Minggu, 19 April 2026

TRIBUN WIKI

Bisa Dibuat di Rumah, Berikut Cara Membuat Disinfektan Non Kimia

Merebaknya pandemi virus Corona membuat sejumlah pihak, seperti pemerintah berbondong-bondong menyemprotkan cairan disinfektan di tempat umum.

TRIBUNBATAM/ALAM
Polda Kepri melakukan penyemprotan disinfektan di area Masjid Agung Batam, Minggu (15/3/2020). Memnbuat cairan disinfektan bisa dilakukan di rumah. 

TRIBUNBATAM.id - Merebaknya pandemi virus corona membuat sejumlah pihak seperti pemerintah berbondong-bondong menyemprotkan cairan disinfektan di tempat umum.

Langkah ini dilakukan demi menjaga kebersihan agar virus corona mati dan tidak berkembang.

Selain di tempat umum, masyarakat juga banyak yang membeli cairan disinfektan untuk disemprotkan ke rumah masing-masing.

Hal ini membuat terjadinya panic buying di tengah masyarakat, sehingga cairan disinfektan semakin sulit dijumpai.

Apa itu Disinfektan?

Disinfektan sendiri adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran oleh jasad renik.

Sederhananya, disinfektan bisa disebut sebagai obat untuk membasmi kuman penyakit.

Pengertian lain dari disinfektan adalah senyawa kimia yang bersifat toksik dan memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme yang terpapar secara langsung oleh disinfektan.

Disinfektan tidak memiliki daya penetrasi sehingga tidak mampu membunuh mikroorganisme yang terdapat di dalam celah atau cemaran mineral.

Selain itu, disinfektan tidak dapat membunuh spora bakteri sehingga dibutuhkan metode lain seperti sterilisasi dengan autoklaf.

Kenali Jenisnya

Melansir berbagai sumber, berikut jenis-jenis disinfektan

1. Klorin

Senyawa klorin yang paling aktif adalah asam hipoklorit.

Mekanisme kerjanya adalah menghambat oksidasi glukosa dalam sel mikroorganisme dengan cara menghambat enzim-enzim yang terlibat dalam metabolisme karbohidrat.

Kelebihan dari disinfektan ini adalah mudah digunakan, dan jenis mikroorganisme yang dapat dibunuh dengan senyawa ini juga cukup luas, meliputi bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.

Kelemahan dari disinfektan berbahan dasar klorin adalah dapat menyebabkan korosi pada pH rendah (suasana asam), meskipun sebenarnya pH rendah diperlukan untuk mencapai efektivitas optimum disinfektan ini.

Klorin juga cepat terinaktivasi jika terpapar senyawa organik tertentu.

2. Lodin

Iodin merupakan disinfektan yang efektif untuk proses desinfeksi air dalam skala kecil.

Dua tetes iodine 2% dalam larutan etanol cukup untuk mendesinfeksi 1 liter air jernih.

Salah satu senyawa iodine yang sering digunakan sebagai disinfektan adalah iodofor.

Sifatnya stabil, memiliki waktu simpan yang cukup panjang, aktif mematikan hampir semua sel bakteri, tetapi tidak aktif mematikan spora, nonkorosif, dan mudah terdispersi.

Kelemahan iodofor diantaranya aktivitasnya tergolong lambat pada pH 7 (netral) dan lebih dan mahal. Iodofor tidak dapat digunakan pada suhu lebih tinggi dari 49 °C.

3. Alkohol

Alkohol disinfektan yang banyak dipakai untuk peralatan medis, contohnya termometer oral.

Umumnya digunakan etil alkohol dan isopropil alcohol dengan konsentrasi 60-90%, tidak bersifat korosif terhadap logam, cepat menguap, dan dapat merusak bahan yang terbuat dari karet atau plastik.

4. Amonium Kuartener

Amonium kuartener merupakan garam ammonium dengan substitusi gugus alkil pada beberapa atau keseluruhan atom H dari ion NH4+nya.

Umumnya yang digunakan adalah en:cetyl trimetil ammonium bromide (CTAB) atau lauril dimetil benzyl klorida.

Amonium kuartener dapat digunakan untuk mematikan bakteri gram positif, tetapi kurang efektif terhadap bakteri gram negatif, kecuali bila ditambahkan dengan sekuenstran (pengikat ion logam).

Senyawa ini mudah berpenetrasi, sehingga cocok diaplikasikan pada permukaan berpori, sifatnya stabil, tidak korosif, memiliki umur simpan panjang, mudah terdispersi, dan menghilangkan bau tidak sedap.

Kelemahan dari senyawa ini adalah aktivitas disinfeksi lambat, mahal, dan menghasilkan residu.

5. Formaldehida

Formaldehida atau dikenal juga sebagai formalin, dengan konsentasi efektif sekitar 8%.

Formaldehida merupakan disinfektan yang bersifat karsinogenik pada konsentrasi tinggi namun tidak korosif terhadap metal, dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan pernapasan.

Senyawa ini memiliki daya inaktivasi mikroba dengan spektrum luas.

Formaldehida juga dapat terinaktivasi oleh senyawa organik.

6. Kalium Permanganat

Kalium permanganat merupakan zat oksidan kuat namun tidak tepat untuk disinfeksi air.

Penggunaan senyawa ini dapat menimbulkan perubahan rasa, warna, dan bau pada air.

Meskipun begitu, senyawa ini cukup efektif terhadap bakteri Vibrio cholerae.

7. Fenol

Fenol merupakan bahan antibakteri yang cukup kuat dalam konsentrasi 1-2% dalam air, umumnya dikenal dengan lisol dan kreolin.

Fenol dapat diperoleh melalui distilasi produk minyak bumi tertentu.

Fenol bersifat toksik, stabil, tahan lama, berbau tidak sedap, dan dapat menyebabkan iritasi.

Mekanisme kerja senyawa ini adalah dengan penghancuran dinding sel dan presipitasi (pengendapan) protein sel dari mikroorganisme sehingga terjadi koagulasi dan kegagalan fungsi pada mikroorganisme tersebut.

Membuat disinfektan

Disinfektan sebetulnya bisa dibuat sendiri di rumah.

Menggunakan bahan-bahan sederhana yang umum dijumpai di rumah, pembuatan cairan disinfektan ini hanya membutuhkan waktu 10 menit.

Dilansir dari The Spruce, Sebagian besar larutan pembersih atau disinfektan komersial mengandung bahan kimia sintetis yang memiliki bau tidak sedap dan dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Namun, ada beberapa alternatif non-kimia yang sangat efektif yang dapat Anda coba yang menggunakan produk rumah tangga biasa. 

Bahan dasarnya dari cuka, dengan perbandingan cuka dan air 1:1.

Namun apabila ingin membersihkan jamur dan jamur yang berlebihan, Anda dapat meningkatkan potensi solusi dengan mengubah rasio cuka ke air menjadi 2: 1 (2/3 cangkir cuka untuk 1/3 gelas air, misalnya).

Resep ini menghasilkan delapan ons larutan campuran:

Alat

-Botol semprotan

-Gelas pengukur dan corong

 Bahan

-1/2 cangkir cuka putih (suling)

-1/2 gelas air

-12 hingga 24 tetes minyak esensial

Langkah-langkah

1. Pilih Satu atau Kombinasi Minyak Esensial

Minyak esensial lainnya yang mungkin ingin Anda coba adalah kemangi, bergamot, kayu manis, cengkeh, kayu putih, jeruk bali, jeruk nipis, oregano, rosemary, dan thyme.

2. Tambahkan Cuka dan Air

Menggunakan gelas ukur dan corong, tambahkan cuka dan air dalam rasio yang diinginkan, dan kocok untuk mencampurkannya.

3. Tambahkan Minyak Atsiri

4. Tambahkan minyak esensial langsung ke botol semprot Anda.

5. Kocok Botolnya

6. Kocok botol untuk memasukkan minyak esensial.

7. Labeli Botol dengan Penanda Permanen

8. Simpan Botolnya

Simpan botol dari panas atau sinar matahari langsung yang dapat mengubah bahan kimia dalam minyak esensial.

Cara Menggunakan

Untuk menggunakannya, semprotkan area yang perlu dibersihkan, bilas dengan baik, dan lap kering. 

Cara Kerja Pembersih Ini

Rendahnya pH dan  kadar asam asetat cuka  menghambat pertumbuhan mikroorganisme. 

Cuka pembersih, merupakan antiseptik ringan, meskipun tidak boleh dianggap sebagai disinfektan spektrum luas. 

Selain itu, minyak esensial menambahkan kualitas antibakteri, antivirus, dan antijamur tambahan untuk pembersih serbaguna Anda. 

Akhirnya, tingkat keasaman cuka yang tinggi berfungsi untuk melonggarkan deposit mineral, seperti kapur dan kalsium dan akan membantu  melarutkan buih sabun.(TribunBatam.id/Widi Wahyuningtyas) (Tribunnews.com)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved