Curhat Megawati Soekarnoputri, 47 Tahun di PDI Perjuangan Masih Merasa Gelisah

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merefleksikan pahit manisnya perjalanan politik yang telah ia tempuh selama 47 tahun partai berdiri.

Curhat Megawati Soekarnoputri, 47 Tahun di PDI Perjuangan Masih Merasa Gelisah
(KOMPAS/YUNIADHI AGUNG)
Megawati Soekarnoputri 

#Curhat Megawati Soekarnoputri, 47 Tahun di PDI Perjuangan Masih Merasa Gelisah

TRIBUNBATAM.id - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merefleksikan pahit manisnya perjalanan politik yang telah ia tempuh selama 47 tahun partai berdiri.

"Kegembiraan, kepedihan, kemajuan-kemajuan, harapan-harapan, kekecewaan-kekecewaan, rasa unggul, rasa pahit, rasa getir, rasa manis, rasa cemas, rasa letih, rasa babak bundas, semua sudah kita alami," ucap Megawati dalam pidato politiknya saat Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP sekaligus peringatan HUT Ke-47 partai di JIExpo, Jumat (10/1/2020).

Setelah PDI Perjuangan berturut-turut menang dalam dua kali Pemilu, 2014 dan 2019, pertanyaan yang selalu menghentak dalam dada saya, inikah makna sesungguhnya kemenangan politik.

"Beberapa hari ini saya merenung. Saya mencoba menggali kembali lembar-lembar perjalanan kehidupan politik yang telah saya lewati," tutur Megawati.

Megawati Soekarnoputri
Megawati Soekarnoputri ((KOMPAS/YUNIADHI AGUNG))

Perenungan spiritual itu mengantarkan Megawati, pada kotak pandora ingatan, kotak yang berisi cita-cita dan gagasan politik seorang lelaki, yang ia panggil Bapak, yaki Bung Karno.

Bung Karno yang telah menempa Megawati sejak kecil untuk hidup di jalan pengabdian kepada tanah air dan bangsa.

Lalu Megawati pun mengingat pesan sang bapak.

“Saya memohon kepada Allah SWT tetapkanlah kecintaanku kepada tanah air dan bangsa, selalu menyala-nyala di dalam saya punya dada, sampai terbawa masuk ke dalam kubur saat Allah memanggilku pulang.” (Di Bawah Bendera Revolusi, 1941).

"Itulah doa Bapak, ayah saya, yang biasa dipanggil oleh rakyat Indonesia dengan sebutan Bung Karno," kenang Megawati.

"Doa Bapak selalu menuntun saya saat saya merasa gamang atau hampir kehilangan asa dalam pertarungan politik. Doa Bung Karno selalu mampu menuntun saya kembali ke niat awal, mengapa saya sebagai seorang perempuan dan seorang Ibu, memutuskan membangun partai politik," kenang Megawati.

Niat itu, kata Megawati, berupa keyakinan terhadap ideologi Pancasila.

Halaman
1234
Editor: Aminudin
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved