Kenaikan Harga Tiket Angkutan Udara Berisiko Picu Inflasi Kepri Desember 2019  

Wakil Ketua TPID Kepri, Fadjar Majardi menyebut tiket angkutan udara Hari Raya Natal dan Tahun Baru berisiko dorong inflasi Kepri, Desember 2019

Kenaikan Harga Tiket Angkutan Udara Berisiko Picu Inflasi Kepri Desember 2019   
TRIBUNBATAM/DEWI HARYATI
Pejabat baru Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepri, Fadjar Majardi, bersalaman dengan pejabat lama Kepala Kantor Perwakilan BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, disaksikan Deputi Gubernur BI, Rosmaya Hadi, usai kegiatan serah terima jabatan pejabat lama dan pejabat baru, Jumat (22/3) di Kantor BI Kepri. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Mencermati perkembangan inflasi terkini, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri pada Desember 2019 diperkirakan akan mengalami inflasi.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri, Fadjar Majardi. 

“Perlu diwaspadai beberapa risiko inflasi ke depan, namun diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional pada 2019 yaitu sebesar 3,5 ± 1 persen (yoy),” ujar Fadjar Majardi, Kamis (5/12/2019).



Fadjar menyebut, beberapa potensi risiko pendorong inflasi di Kepri pada Desember 2019, antara lain yaitu peningkatan permintaan tiket angkutan udara pada Hari Raya Natal dan Tahun Baru. 

“Hal tersebut bisa berpotensi mendorong kenaikan tarif angkutan udara sehingga memicu inflasi pada kelompok transpor, komunikasi dan juga jasa keuangan (angkutan udara),” paparnya. 

Deflasi Kepri November 2019 Disumbang Cabai Merah, Kacang Panjang dan Angkutan Udara

Selain itu adanya curah hujan dan juga gelombang tinggi dapat memicu kelangkaan pasokan ikan segar, menghambat jalur distribusi bahan makanan serta berdampak pada produksi sayuran sehingga mendorong inflasi pada kelompok bahan makanan. 

“Harga aneka rokok yang mulai meningkat seiring pengumuman kebijakan kenaikan cukai rokok pada tahun 2020 juga menjadi salah satu faktor,” jelasnya. 

Fadjar menjelaskan, langkah yang dapat dilakukan guna mengendalikan terjadinya inflasi di tahun 2019 bisa mengacu pada kebijakan 4K, yaitu Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif. 

“Penguatan koordinasi serta sinkronisasi kebijakan dilakukan untuk pengendalian harga dan diharapkan inflasi Kepulauan Riau tahun 2019 dapat tetap terjaga dan mendukung capaian sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 ± 1 persen,” ucapnya.


Cabai Merah, Kacang Panjang Sumbang Deflasi 

Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) tercatat mengalami deflasi sebesar 0,03 persen (mtm) pada November 2019, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. 

Kepri masih bisa diselamatkan dari ancaman inflasi menjelang akhir tahun, meskipun beberapa komoditas mengalami kenaikan harga hingga 0,15 persen di provinsi ini, seperti yang terjadi pada bawang merah, daging ayam ras, bayam, kangkung, serta sawi hijau. 

Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri, Fadjar Majardi mengatakan, komoditas utama penyumbang deflasi Kepri pada November 2019 yaitu cabai merah, kacang panjang dan juga angkutan udara. 

“Deflasi Kepri pada November 2019 bersumber dari penurunan harga pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan dan kelompok sandang,” ujarnya, Kamis (5/12/2019). 

Fadjar menjelaskan, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,28 persen (mtm), dengan andil -0,05 persen (mtm). 

 Harga Cabai Merah di Pasar TPID Batam Turun

Sementara untuk komoditas utama penyumbang deflasi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan adalah angkutan udara yang kembali mengalami deflasi pada November 2019 sebesar 1,55 persen (mtm) dengan andil sebesar -0,06 persen (mtm). 

“Penurunan tarif angkutan udara terutama didorong oleh maskapai penerbangan berbiaya murah atau Low-Cost Carrier (LCC) yang terus melakukan penyesuaian harga tiket seiring dengan masih berlangsungnya masa low season di tengah permintaan yang cenderung melemah,” jelasnya. 

Sementara itu, kelompok sandang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,29 persen (mtm) dengan andil -0,02 persen (mtm) setelah pada bulan sebelumnya tercatat mengalami inflasi sebesar 0,1 persen (mtm) dengan andil 0,01 persen (mtm). 

“Adapun penurunan harga pada kelompok ini bersumber dari komoditas emas perhiasan yang mengalami deflasi tercatat sebesar 1,43 persen (mtm) dengan andil -0,02 persen (mtm), didorong oleh harga emas dunia yang tercatat mengalami penurunan sebesar -0,92 persen (mtm) pada November 2019,” ujarnya. 

Fadjar menilai, secara spasial Kota Batam dan Tanjungpinang mengalami deflasi. Deflasi Batam pada November 2019 tercatat sebesar 0,01 persen (mtm) atau inflasi 1,89 persen (yoy), sementara Tanjungpinang mengalami deflasi sebesar 0,17 persen (mtm) atau inflasi 2,07 persen (yoy). 

“Komoditas utama penyumbang deflasi Batam adalah cabai merah, kacang panjang, dan angkutan udara sementara komoditas utama penyumbang deflasi di Tanjungpinang adalah cabai merah, ikan tongkol/ambu-ambu dan cabai rawit,” terangnya. 

(Tribunbatam.id/Nabella Hastin Pinakesti

Penulis:
Editor: Dewi Haryati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved