Breaking News:

OPINI

Anomali Millennial Itu Bernama Didi Kempot

Anomali adalah ruang kosong yang disisakan oleh mekanisme alam. Anomali teragung dalam sejarah manusia adalah kelahiran Nabi Isa.

ISTIMEWA
Rossi Kompas TV bersama Didi Kempot 

Dedi Kempot tidak mungkin menjadi idola generasi milenial, kecuali melalui mekanisme anomali. Jalan popularitas baru Didi Kempot tidak lepas dari kebangkitan lagu bergenre koplo dan campur sari yang dipopulerkan oleh Didi Kempot dan artis-artis anyar. Bersama Via Vallen dan Nella Kharisma, mereka boleh disebut sebagai ikon campur sari. Lagu "Stasiun Balapan" yang populer tahun 2000an bolehlah disebut sebagai tonggak genre campur sari. Sekaligus membuat nama Didi Kempot dikenal luas.

Musik campur sari yang selama ini berada di area pinggir tiba-tiba bergerak ke tengah dan menjadi arus baru.

Beberapa tahun belakangan selera musik di tanah air memang mengalami bentuk yang acak. Musik-musik yang ringan, tidak bertele-tele, dan easy listening digandrungi anak-anak muda. Selera musik yang membuat Ahmad Dhani kehilangan konteks dan akhirnya bergabung di dunia politik. Lagu-lagu puitis dengan musik yang rumit dan penuh dengan liukan seni kehilangan era. Musik koplo dan campur sari mulai ikut bermain.

Perubahan media yang dulu dikuasai oleh studio rekaman menjadi cover you tube membuat musik yang easy listening ini mudah diterima publik.

Budaya Populer

Budaya populer memang banal. Ukuran tertingginya adalah akumulasi selera. Selera berbasis pada era dan kebosanan. Musik banal adalah tempat berbagai selera diadu.

Siapa yang memenangkan pertarungan, dia akan muncul ke publik.

Didi Kempot boleh jadi muncul di tengah kejenuhan akan kepalsuan wajah tampan dan tubuh atletis. Dia juga boleh jadi digunakan sebagai mode perlawanan terhadap serbuan budaya asing.

Didi Kempot adalah pilihan paling tepat. Dia adalah potret dari Indonesia yang orisinil. Mulai dari wajah, kustom, hingga bahasa yang digunakan.

Via Vallen memang menggunakan bahasa Jawa dalam lagu Sayang, opo kuwe krungu. Tetapi Via adalah potret perempuan modern. Dandanannya lebih menyerupai artis Korea ketimbang orang Indonesia. Dia telah termodifikasi.

Tidak ada yang paling orisinil ketimbang Didi Kempot.

Panggung Didi Kempot adalah panggung anomali. Tempat pertemuan kontradiksi. Penggemarnya kebanyakan berusia 20 an. Dia yang bersarung dan berblangkon, dielu-elukan oleh pemuda-pemudi yang berpakaian ala hip-hop. Celana jeans robek, kaos oblong.

Mereka adalah pemuda urban yang ketika mengisi daftar nama idola mungkin mereka tidak akan menyebut nama Didi Kempot. Tetapi, dengan segala hormat mereka menyatukan perasaan mereka yang ambyar untuk menyambut Lord Didi dengan teriakan,” cendol dawet!”. Berkali-kali!

Anomali Didi Kempot adalah anomali yang berkelas. Dia adalah musisi yang konsisten membawa genre campursari sejak lama hingga menemukan era-nya sendiri. Dia juga sudah sangat lama berkecimpung di dunia musik.

Penggemar Didi Kempot sebenarnya sudah banyak tetapi kebanyakan berumur dan berbasis bahasa Jawa. Anomali yang terjadi di penghujung karirnya mungkin adalah puncak dari popularitas genre campur sari di tanah air.

Didi Kempot telah berpulang. Pecinta musik tanah air, mungkin tidak akan bisa lagi menemukan kontradiksi yang indah. Mungkin dalam beberapa puluh tahun ke depan, musik Indonesia tidak bisa mendapatkan sosok seperti Didi Kempot. Yang datang dengan anomali berkelas.

Selamat jalan Raja Patah Hati Indonesia, Lord Didi Kempot.

Editor: thamzil thahir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved