Breaking News:

HUMAN INTEREST

Kisah Parlaungan Siregar si 'Presiden Nato', Jadi Kuli Pelabuhan Hingga Gabung ke Komling

Perjalanan hidup Parlaungan Siregar si 'Presiden Nato' menarik untuk dikuti. Sebelum menetap di Kota Batam, beragam profesi pernah ia lakoni.

Penulis: Pertanian Sitanggang | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Ian Sitanggang
Parlaungan Siregar atau yang biasa dikenal dengan Presiden Nato. 

Parlaungan menjadi Kepala preman di Jalan Pandu dari Tahun 1968 sampai 1970 dan di akhir Tahun 1970 Parlaungan baru Kembali ke kampung halamannya, setelah ditinggalkannya tahun 1963 silam atau tujuh tahun kemudian Parlaungan sudah dewasa.

Saat Parlaungan pulang ke Kampung halamannya, orang tuanya sangat senang dan bahagia, anak yang sempat dianggap hilang kembali.

Jiwanya yang sudah terbentuk dengan keras dan hari harinya banyak dihabiskan di pasar. Parlaungan tidak betah di Kampung dan kembali meninggalkan kampung halamannya pada Tahun 1971 merantau ke Palembang.

Di Palembang Parlaungan bergabung dengan Komling. Kelompok ini tidak pernah diketahui masyarakat kegiatannya, bahkan sampai saat ini orang masih bertanya apa itu Komling. sebutan pasa zaman itu.

"Komling itu sebenarnya 'Komunitas Maling', antar negara," kata Parlaungan.

Dari Tahun 1971 sampai dengan 1978 Parlaungan tergabung dengan anggota Komling yang beroperasi di Jakarta, Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Timur, dan kota kota besar di Indonesia. Mereka juga beroperasi di Filipina, Hongkong, Bangkok, Singapura dan Malaysia.

Tahun 1979 Parlaungan kembali pulang kampung, untuk melepas rindu dikampung halamannya. Setelah sampain dikampung halaman. Orangtua Parlaungan langsung mencarikan pendamping kepada dirinya dan orangtuanya meminta agar istri yang akan dipersuntingnya harus pilihan orang tuanya.

"Saya akhirnya menikah dengan istri tercinta boru Manalu Rambe, sesuai dengan pilihan orang tua," ucapnya.

Setelah melangsungkan pernikahan tahun 1979, Parlaungan kembali meninggalkan kampung halamannya dan berangkat merantau ke Batam.

Di Batam Parlaungan Siregar dikenal luas masyarakat Kepri dan Batam, khususnya masyarakat asli yang sudah memiliki umur di atas 50 tahun, sebagai Presiden Nato.

Motto hidupnya adalah lebih baik pegang kepala Tikus dari pada pegang ekor gajah. Yang artinya lebih baik berbuat kecil tetapi memiliki pengaruh, dari pada berbuat besar tetapi tidak memberi pengaruh.(TribunBatam.id/Ian Sitanggang)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved