News Analisys

Nasib Industri Batam Kala Ekonomi China Minus 6,8 %, Pengamat: Butuh 18 Bulan untuk Kembali Normal

Diyakini, untuk bangkit dari resesi (pertumbuhan ekonomi minus), sangat bergantung penemuan dan distribusi global vaksin Covid-19.

courtesy_www.etowa.com
ILUSTRASI _ Peta Batam diantara rakasasa ekonomi dunia, China dan Singapura sebagai Kota Jasa dan hub city terbesar di Asia Tenggara, dan kawasan laut China Selatan 

1. Dampak Kontraksi Corona di Industri Batam Mulai Terasa Februari 2020 lalu. 2. Kini China adalah negara dengan penduduk terbesar di dunia, 1,408 Miliar. Tahun 2018 masih 1,401 miliar. 3. Pasca-Corona Robot Akan Banyak Gantikan Pekerjaan Sektor Publik

TRIBUNBATAM.id, BATAM -- Resesi akhirnya menyambangi Republik Rakyat China. 

Di pertengahan April ini, data menyebutkan raksasa ekonomi dunia ini, mulai tumbang.

Dan, akhir Mei mendatang, menyusul raksasa tua lainnya, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa.

Diyakini, untuk bangkit dari resesi (pertumbuhan ekonomi minus), sangat bergantung penemuan dan distribusi global vaksin Covid-19.

Padahal ketergantungan itu, butuh waktu hingga 18 bulan ke depan, atau stabilitas ekonomi sekitar Oktober atau November 2021.

Lantas bagaimana nasib industri, manufaktur, jasa pariwisata di Kota Batam?

Hingga awal April ini disrupsi (gangguan) dari supply chain itu terus dan masih akan berlanjut, hingga awal tahun depan.

Dengan ketergantungan tinggi atas suplai industri, manufaktur dari China (80%) dan pariwisata dari Singapura, Malaysia dan China, ekonomi Batam juga diprediksi mengekor ke kondisi resesi.

Karena ketakutan akan wabah masih akan menghantui hingga akhir tahun, dan warga masih akan lebih banyak stay and work from home, maka usaha yang akan stabil pemenuhan kebutuhan pokok (makanan), telekomunikasi, dan transportasi pengiriman barang.

Resesi di China itu, dikonfirmasi oleh data Biro Statistik Nasional (NBS), Jumat (17/4/2020). Pertumbuhan ekonomi raksasa kedua ekonomi dunia itu, di kuartal pertama 2020 (Januari-April) ini, tercatat minus 6,8.

Data yang tak mengejutkan lagi ini dilansir tepat sebulan pasca-status lock down di Wuhan, episentrum pertama virus corona, resmi berakhir, 18 Maret 2020 lalu.

 Situs South China Morning Post, mengambarkan kondisi ini sebagai kontraksi ekonomi terparah sejak Wénhuà dàgémìng atau Revolusi Kebudayaan Proletarian tahun 1976.

Yang paling terpukul dari wabah ini adalah sektor industri, ritel, pariwisata, dan investasi. Aset usaha dan luquiditas uang cash, terus menyusut menyusul pemenuhan kebutuhan darurat medik, dan suplai makanan pokok, selama dua bulan pertama tahun ini.

Produksi industri, manufaktur, pertambangan dan utilitas, turun 1,1% bulan lalu. Artinya jika diakumulasi ada penurunan 13,5 % sejak Januari 2020.

Selama tiga bulan fokus menahan penyebaran virus, China memilih menguras tabungan dan belanja negaranya (defisit APBN) hingga minus 4,2%, ketimbang memulihkan industri dan ekonominya.

18 April 2020 Pasien Tanpa Gejala di Kepri Tembus 1.167 Orang, Isdianto Ingatkan Warga Patuh Masker

Presiden Jokowi: Corona Segera Berlalu Jika Kepala Daerah dan Rakyat Lakukan 3 Hal Penting Ini

Ditengah PSBB Jakarta, 58.801 Orang Tinggalkan Ibukota Selama April 2020

Hasilnya, sejauh ini sukses. Tingkat kesembuhan pasien sudah mencapai 80,6% per Jumat (17/4) hari ini. KIni tersisa 15.054 orang masih dirawat di 31 provinisi.

Kini dari total 77.944 pasien positif Corona yang dirawat sejak awal Februari, pasien sembuh sudah 62.890 orang.

Sebelumnya, ada 82 ribu kasus dengan akumulasi jumlah kematian 4.632 pasien.

Di Singapura, pemerintah setempat bahkan sudah menyiapkan dana 7 milair Dolar, untuk mensubsidi gaji 1,9 juta karyawan dari 14.000 perusahaan hingga Desember 2020.

Kebijakan pemerintah Negeri Singa itu adalah prediksi sekaligus konfirmasi bahwa wabah ini baru menjauh di awal tahun Kerbau, 2021.

PSBB ala Singapura, 75% Gaji 1,9 Juta Karyawan Ditalangi 9 Bulan, Hingga Desember 2020

Meski demikian, pengamat menilai dampak ekonomi dari wabah ini diyakini masih akan berlanjut ke Asia Pasifik, termasuk wilayah Otorita Batam, di Indonesia.

Profesor Teo Yik Ying, dekan Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock di Universitas Nasional Singapura (NUS), secara ekstrem, menyebut penemuan vaksin Covid-19, adalah kunci untuk menormalkan semua sektor kehidupan.

"Saya melihat bahwa vaksin adalah strategi keluar yang layak, tetapi itu jangka panjang," katanya dalam webinar yang diselenggarakan Lee Kuan Yew School Public Policy (LKYSPP), Selasa (14/4/2020) lalu.

Halaman
Editor: thamzil thahir
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved