Sambil Bawa Spanduk Gabungan Mahasiswa Demo Kantor Bulog Sub Divre Tanjungpinang, Bulog Sakit?

Lelang 500 ton beras Bulog dengan harga Rp 1.127 Per kilogram jadi tuntutan mahasiswa dalam aksi demonya di depan kantor Bulog Sub Divre Tanjungpinang

TRIBUNBATAM.id/THOM LIMAHEKIN
Dua truk siap mengantar beras Bulog ke pasaran setelah diluncurkan di Gudang Bulog Sub Divre Tanjungpinang. 

TRIBUNBATAM.id, TANJUNGPINANG - Gerakan Pemuda Kepulauan melakukan aksi demo di Kantor Bulog Sub Divre Tanjungpinang, Jumat (3/01/2020).

Beberapa tuntutan disampaikan gabungan mahasiswa ini. Lelang 500 ton beras Bulog dengan harga Rp 1.127 Per kilogram contohnya.  

Membawa satu unit mobil kendaraan bak terbuka berwarna putih, mahasiswa terlihat memasang baleho yang bertuliskan Bulog Sakit?

Mahasiswa menilai Bulog tidak transparan dalam mengelola operasionalnya. Negara menurut mahasiswa ini diduga mengalami kerugian. 

Kordinator Aksi Erik Ramtona menyampaikan, pihak Bulog telah gagal dalam pengendalian beras.

Dalam undang-undang Kementerian Pertanian, ada jangka waktu 3 sampai 4 bulan terhadap kualitas beras.

"Padahal kalau standar harganya Rp 8 ribu per kilogram. Bayangkan, yang seharusnya negara mendapatkan penghasilan Rp 160 Miliar, malah mendapat Rp 23,8 Miliar saja. Kenapa malah mementingkan lelang kepada industri, bukan malah masyarakat. Seharusnya pihak bulog sudah bisa memperhitungkan hal ini, akan lebih baik jauh sebelum beras turun kualitasnya, bisa membagikan kepada masyarakat," sebutnya.

Sejumlah mahasiswa menggelar demo di Kantor Bulog Sub Divre Tanjungpinang, Jumat (3/1/2020). Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Kepulauan ini menilai Bulog tidak mampu mengelola operasional termasuk ketersediaan beras.
Sejumlah mahasiswa menggelar demo di Kantor Bulog Sub Divre Tanjungpinang, Jumat (3/1/2020). Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Kepulauan ini menilai Bulog tidak mampu mengelola operasional termasuk ketersediaan beras. (tribunbatam.id/endrakaputra)

Menanggapi demo Mahasiswa, kepala Bulog Sub Divre Tanjungpinang, Edison membenarkan adanya lelang beras tersebut.

Ia pun mengatakan, beras yang dijual dengan cara lelang juga dalam kondisi tidak dapat dikonsumsi manusia dan hewan.

"Beras ini untuk industri ethanol, yang jelas bukan untuk dikonsumsi," ucapnya.

Menurutnya, sekitar 500 Ton beras stok tahun 2016-2017 tidak disalurkan karena tidak ada penyalurnya. Beras berakhir dengan kondisi yang buruk.

Ia menjelaskan, bahwa saat itu ada program Bansos Rastra Tanjungpinang yang beralih, jadi ketersediaan beras dari Bulog tidak terealisasikan.

"Pemko ngambilnya tidak ke Bulog lagi, tapu ke pedagang umum. Kenapa tidak kami yang menyalurkan. Kami bekerja sesuai intruksi pusat, jadi tidak bisa bekerja dengan arahan sendiri," sebutnya.(Tribunbatam.id/endrakaputra)

Penulis: Endra Kaputra
Editor: Septyan Mulia Rohman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved