TRIBUN WIKI

Mengenal Happy Five, Jenis Obat di Kasus Ririn Ekawati

Aktris Ririn Ekawati diamankan pihak kepolisian di kawasan Jakarta Selatan untuk kasus narkoba. Ditemukan barang bukti berupa pil Happy Five

zoom-inlihat foto Mengenal Happy Five, Jenis Obat di Kasus Ririn Ekawati
Tribunnews Wiki
pil erimin five

TRIBUNBATAM - Aktris Ririn Ekawati baru-baru ini diamankan pihak kepolisian di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan untuk kasus narkoba.

Dalam pengamanan tersebut, ditemukan lebih dari 30 butir pil Happy Five.

Kendati demikian, Ririn dinyatakan negatif narkoba setelah dilakukan pemeriksaan.

Pil Happy Five atau erimin sendiri adalah jenis obat keras untuk gangguan psikologi dengan nama generik nimetazepam.

Obat yang dikembangkan di Jepang dan Tiongkok ini termasuk golongan benzodiazepine.

Melansir Tribunnews Wiki, awalnya, obat nimetazepam diresepkan bagi pasien dengan gangguan tidur seperti insomnia dan kejang otot.

Negatif Konsumsi Narkoba, Polisi Masih Dalami Kasus Ririn Ekawati Karena Masuk BAP

Cara kerja nimetazepam adalah memperlambat aktivitas sistem saraf pusat di otak.

Akan tetapi, biasanya dokter baru akan meresepkan obat ini hanya jika pasien tidak merespon jenis obat lainnya.

Dengan kata lain, obat ini hanya akan diberikan jika terpaksa, tidak bisa sembarangan dan harus dalam pengawasan dokter.

Asal Usul

Di negara asal produksinya, Jepang, nama asli obat ini sebetulnya bukan Happy Five, tapi Erimin Five.

Obat ini mengandung zat yang punya karakteristik hipnotik dan sedatif bernama nimetazepam.

Mereka yang menggunakan obat ini biasanya akan merasa rileks, tenang, dan bahagia.

Maka dari itu, orang-orang yang menyalahgunakannya kemudian memberi julukan Happy Five untuk psikotropika ini.

Konon, orang Jepang mengonsumsi obat yang sudah mulai diproduksi pada tahun 1964 ini agar mereka semakin aktif dalam bekerja.

Saat ini peredarannya sudah merambah hingga ke berbagai negara di Asia seperti Laos, Singapura, Hong Kong, dan tentunya Indonesia.

Bahaya

Seperti obat-obatan jenis benzodiazepine lainnya, erimin sering disalahgunakan sebagai narkoba, terutama di negara-negara Asia termasuk Indonesia.

Banyak orang menyalahgunakan erimin karena obat ini bisa memberikan sensasi yang unik, yaitu tenang dan rileks.

Padahal, bahkan dengan pengawasan dokter dan dosis rendah saja obat ini sebenarnya sudah cukup berbahaya.

Efek samping

- Sakit perut

- Muncul ruam pada kulit

- Linglung

- Pusing

- Tremor (gemetaran)

- Diare

Ketergantungan

Bila seseorang mengonsumsi Happy 5 sebagai narkoba (dikonsumsi tanpa resep dokter dan dosisnya berlebihan), tentu dapat mengakibatkan ketergantungan.

Terlebih lagi ketika digunakan dalam dosis tinggi, obat ini dapat memberikan efek samping yang mematikan.

Jika orang yang sudah terbiasa mengonsumsinya melewatkan atau mengurangi dosis obat tersebut, muncullah reaksi putus obat (sakau) alias withdrawal symptoms.

Gejala-gejala yang timbul dari putus obat erimin

- Kecemasan berlebihan

- Gelisah, gugup, dan tidak bisa tenang

- Mual dan muntah

- Jantung berdegup cepat

- Berkeringat berlebihan

- Gemetaran parah

- Kram perut

- Linglung dan tidak bisa berpikir

- Kejang-kejang

- Kematian

Di samping berbagai bahaya di atas, konsumsi Happy 5 atau erimin dalam jangka panjang terbukti dalam sejumlah penelitian bisa meningkatkan risiko berbagai jenis kanker dan melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Orang yang mengonsumsi obat nimetazepam dalam jangka panjang juga lebih rentan mengalami efek samping dan gejala putus obat yang parah.

Maka, bukannya merasa bahagia alias happy, narkoba ini malah menyebabkan ancaman yang serius pada tubuh hingga nyawa seseorang.

Jika Anda atau orang yang Anda kenal mengalami gejala-gejala di atas atau menyalahgunakan nimetazepam dalam bentuk apa pun, segera periksa ke dokter dan hubungi panti rehabilitasi terdekat.

Kasus di Indonesia

Meski menurut pihak kepolisian obat ini tak banyak difavoritkan oleh para pemakai obat terlarang di Indonesia, tapi segmen peminatnya cukup menarik.

Biasanya datang dari kalangan anak muda, terutama artis.

Sebab, selain harganya lebih murah, barang ini juga lebih mudah didapat ketimbang ekstasi asli.

Alasannya rata-rata karena ingin sejenak melupakan kepenatan hidup atau istilah populernya adalah 'nge-fly'.

Memang usia remaja menuju dewasa adalah usia yang rawan terjerumus ke dalam jurang kenikmatan sesaat seperti ini.

Meski tak menutup kemungkinan ragam alasan lainnya seperti sekadar coba-coba, hiburan semata, atau menjaga stamina dalam beraktivitas.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved