Jaga Negara dari Wabah Corona, Presiden Filipina Perintahkan Polisi Tembak Mati Pengganggu Lockdown

Wilayah utama Filipina utara, Luzon adalah rumah bagi lebih dari 50 juta orang dan di bawah penguncian selama sebulan akibat pandemi Covid-19

AFP/Dondi Tawatao
Ilustrasi 

TRIBUNBATAM.id - Kekuatan militer dikerahkan negara Filipina untuk memutus mata rantai virus corona.

Tak tanggung-tanggung, polisi dan militer diperintahkan menembak mati bagi siapa saja yang menghalangi atau menentang pemberlakuan lockdown sebulan di Pulau Luzon. 

Wilayah utama Filipina utara, Luzon adalah rumah bagi lebih dari 50 juta orang dan di bawah penguncian selama sebulan akibat pandemi Covid-19.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengingatkan, dia akan memerintahkan polisi dan militer menembak mati siapa pun yang menciptakan masalah, selama pemberlakukan lockdown tersebut.

Presiden Rodrigo Duterte Berencana Ganti Nama Negaranya Filipina, Ini Alasannya

Presiden Filipina Rodrigo Duterte Ingin Ubah Nama Filipina jadi Maharlika, Ternyata Punya Arti Ini

Rodrigo Duterte Marah, Printahkan Pasukan Bersenjata Filipina Amankan Warga Sipil Pasca Ledakan Bom

"Biarkan ini menjadi peringatan bagi semua. Ikuti pemerintah saat ini karena sangat penting bahwa kita memiliki perintah," katanya dalam pidato nasional televisi larut malam, Rabu (01/04/2020) waktu setempat.

"Dan jangan membahayakan pekerja kesehatan, para dokter ... karena itu adalah kejahatan serius. Perintah saya kepada polisi dan militer, jika ada yang membuat masalah, dan hidup mereka dalam bahaya, tembak mereka mati," tandas Duterte yang dikutip Al Jazeera.

Peringatan Duterte datang setelah penduduk sebuah daerah kumuh di Kota Quezon Manila, melakukan protes di sepanjang jalan raya dekat rumah-rumah gubuk mereka.

Presiden Jokowi Telepon Presiden Filipina Rodrigo Duterte Terkait Penyanderaan WNI

Rodrigo Duterte Resmi Dilantik Sebagai Presiden ke-16 Filipina untuk Masa Jabatan Enam Tahun

Presiden Rodrigo Duterte Ancam Usir Tentara Amerika dari Filipina. Ini Penyebabnya

Mereka mengklaim belum menerima paket makanan dan pasokan bantuan lainnya sejak lockdown dimulai lebih dari dua minggu lalu.

Petugas keamanan desa dan polisi mendesak warga untuk kembali ke rumah mereka, tetapi mereka menolak, kata laporan polisi.

Polisi membubarkan protes dan menangkap 20 orang, demikian laporan polisi itu.

Halaman
12
Penulis: Irfan Azmi Silalahi
Editor: Irfan Azmi Silalahi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved