HUMAN INTEREST

Cerita Pilu Pedagang Pasar Induk Batam, Belasan Tahun Berdagang Kini Tergusur

Belasan tahun berdagang di Pasar Induk Jodoh, Naomi dan pedagang lainnya harus menelan pil pahit, lapak dagangan mereka digusur

Cerita Pilu Pedagang Pasar Induk Batam, Belasan Tahun Berdagang Kini Tergusur
tribunbatam.id/alamudin
Naomi, pedagang Pasar Induk Batam 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Polemik penggusuran pedagang Pasar Induk Induk Jodoh seakan tak ada solusi konkret dari Pemerintah Kota Batam.

Pengamatan Tribunbatam.id, para pedagang korban gusuran sudah melakukan dua kali aksi unjuk rasa dan satu kali hearing di kantor DPRD kota Batam, tetapi belum juga mendapatkan solusi.

Naomi salah seorang pedagang mengatakan, dia sudah berjualan di pasar Induk Jodoh kurang lebih 15 tahun.

Awalnya, Naomi dan sejumlah pedagang berjualan di sekitar pasar Shangrila, kemudian pada tahun 1995 dipindahkan ke Blok L Jodoh.

"Kami awalnya berjualan di sekitar pasar Shangrila, setelah itu sekitar tahun 1994, 1995 kita dipindahkan ke Lokasi Blok L Jodoh," ujar Naomi kepada Tribunbatam.id, Jumat (22/11/2019).

PKL Tolak Pasar Induk Jodoh Batam Dipagar, Pedagang: Pemerintah Harus Hormati Aspirasi Kami

Perempuan yang diperkirakan berusia hampir separuh baya, berambut lurus sebahu ini melanjutkan, pada tahun 2001 sewaktu  pembangunan Pasar Induk, mereka dipindahkan ke Tempat Penampungan Sementara (TPS), di dekat pasar pagi yang dibuat Pemko Batam.

"Kita didudukan di situ untuk menunggu pembangunan Pasar Induk selesai," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Usai pembangunan pasar, pedagang yang sudah dijanjikan sebelumnya tidak mendapatkan alokasi pasar, melainkan yang mendapatkan adalah para pengusaha, pejabat dan lain-lain.

"Berjalan  waktu selesai pasar induk, kami para pedagang tidak mendapatkan tempat di lokasi Pasar Induk yang dibangun pemerintah waktu itu, yang dapat adalah pengusaha, pejabat, akhirnya kami tidak punya tempat di situ dan yang menjabat sebagai kepala dinas pasar waktu itu adalah jual Bahri dengan walikotanya Pak Nyat Kadir kalau tidak salah," ujar Naomi.

Setelah tidak mendapatkan tempat di pembangunan Pasar Induk tahap satu, Naomi menjelaskan ia bersama para pedagang lainnya didata dan dijanjikan akan diberikan lokasi di Pasar Induk tahap 2 nantinya.

"Jadi dulu kita tidak dapat tempat di situ lalu, kita didata ulang untuk menunggu tahap 2 dan para pedagang ada yang membayar Rp 4 juta, ada yang Rp 2 juta, biar kita para pedagang bisa berjualan dan sertifikat di pembangunan Pasar Induk tahap 2," ucap Naomi untuk menjelaskan letak permasalahan Pasar Induk dari awal.

Ia juga mengatakan pada saat itu dirinya bersama pedagang lainnya sempat memohon kepada Dinas Pasar dan Pemerintah Kota untuk diberikan tempat di lokasi tahap tersebut

Halaman
123
Penulis: Alamudin Hamapu
Editor: Dewi Haryati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved