HUMAN INTEREST
21 Tahun Mengemudi Pompong, Pernah Hanya Dapat Rp 20 Ribu Sehari, Begini Cerita Francis Fora
Francis Fora (40), pengemudi pompong di Natuna pernah hanya mendapat Rp 20 ribu sehari
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Dewi Haryati
NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Melakoni pekerjaan sebagai penyedia jasa transportasi memang tidak selalu nikmat. Kisah hidup yang pelik kerap dihadapkan tanpa solusi.
Bagaimana tidak, demi keberlangsungan hidup, penyedia jasa transportasi ini hanya bergantung pada jumlah penumpang yang hendak menyebrang.
Ironisnya, bahkan penghasilan dalam sehari pernah didapat hanya Rp 20.000.
Begitulah kisah Francis Fora (40), warga Desa Teluk Labu, Pulau Sei Dedap, Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna.
Sembari mengemudikan kapal pompong yang berukuran 40 kaki dengan mesin dompeng, Francis bercerita kepada Tribun, bahwa lautan telah melekat dalam dirinya.
Bagaimana tidak sejak ia lahir, tinggal dan menetap hingga memiliki anak di Pulau Sei Dedap, Natuna.
Meski pulau yang ia diami jauh dari kata keramaian kota, Francis senang. Sebab kehidupan di lautan mengajarkannya mencinta lingkungan laut.
• DAMPAK Virus Corona, Wisatawan Mancanegara Pilih Tunda Liburan ke Natuna, Ini Kata Pengusaha Travel
• Jadi Lokasi Observasi WNI asal Wuhan, Kini Giliran Warga Daerah Lain Takut Dekat Orang Natuna
Walau begitu, banyak kisah pilu yang dilalui Francis sebagai penyedia jasa transportasi laut. Mulai dari dapat penumpang hingga tidak ada penumpang.
"Ya begitulah bang. Kadang tidak dapat penumpang. Setoran ke istri pun tak ada. Pernah hanya nyetor ke istri Rp 20.000. Jadi duit itulah yang dibagi-bagi istri untuk kebutuhan anak dan dapur," ujarnya, Sabtu (8/2/2020).
Dengan jumlah penghasilan itu, Francis mengaku harus memenuhi kebutuhan istri dan 4 orang anaknya.
Tidak hanya itu, kata dia bahkan saat gelombang ombak kuat, kapal juga terbengkalai untuk menyebrang.
"Bahaya bang, penumpang juga takut, ditambah lagi kapal kan mengangkut motor, sempat jatuh jadi tanggungjawab kita," katanya.
Francis merincik ongkos penumpang yang ia terima dari setiap penumpang hanya berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000, tergantung pulau yang dilintasi.
Begitulah Francis Fora menggantungkan hidupnya sebagai penyedia jasa transfortasi warga antar pulau di Kecamatan Pulau Tiga itu.
Memang jumlah pendapatan sehari, kata Francis tidak selamanya demikian. Ada momen ia meraup penghasilan yang banyak.
"Waktu panen cengkeh itu momen paling enak. Banyak warga yang nyebrang antar pulau. Misalnya ada yang mau ke pulau untuk panen cengkeh," sebutnya.
Diketahui, sudah 21 tahun Francis mengemudi pompong. Ia menekuni pekerjaan sebagai penyedia jasa transportasi antar pulau Selat Lampa, Pulau Tiga, Pulau Tanjung Kumbi, dan pulau Sabang Mawang di Natuna.
(Tribunbatam.id/bereslumbantobing)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/francis-fora-40-warga-desa-teluk-labu-pulau-sei-dedap.jpg)