BATAM TERKINI

Polda Kepri Segera Gelar Koordinasi Ketahanan Pangan Jelang Natal dan Tahun Baru

Polda Kepri berharap ketahanan sandang pangan menjelang hari raya Natal 25 Desember 2019 dan Tahun Baru 1 Januari 2020 aman terkendali.

Polda Kepri Segera Gelar Koordinasi Ketahanan Pangan Jelang Natal dan Tahun Baru
TRIBUNBATAM/ARGIANTO DA NUGROHO
ilustrasi sembako. Tim pengendali inflasi daerah (TPID) Batam meninjau harga sembako di pasar tos 3000, Jodoh, Batam, Senin (19/6/2017). Berbeda dengan harga cabai merah di Tos 3000 Jodoh, harga cabai di pasar Sagulung jauh lebih mahal. 
 
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Polda Kepri berharap ketahanan sandang pangan menjelang hari raya Natal 25 Desember 2019 dan Tahun Baru 1 Januari 2020 aman terkendali. Kabid Humas Polda Kepri Kombes S Erlangga mengatakan, tim segera melakukan rapat koordinasi dengan stakeholder terkait.
"Misalkan apa kendala sembako. Apakah adanya dampak cuaca. Kenaikan harga seperti apa. Nah semua ini nanti kami akan gelar dulu pertemuan dengan stakeholder.
Tapi yang pastinya, kami berharap pada operasi lilin 2019 berjalan lancar," katanya Kamis (5/12/2019).
Tahun lalu, Polda Kepri telah menggelar rapat Koordinasi Satgas Pangan Provinsi Kepri. Rapat berlangsung di ruang Rupatama Mapolda Kepri, Selasa (11/12/2018) lalu.
Koordinasi tim yang terdiri dari Polda Kepri, Disperindag Kepri, Bea Cukai Batam serta stakeholder lainnya dilakukan untuk memantau ketersediaan pangan.
Hal ini sekaligus mengantisipasi kenaikan harga menjelang Natal dan tahun baru 2019.
Dirkrimsus Polda Kepri, Kombes Pol Rustam Mansur saat itu mengatakan, beberapa instansi terkait dari seluruh kabupaten/kota ikut dalam rapat ini begitu juga dari Pemprov Kepri.
"Persediaan bahan pangan jelang Natal dan Tahun Baru masih mencukupi. Wilayah di Kabupaten Natuna, Lingga dan Anambas untuk harga bahan pokok dan pangan memang berada di atas harga pasar, hal ini dipengaruhi oleh letak geografis dan transportasi pengiriman," kata Rustam sebelumnya.
Koordinasi aktif akan dilakukan tim ini dengan instansi terkait seperti Disperindag, Bulog, BPPOM, Bea Cukai, TNI, Dishub dan Karantina memantau stabilitas harga pangan.
Operasi pasar bisa dilakukan bila terjadi lonjakan harga dan kelangkaan dengan melibatkan stakeholder terkait.
Ia mengimbau distributor agar tidak menimbun barang kebutuhan pokok. Bahkan harusnya dapat menambah pasokan untuk menghindari terjadinya kelangkaan dan pendistribusian bahan pokok.
"Kami akan cek secara berkala bersama dengan instansi terkait. Penegakkan hukum bisa dilakukan terhadap oknum distributor yang terlibat dalam monopoli sembako," pungkasnya.

Jelang Natal 2019, Kenaikan Harga Telur dan Cabai Perlu Diwaspadai

Sebelumnya, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan rapat koordinasi (rakor) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Rabu (4/12/2019).
Rapat dipimpin oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setdako Batam, Pebrialin.
"Dalam rapat ini kita akan melakukan antisipasi kemungkinan yang akan terjadi. Kita mendapatkan info BPS (Badan Pusat Statistik) Batam bahwa 4 bulan terakhir Batam mengalami deflasi," ujar Pebrialin.
Artinya, inflasi di Batam dibawah 0 ataupun minus. Harusnya ada keseimbangan.
"Kita tak boleh berbangga dan harus berharap ada keseimbangan. Secara nasional kisaran inflasi 3,5 persen plus minus 1. Januari hingga November di Batam kisaran 68.
Kita masih dibawah kisaran nasional. Kedepan perlu langkah-langkah strategis," katanya.
Berdasar informasi dari distributor telur, harga telur saat ini mencapai Rp 44 ribu, padahal biasanya hanya Rp 28 ribu. Bisa saja beberapa daerah harganya lebih tinggi. 
"Telur Medan dengan telur Batam lebih murah telur Medan. Kualitas lebih bagus telur Barelang karena lebih fresh. Kalau telur Medan berarti sudah beberapa hari," ujarnya.
Pebrialin melanjutkan harga cabaipun berpengaruh saat ini. Walaupun harganya saat ini selalu berubah-ubah.
"Kita bersyukur di Batam, cabai hijau menguasai pasar Batam yang bersumber dari Barelang. Berarti mencapai 40 hingga 60 persen," katanya.
Di tempat yang sama, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam, Iik mengatakan, untuk menangani inflasi di Batam, ia mengakui ada 15 hektare lahan di Barelang yang akan ditanami bawang. 
Dana tersebut berasal dari APBN. 
"Akan diserahkan kepada kelompok. Nah kelompok ini akan mengembangkan umbinya," katanya.
Sejauh ini kebutuhan bawang merah setiap bulan di Batam mencapai 319, 655 ton. Sementara ketersediaan di Batam mencapai 467 ton.
Sementara itu, perihal pengamanan jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2020 (Nataru) Bandara dibahas oleh Direktur Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim Batam, Suwarso. 
Ia mengatakan terkait pengamanan di wilayah Bandara pihaknya akan menyiapkan posko jelang Perayaan Nataru nanti. 
"Kami menyiapkan satu posko gabungan di luar terminal dan satu posko untuk laporan internal kita didalam," ujarnya.
Terkait dengan tenaga Aviation Security (Avsec) atau petugas keamanan yang bertugas menjaga dan menjamin keselamatan pengguna jasa penerbangan, Suwarso mengatakan sudah dipersiapkan dan tidak ada masalah. 
"Untuk Polsek juga kita akan berkoordinasi, namun pada prinsipnya kami siap untuk menyongsong datangnya kegiatan Natal dan Tahun Baru," tuturnya.
Suwarso memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada 23 Desember 2019 mendatang dan puncak arus balik akan terjadi pada 3 Januari 2020.
Terkait adanya penambahan penerbangan oleh para maskapai, Suwarso mengatakan belum ada maskapai yang mengajukan ekstra flight. 
"Tapi kita masih menunggu arahan pusat, apakah sudah ada maskapai yang mengajukan ekstra flight atau belum,” ucapnya.
Untuk tiket, kata dia, setiap maskapai mengikuti aturan yang berlaku. Sesuai dengan batas atas ataupun batas bawah yang sudah ditentukan.
Sementara itu, Perwakilan Masakapai Citilink, mengatakan untuk harga pihaknya tetap mengikuti tarif batas atas. Karena kebetulan di saat natal ada fix season buat penerbangan. 
"Untuk saat ini kita masih mengikuti perkembangan yang sesuai diterapkan dibandara Batam," katanya. 
Cabai Merah, Kacang Panjang Sumbang Deflasi 

Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) tercatat mengalami deflasi sebesar 0,03 persen (mtm) pada November 2019, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. 

Kepri masih bisa diselamatkan dari ancaman inflasi menjelang akhir tahun, meskipun beberapa komoditas mengalami kenaikan harga hingga 0,15 persen di provinsi ini, seperti yang terjadi pada bawang merah, daging ayam ras, bayam, kangkung, serta sawi hijau. 

Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri, Fadjar Majardi mengatakan, komoditas utama penyumbang deflasi Kepri pada November 2019 yaitu cabai merah, kacang panjang dan juga angkutan udara. 

“Deflasi Kepri pada November 2019 bersumber dari penurunan harga pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan dan kelompok sandang,” ujarnya, Kamis (5/12/2019). 

Fadjar menjelaskan, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,28 persen (mtm), dengan andil -0,05 persen (mtm). 

 Harga Cabai Merah di Pasar TPID Batam Turun

Sementara untuk komoditas utama penyumbang deflasi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan adalah angkutan udara yang kembali mengalami deflasi pada November 2019 sebesar 1,55 persen (mtm) dengan andil sebesar -0,06 persen (mtm). 

“Penurunan tarif angkutan udara terutama didorong oleh maskapai penerbangan berbiaya murah atau Low-Cost Carrier (LCC) yang terus melakukan penyesuaian harga tiket seiring dengan masih berlangsungnya masa low season di tengah permintaan yang cenderung melemah,” jelasnya. 

Sementara itu, kelompok sandang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,29 persen (mtm) dengan andil -0,02 persen (mtm) setelah pada bulan sebelumnya tercatat mengalami inflasi sebesar 0,1 persen (mtm) dengan andil 0,01 persen (mtm). 

“Adapun penurunan harga pada kelompok ini bersumber dari komoditas emas perhiasan yang mengalami deflasi tercatat sebesar 1,43 persen (mtm) dengan andil -0,02 persen (mtm), didorong oleh harga emas dunia yang tercatat mengalami penurunan sebesar -0,92 persen (mtm) pada November 2019,” ujarnya. 

Fadjar menilai, secara spasial Kota Batam dan Tanjungpinang mengalami deflasi. Deflasi Batam pada November 2019 tercatat sebesar 0,01 persen (mtm) atau inflasi 1,89 persen (yoy), sementara Tanjungpinang mengalami deflasi sebesar 0,17 persen (mtm) atau inflasi 2,07 persen (yoy). 

“Komoditas utama penyumbang deflasi Batam adalah cabai merah, kacang panjang, dan angkutan udara sementara komoditas utama penyumbang deflasi di Tanjungpinang adalah cabai merah, ikan tongkol/ambu-ambu dan cabai rawit,” terangnya. 

(Tribunbatam.id/leo halawa/roma uly sianturi/Nabella Hastin Pinakesti

Penulis: Leo Halawa
Editor: Dewi Haryati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved