambat dalam tiga tahun.

Lalu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Cooperation and Development/OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi RI hanya sebesar 5% tahun ini dan tahun depan.

Proyeksi tersebut lebih rendah dari perkiraan OECD pada Mei lalu di mana ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,1% di 2019 dan 2020.

OECD juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari sebelumnya 3,2% menjadi hanya 2,9% di 2019. (kontan.co.id/cnbcindonesia)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved