Ibu Ibu PKK Kelurahan Belian Olah Plastik Bekas Jadi Produk Bernilai Jual 

Ketua PKK, Retno mengatakan, karya ini berawal dari pergelaran lomba Agustusan pada 2017, untuk membuat tempat tisu dari bahan bekas

Ibu Ibu PKK Kelurahan Belian Olah Plastik Bekas Jadi Produk Bernilai Jual 
tribunbatam.id/nabella
Para ibu-ibu PKK RW 11, Kecamatan Belian, Batam Kota saat menunjukkan hasil karya olahan plastik bekas.  

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Di zaman digital saat ini, banyak ilmu yang bisa dipelajari. Salah satu kelompok masyarakat yang memanfaatkan era digitalisasi yaitu ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di RW 11, Kelurahan Belian, Batam Kota. 

Ketua PKK dari RW 11 dan juga pengurus Bank Sampah Bunga Kertas, Retno Salfinar mengatakan, kelompoknya memanfaatkan platform digital yaitu Youtube untuk mempelajari bagaimana cara mengolah plastik bekas. 

“Karya ini awal mula tercetusnya datang dari pergelaran lomba Agustusan pada 2017, untuk membuat tempat tisu dari bahan bekas,” ujarnya, Rabu (11/12/2019). 

Atas dasar itulah, Retno beserta kelompok PKK di RW 11 tersebut berinisiatif untuk melanjutkan menjadi kegiatan rutin.

Hasilnya, ibu-ibu PKK tersebut mampu menghasilkan karya berbahan dasar ring gelas plastik bekas yang diolah menjadi berbagai produk. 

Produk yang dihasilkan diantaranya yaitu tempat tisu, tempat gelas, piring, tempat telur untuk akikah, dan vas bunga. 

UN Untuk Pelajar Dihapuskan, Diganti Dengn Asesmen Kompetensi Minimum yang Berbasis Komputer

Beranggotakan 71 orang, Retno memaparkan untuk mengolah plastik bekas menjadi berbagai macam produk, sepenuhnya dilakukan oleh anggota grup dengan menonton tutorial yang ada di Youtube, sehingga tidak memerlukan pelatih. 

“Namun untuk pakar ahlinya yang merancang dan memberikan ide untuk produk yang akan dibuat ada 10 orang," imbuh Retno.

Dilakukan setiap Sabtu dan Minggu, Retno menuturkan tak jarang para ibu-ibu menyelesaikan pembuatan produknya sembari dibawa pulang ke rumah untuk dijadikan kegiatan pengisi waktu luang. 

Untuk pengumpulan bahan baku, setiap bulannya masing-masing anggota PKK diwajibkan menyetorkan 20 buah ring bekas. 

Selain itu,  jika bahan baku yang dimiliki kurang, Retno juga sering kali mengambil dari stok bank sampah yang ada. 

Peringati Hakordia, BPJamsostek Ajak Kampanye Anti Korupsi Melalui Media Sosial

Sementara untuk ring bekas dari Bank Sampah, Retno menjelaskan biasanya dibeli seharga Rp 3.400 untuk satu kilogramnya. 

“Kalau dari individu saja, kurang. Itu kadang kami juga suka mengumpulkan gelas plastik bekas dari kegiatan di masyarakat," ujarnya.

Setelah diproduksi, produk yang dihasilkan biasa dipasarkan pada kegiatan bazar, baik di lingkungan kelurahan, kecamatan hingga tingkat PKK Kota. 

Harga yang dipatok untuk masing-masing produk juga beragam, tergantung dari ukuran dan kesulitan, yaitu mulai dari Rp 70 ribu hingga Rp 250 ribu. 

“Kalau fokus, untuk membuat satu tempat minuman bisa selesai dalam waktu seminggu, tapi karena kami tidak hanya mengerjakan ini, satu produk ini bisa selesai dalam waktu 1 bulan," kata anggota pakar, Qomariah.

Proses terlama dalam pembuatan produk tersebut, datang dari proses pelilitan ring bekas menggunakan lapisan metalic. Untuk melapisi satu ring, disebutkan waktu sekitar 5 menit.

Meskipun mampu memproduksi jumlah kerajinan tangan dalam jumlah banyak, kelompok PKK tersebut bingung hendak kemana lagi memasarkan produknya. 

“Kami saat ini belum tahu bagaimana cara memasarkan produk. Untuk pembuatan sendiri saat ini kami tidak memiliki kendala,” ucapnya. 

Kelompok PKK tersebut berharap ada dukungan dari pemerintah untuk membimbing proses pemasaran produk karya para kelompok masyarakat. (Tribunbatam.id/Nabella Hastin Pinakesti

Penulis:
Editor: Dewi Haryati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved