Corona Virus
BREAKINGNEWS: Pagi Ini, Kasus Virus Corona di Amerika Serikat Lebih Banyak dari China, 82 Ribu
Amerika sejauh ini masih menkonfirnmasi 68,440 kasus dengan 994 warga meninggal, Jumlah ini naik hampir 3 kali lipta dari 3 hari lalu.
Penulis: Beres Lumbantobing |
WASHINGTON, TRIBUN -- Inilah kabar terbaru soal pandemi global Corona Virus Disease (COVID-19).
Malansir temuan John Hopkins Universiry, Jumat (27/3/2020) pagi, BBC News, melansir kini wabah Corona di Amerika Serikat lebih banyak dari China Daratan.
"Amerika Serikat AS sekarang memiliki lebih banyak kasus yang dikonfirmasi tentang coronavirus, 82.404, daripada angka China," tulis BBC melansir temuan dari Johns Hopkins University.
Data dari WHO yang juga dikonfirmasi pihak China dan SCMP, juga mengkonfirmasikan kenaikan tajam jumlah penderita Corona di Amerika.
Dari total 485 ribu kasus positif gobal, kini Daratan China ada 81,285 kasus dengan jumlah meninggal dunia 3,287 orang.
Urutan kedua adalah Italia dengan 80,539 kasus dan 8,165 warga meninggal
Amerika sejauh ini masih menkonfirnmasi 68,440 kasus dengan 994 warga meninggal, Jumlah ini naik hampir 3 kali lipta dari 3 hari lalu.
Di Indonesia, Kabar buruk dari Amerika ini bersamaan dengan keputusan Amerika memulangkan para warga negaranya yang berada di Indonesia, dan sejumlah negara di dunia.
Keputusan penarikan ini keluar hanya beberapa jam seteleh meeting online para pemimpin G-20, termasuk Jokowi, Kamis (26/3) malam.
Selain Amerika, dua negara besar telah menarik warganya untuk keluar dari Indonesia menunjukkan isyarat lampu merah atas penanganan virus corona atau Covid-19 yang dilakukan pemerintah.
Dua negara tersebut adalah Amerika Serikat dan Rusia. Kedua negara tersebut mulai menarik warganya untuk keluar dari Indonesia.
Direktur Eksekutif Center for Social, Political, Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun menilai Amerika Serikat dan Rusia telah khawatir lantaran Pemerintah Indonesia tidak mampu menangani Covid-19.
"Itu isyarat 'lampu merah' untuk Indonesia. Amerika Serikat dan Rusia khawatir karena ketidakmampuan Indonesia dalam tangani Covid-19," ucap Ubedilah Badrun, Kamis (26/3).
Kekhawatiran kedua negara tersebut, kata Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), ini berdasarkan lambannya pemerintah untuk melakukan lockdown.
Dengan demikian, Ubedilah tak bosan kembali mendesak Presiden Jokowi untuk segera melakukan lockdown agar meminimalisir penyebaran Covid-19 secara masif.
"Kini kuncinya ada pada Jokowi, korban Covid-19 terus berjatuhan. Silahkan ambil keputusan pahit tapi sebentar atau tetap seperti saat ini tetapi penderitaan akan berkepanjangan," pungkasnya. (rm)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/amerika_negara_epidemi_baru_corona.jpg)