HEADLINE TRIBUN BATAM

Kami Kira Gempa dan Pesawat Jatuh, Tanah Timbunan di Belakang Pasar Induk Amblas

Timbunan tanah milik perusahaan swasta di kawasan sekitar Pasar Induk, Jodoh, amblas, Minggu (29/12/2019) dini hari, sekitar pukul 03.30 WIB.

Kami Kira Gempa dan Pesawat Jatuh, Tanah Timbunan di Belakang Pasar Induk Amblas
wahyu indri yatno
halaman 01 TB 

“Kupikir ada gempa, sebelumnya aneh juga memang. Kok ada tikus berlarian. Terus digendong warga ke sini,” cerita nenek Febri.

Kaki nenek Febri juga terlihat dibalut perban.

Ketika ditanya, ia mengatakan kakinya terkena bara api ketika memasak air di tempat pengungsian.

“Ini kena air panas, masak air pun jadi susah karena harus pakai kayu diluar. Ginilah jadinya,” tuturnya.

Untung, Tim Dokkes dari Polda Kepulauan Riau yang ada di lokasi langsung mengobatinya.

Tidak hanya nenek Febri, beberapa warga lain juga terlihat berada di luar rumah.

Mereka tidur kelelahan di atas atap seng yang baru dilkumpulkan.

Untuk membangun rumah di bekas reruntuhan juga terlihat tidak mungkin karena rumah itu kini menyatu dengan air dan tanah longsoran.

Menurut Mastoni, sebelum bencana amblasnya tanah timbunan itu, mereka memang pernah didatangi oleh perusahaan yang diduga hendak menimbun kawasan itu.

Pihak perusahaan yang meminta warga untuk mengosongkan rumah yang ditinggali.

"Sudah berulang kali pihak perusahaan mendatangi kami, meminta untuk pindah. Katanya tanah yang kami huni ini milik mereka dan akan segera membangun gedung di sini," ujar Mastoni.

Ia sendiri tidak tahu perusahaan tersebut. Mereka belum bersedia pindah karena tidak tahu mau pindah kemana.

“Kami tinggal disini bukan lagi 5 sampai 10 tahun, melainkan sudah hampir 20 tahunan,” katanya.

Keluarga dan anak-anaknya juga dibesarkan di sini.

"Kini kami tak tahu jalan keluarnya bagaimana. Ya, tunggu pemerintahlah,” katanya.

Seorang ibu rumah tangga bernama Misra mengatakan, ia pernah digusur dari rumahnya, bulan lalu.

Pihak penggusur mengatakan hendak membayar ganti-rugi.

Namun sampai sekarang tak ada bayaran yang ia terima. Bahkan, barang-barangnya ditelantarkan setelah dibongkar.

"Tepat bulan lalu saya digusur dari sini, katanya merekanakan mengganti rugi semua kerugian atas rumah saya, namun apa? sampai sekarang ganti rugi tidak ada," ujar Misra sembari menunjukkan lokasi rumah yang kini telah menjadi lokasi penimbunan.

Puluhan warga yang terdampak oleh amblasnya timbunan tanah itu berencana minta pertanggung jawaban kepada pihak perusahaan atas ambruknya rumah mereka.

"Rumah kami dari dulu aman-aman saja, tidak pernah ada kejadian. Namun semenjak adanya aktivitas penimbunan itu warga sini sering ditimpa masalag," ujar Misra.

"Kalau hujan terjadi lumpur, air jadi merah dan kalau siang debu tanah bukan main banyaknya. Sekarang rumah kami pun ambruk,” ucapnya.

Dari informasi yang didapatkan di lapangan, lokasi penimbunan tersebut milik pengusaha besar dan aktivitas penimbunan dilakukan oleh PT UJKM.

Camat Lubuk Baja, Novi Harmadyastuti mengaku tidak pernah mengetahui adanya penimbunan di lokasi itu karena tidak ada yang mengurus analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan izin mendirikan bangunan (IMB) kepada pihaknya.

"Terkait ijin-ijinnya ada atau tidak, itu urusan Dinas," sebutnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak pengusaha pemilik lahan atau timbunan tanah tersebut, maupun kontraktornya. (blt/koe/adk)

Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved