HEADLINE TRIBUN BATAM
Pasien Sembuh Jadi Obat, 1.700 Staf Medis Tertular Corona, Sehari, 5.000 Penderita Baru
Berbagai upaya untuk menekan wabah virus corona atau COVID-19 di wilayah epidemi di China, belum memperlihatkan tanda-tanda akan berhasil.
Pasien Sembuh Jadi Obat, 1.700 Staf Medis Tertular Corona, Sehari, 5.000 Penderita Baru, 121 Meninggal
NANCHANG, TRIBUNBATAM.id - Berbagai upaya untuk menekan wabah virus corona atau COVID-19 di wilayah epidemi di China, belum memperlihatkan tanda-tanda akan berhasil.
Bahkan, wabah itu semakin ganas karena China mengumumumkan peningkatan drastis jumlah penderita dan korban meninggal.
Sepanjang Kamis malam hingga Jumat (14/2), China melaporkan 5.000 lebih kasus baru dan 121 kematian dalam satu hari.
Akibatnya, total penderita virus mematikan itu saat ini mencapai 64.452 penderita dan 1.380 orang meninggal. Sementara jumlah penderita yang berhasil disembuhkan baru 7.119 orang.
Hal yang paling mencemaskan adalah, virus itu dilaporkan semakin banyak menyerang tim medis yang berjibaku di Provinsi Hubei, pusat wabah.
Dilansir Tribun dari South China Morning Post, untuk pertama kalinya Beijing menyebutkan bahwa 1.716 staf medis terpapar virus corona.
Pemerintah China memang terus mengerahkan bantuan medis ke provinsi yang berpenduduk 20 juta jiwa tersebut. Di provinsi itu ada 13 kota yang saat ini dilanda wabah, terutama sekali ibukotanya Wuhan.
Kantor berita Xinhua melaporkan bahwa pada Rabu, ada 11 pesawat angkut Angkatan Udara jenis Y-20 ke Wuhan.
Pesawat logistik tersebut merupakan yang terbaru dan untuk pertama kalinya digunakan dalam mengangkut tim medis dan logistik di luar kepentingan militer.
Tidak dijelaskan, berapa anggota Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang dikirim ke Wuhan, namun dari pantauan gambar, jumlahnya ratusan orang.
Selain itu, 600 tim medis gelombang keempat juga dikerahkan dari Nanchang, Provinsi Jiangxi, ke Wuhan. Mereka dilepas seperti pasukan yang hendak berperang oleh keluarga dan petugas stasiun kereta api di ibukota China bagian timur itu.
Dukungan moral tersebut memang sangat penting mengingat mereka akan bertempur melawan musuh yang tak tampak.
"Kami tidak akan mudah menyerah selama ada secercah harapan," kata seorang dokter.
Selain itu, 233 tim medis yang terdiri dari dokter dan perawat juga bertolak dari Xiangyang, Provinsi Liaoning menuju Hubei. Meskipun mengepalkan tangan, namun perpisahan mengharukan dengan keluarga tetap tak terhindarkan.
Sejak pecahnya COVID-19, Beijing mengerahkan bantuan medis dari berbagai provinsi ke Hubei.
Mereka bekerja dengan tekanan berat karena setiap hari, ada ribuan orang yang masuk rumah sakit. Beberapa foto Xinhua menunjukkan wajah mereka yang lecet-lecet akibat sepanjang hari mengenakan masker.
Provinsi Hubei, pusat wabah, melaporkan 4.823 kasus baru dan menunjukkan bahwa 10 hari berturut-turut, tidak ada penurunan kasus.
Direktur Komisi Kesehatan China menyebutkan, penggunaan metrik scanner terbaru yang lebih baik daripada thermal scan, membuat jumlah penderita naik dengan cepat.
Sehingga Beijing akan mencoba alat ini ke provinsi lain. Alat ini mampu mendeteksi virus meskipun orang tersebut tidsk memiliki gejala, seperti demam dan batuk.
Zeng juga mengumumkan bahwa 1.716 pekerja medis terinfeksi dengan virus corona. Jumlah pekerja medis yang terinfeksi 3,8 persen dari total infeksi di daratan China.
Sebanyak 1.502 terinfeksi di Hubei, dan 1.102 di antaranya di pusat wabah, Wuhan.
Penggunaan Plasma
Meskipun peningkatan epidemi terlihat mencemaskan, namun ada harapan baru dalam pengobatan pasien. Plasma dari pasien yang pulih dari virus akan digunakan untuk melawan COVID-19, kata China National Biotec Group, Kamis malam.
Plasma ini akan menjadi antibodi penawar virus. Dari percobaan yang dilakukan membuktikan bahwa plasma ini dapat secara efektif membunuh virus, menurut laporan Beijing News, Jumat.
Perusahaan itu mengklaim berhasil menghasilkan plasma untuk perawatan klinis setelah tes keamanan biologis darah yang ketat, inaktivasi virus dan pengujian aktivitas antivirus.
Plasma telah digunakan untuk mengobati 11 pasien dalam kondisi kritis dan hasilnya signifikan, kata perusahan itu.
Fase pertama perawatan dilakukan pada tiga pasien sakit kritis di Wuhan pada 8 Februari dan plasma saat ini sedang digunakan untuk merawat lebih dari 10 pasien sakit kritis.
Tes klinis menunjukkan bahwa setelah 12 hingga 24 jam perawatan, indikator inflamasi utama di laboratorium menurun secara signifikan.
Begitu juga proporsi limfosit meningkat. Indikator kunci seperti saturasi oksigen darah dan viral load juga meningkat.
“Produk untuk mengobati virus corona baru ini berasal dari plasma yang diisi antibodi sumbangan pasien yang pulih,” menurut keterangan perusahaan. (yan/cna/scmp/afp/xinhua/global times)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/headline-15-feb-2020.jpg)