Breaking News:

50.000 Kapal Lintasi Selat Malaka Tiap Tahun, Batam Jangan Hanya Jadi Penonton

Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengungkapkan rasa optimisnya terhadap beroperasinya Ship to Ship Floating Storage Unit (STS FSU) Batam

(Istimewa)
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI (Sesmenko Perekonomian) didampingi Wakil Kepala BP Batam Purwiyanto dan Anggota Bidang Pengusahaan Sjahril Japarin saat membuka FGD di Jakarta. 

TRIBUNBATAM.id,- Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI (Sesmenko Perekonomian) Susiwijono Moegiarso mengungkapkan rasa optimisnya terhadap beroperasinya Ship to Ship Floating Storage Unit (STS FSU) di kawasan perdagangan bebas Batam yang dapat meningkatkan potensi pendapatan negara yang selama ini belum pernah dilakukan di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Sesmenko Perekonomian saat membuka resmi Focus Group Discussion (FGD) Floating Storage Unit (FSU) di Kawasan Pelabuhan dan Perdagangan Bebas Batam, Jumat (24/01/2020) lalu di Hotel Borobudur Jakarta.

Susiwijono merasa optimis, karena hal ini diperkuat dengan posisi Batam sebagai Free Trade Zone (FTZ) berstatus wilayah di luar pabean pertama yang melakukan kegiatan STS FSU.

“Sebenarnya FSU ini sudah kita diskusikan cukup panjang. Karena sangat disayangkan sekali jika kegiatan ekonomi ini kita lewatkan. Dengan beroperasinya Ship to Ship Floating Storage Unit (STS FSU) ini, saya yakin percepatan pertumbuhan ekonomi Batam dapat dimaksimalkan,” ujar Susiwijono.

Namun Susiwijono mengakui, bahwa STS FSU harus memperjelas regulasi untuk mengatur proses bisnisnya.

Ia berharap melalui FGD ini, seluruh pemangku kepentingan yang terkait dapat menyusun peraturan-peraturan yang berkaitan dengan STS SFU dan selaras dengan kondisi di lapangan.

“Kita harus manfaatkan potensi FSU ini, karena negara tetangga kita sudah memanfaatkannya lebih dulu. Jangan sampai kita yang lebih strategis posisinya hanya jadi penonton saja,” tegas Susiwijono.

Susiwijono dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada BP Batam atas pelaksanaan FGD ini sebagai komitmen optimalisasi peluang dan lokasi kemaritiman Batam yang dinilai sangat strategis.

Diketahui saat ini tercatat lebih dari 50.000 kapal melintasi Selat Malaka setiap tahunnya.

Sekaligus merupakan choke point terbesar kedua di dunia dengan volume traffic 16 juta barrel minyak dan 3 Trillion Cubic Feet (TCF) Liquefied Natural Gas (LNG) per hari.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved