HIKMAH RAMADHAN

Ramadhan Cermin Kehidupan

Sebagaimana layaknya cermin, kita hanya berfungsi sebagai pantulan dari wajah sesungguhnya seorang mukmin.

ISTIMEWA
Effendy Asmawi Alhajj 

“Sesungguhnya setiap kalian adalah cermin bagi saudaranya, maka apabila ia melihat noda pada dirinya, hendaklah dibuangnya,”dan dalam riwayat lain disebutkan,”… bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya”…(HR Tumudzi & Abu Daud).

TRIBUNBATAM.id - Kalau kita merenung, sudah berapa kali ramadhan datang menjenguk kita memberikan sapaan dan salam kedamaian?

Demikian juga sudah berapa cermin yang kita pakai dalam menemani kehidupan kita?

Cermin, semua kita mengenalnya, bahkan amat suka kepadanya.

Tiada satu rumahpun tanpa dia, betapapun fakirnya seseorang, maka seolah-olah lekat benda ini dengan kehidupan kita, seakan ia adalah bagian dari hidup kita yang tak terpisahkan.

Kedua hal ini (Ramadhan & cermin) sebenarnya memberikan suatu penilaian dalam menjalani hidup dan kehidupan kita tanpa pandang bulu apa dan siapapun ia yang berfungsi sebagai “cermin kehidupan”.

Oleh sebab itu semestinya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sebagaimana kala kita bercermin, kita curahkan seluruh perhatian kepadanya, dengan penuh ketulusan hati, kita ikuti kritik dan nasehat-nasehatnya.

Setelah itu dengan kritik dan nasehat yang ia berikan, kita tampil dengan penuh percaya diri dalam panggung kehidupan ini.

Itulah hikmah cermin, dan Rasul mengingatkan kepada kita, dari Abu Hurairah beliau bersabda…”seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya”…

Ramadhan memberikan pelajaran kepada kita, agar dapat melihat dan memperhatikan saudara kita seiman.

Alangkah indahnya bila kita bercermin kepada saudara kita tentang berbagai kebaikan yang dilakukannya.

Demikian juga sebaliknya, mencoba menghindari serta mengoreksi saudara kita manakala berbuat keburukan.

Dan ketika saudara kita memberi nasehat atau kritik, tak pernah terbesit dalam hati serta pikiran kita tentang niat buruk atau nasehat atau kritik tersebut.

Yang ada kesadaran bahwa itu hanya perwujudan dan keikhlasan seorang muslim melihat saudaranya selalu dalam kebaikan.

Sebaliknya, bila kita melihat salah seorang saudara seiman berbuat kurang baik adalah kewajiban untuk memberi nasehat dan kritik.

Ibarat bercermin tak mau melihat wajah bayangan kita tercoreng atau kotor akibat lumpur atau kotoran dosa.

Tentu saja, semua nasehat atau kritik disampaikan dengan penuh kelembutan dan kata-kata hikmah yang baik.

Bukan persoalan kita lagi, bila nasehat dan kritik telah disampaikan, namun “wajah kotor” tak hendak juga dibersihkan.

Sebagaimana layaknya cermin, kita hanya berfungsi sebagai pantulan dari wajah sesungguhnya seorang mukmin.

Wajah penuh kebaikan, untuk itu tidak ada kata bosan dalam hal mengingatkan saudara kita agar tetap dalam wajah terbaiknya sebagai seorang mukmin.

Itulah misi yang di bawa Ramadhan sebagai cermin kehidupan. Wallahu a’lam. (*)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved