Jumat, 24 April 2026

VIRUS CORONA DI INGGRIS

Boris Johnson Minta Warga Inggris Kembali Bekerja, Pesan 'Tetap Waspada' Tuai Kritikan

Pada Minggu (10/5/2020) lalu, Boris Johnson meminta warga Inggris untuk kembali bekerja di tengah wabah virus Corona atau Covid-19. Ini penjelasannya.

newsthump.com
Boris Johnson 

TRIBUNBATAM.id, LONDON - Pada Minggu (10/5/2020) lalu, Boris Johnson meminta warga Inggris untuk  kembali bekerja di tengah wabah virus Corona atau Covid-19.

Perdana Menteri Inggris itu meminta warganya bekerja lagi bila pekerjaan tidak bisa dilakukan dari rumah selama pandemi ini.

Bersamaan dengan hal tersebut, Boris Johnson juga menyinggung soal visinya yakni membuka perekonomian Inggris secara bertahap.

Terkait pekerjaan, sebelumnya pemerintah mengizinkan bekerja bagi orang-orang yang memang diharuskan sebagaimana dikutip dari CNN.

Namun kini Johnson mendorong warga bekerja khususnya bagi sektor pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dari rumah.

Kita sekarang perlu menekankan bahwa siapa pun yang tidak dapat bekerja dari rumah, misalnya mereka yang dalam konstruksi atau manufaktur, harus didorong secara aktif untuk pergi bekerja," kata Johnson.

Film Perempuan Tanah Jahanam Garapan Joko Anwar akan Ditayangkan di Amerika Serikat hingga Inggris

Selain itu, mulai Rabu ini warga Inggris diizinkan pergi ke taman, berolahraga, dan pergi ke tempat-tempat lainnya.

Pada pidatonya di televisi, Johnson menjelaskan langkah-langkahnya untuk melanjutkan kegiatan setelah enam minggu dikunci.

Dia menyebut rencananya itu sebagai keseimbangan untuk menjaga adanya infeksi corona baru sementara membuka bisnis untuk meringankan beban ekonomi.

Sementara itu, warga dengan pekerjaan kurang penting disarankan keluar rumah untuk kebutuhan tertentu.

Boleh berolahraga di sekitar sekali sehari dan membeli makanan atau obat-obatan.

"Dari hari Rabu ini kami ingin mendorong orang untuk melakukan lebih banyak dan bahkan tidak terbatas latihan di luar ruangan," kata perdana menteri.

Kendati demikian, Johnson terus menegaskan bahwa jarak sosial masih akan terus digalakkan.

"Anda dapat duduk di bawah sinar matahari di taman lokal Anda, Anda dapat berkendara ke tujuan lain, Anda bahkan dapat bermain olahraga tetapi hanya dengan anggota rumah tangga Anda sendiri," jelasnya.

Selain yang telah disebutkan, berikut beberapa langkah lainnya:

1. Berangkat kerja dengan tidak menggunakan transportasi umum jika memungkinkan.

2. Mengarantina kedatangan melalui bandara.

3. Sistem peringatan lima tingkat baru, seperti yang digunakan Inggris untuk ancaman teror, akan digunakan oleh pusat biosekuriti.

4. Menggalakkan slogan 'tetap di rumah' dan 'tetap waspada'.

5. Sekolah dasar dapat dibuka mulai 1 Juni jika memungkinkan.

6. Juli mendatang toko-toko dan perhotelan akan dibuka kembali, tapi tergantung keadaan.

Pemimpin oposisi utama Partai Buruh, Keir Starmer mengatakan bahwa pernyataan Johnson tidak memiliki kejelasan sebagaimana yang dibutuhkan negara.

"Pesan dasar, tetap waspada, tidak cukup jelas dan pernyataan Perdana Menteri menimbulkan banyak pertanyaan seperti yang dijawab," katanya.

"Saya pikir ada masalah nyata di sini. Pada dasarnya, mereka yang tidak bisa bekerja di rumah disuruh pergi kerja besok."

"Itu jutaan orang dan itu berarti pergi bekerja dalam waktu sekitar 12 jam, dicampur dengan pesan bahwa jika mungkin untuk melakukannya, jangan gunakan transportasi umum itu hal yang cukup untuk orang pada besok pagi," jelasnya.

Pesan 'tetap waspada' yang ditulis Johnson pada Twitternya, Minggu lalu memang menuai kritik dan ejekan karena dianggap tidak jelas.

Pesan dari perdana menteri ini juga bertentangan dengan tiga negara bagian Inggris yakni Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara.

Ketiga wilayah ini memperpanjang penguncian mereka hingga 28 Mei.

Para pejabat di tiga negara bagian ini mengaku Downing Street tidak berkoordinasi dengan mereka mengenai pesan barunya.

Menteri Pertama Skotlandia, Nicola mengatakan bahwa orang-orang di wilayahnya mulai berolahraga sejak Senin, tetapi semua aturan lockdown lainnya akan dipertahankan.

"Kita tidak boleh menyia-nyiakan kemajuan kita dengan melonggarkan terlalu cepat, atau dengan mengirim pesan campuran yang membuat orang berpikir tidak apa-apa untuk mereda sekarang."

"Biarkan saya menjadi sangat blak-blakan tentang konsekuensinya jika kita melakukan itu, orang akan mati tanpa perlu. Kita tidak boleh mengambil risiko itu," jelas Nicola.

Inggris adalah salah satu negara yang paling terpukul di dunia dalam pandemi ini.

Lebih dari 31.000 orang telah meninggal, menurut data pemerintah.

Dampak Covid-19, Bank Sentral Prediksi Ekonomi Inggris Sentuh Level Terburuk dalam 300 Tahun

Inggris merupakan salah satu negara di dunia yang terkena dampak besar wabah virus Corona atau Covid-19.

Tak terkecuali pengaruh yang tinggi terhadap sektor ekonomi di Inggris.

Perekonomian Inggris bahkan diprediksi akan mengalami keadaan yang terburuk dalam 300 tahun terakhir.

Dilansir dari CNN, Jumat (8/5/2020), bank sentral Inggris, Bank of England menyatakan perekonomian Inggris berisiko terkontraksi alias minus hingga 14 persen tahun ini.

Angka tersebut merupakan yang terbesar sejak Inggris Raya sempat mengalami kontraksi perekonomian sebesar 15 persen di tahun 1706.

Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan, pihaknya akan melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mendukung perekonomian.

Ini seiring dengan ancaman virus Corona yang kian meningkat, namun berhenti mengumumkan langlah-langkah stimulus baru.

Dalam sebuah laporan yang menjelaskan soal dampak pandemi, Bank of England menyatakan Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris akan terkontraksi 3 persen di kuartal I 2020, kemudian bakal anjlok hingga 25 persen pada kuartal II 2020.

Dengan demikian, perekonomian Inggris akan lebih kecil 30 persen dibandingkan dengan realisasi di akhir 2019. Tingkat pengangguran pun bakal mengalami peningkatan hingga 9 persen.

Bank sentral memprediksi akan terjadi perbaikan yang cepat pada 2021.

Namun, Bank of England juga memperingatkan, perbaikan tersebut akan terjadi jika ada pelonggaran kebijakan social distancing secara berkala dan stimulus moneter dan fiskal yang diberikan berdasarkan perubahan pandemi serta respon pemerintah, rumah tangga hingga dunia bisnis.

Bank sentral pun menyatakan, proyeksi perbaikan tersebut didasarkan pada ukuran dampak pandemi terhadap perekonomian dalam skala yang lebih rendah.

Bank of England telah melakukan beberapa langkah untuk menahan guncangan terhadap perekonomian yang disebabkan oleh lockdown yang terjadi selama berminggu-minggu ini.

Bank sentral telah memangkas suku bunga pada Maret lalu, serta menggelontorkan 248 miliar dollar AS untuk membeli obligasi.

Pemerintah Inggris juga telah meluncurkan paket penyelamatan termasuk keringanan pajak bagi pelaku usaha dengan total nilai sebesar 37 miliar dollar AS serta menggratiskan bunga kredit selama 12 bulan.

Pemerintah Inggris pun bakal membayarkan gaji untuk lebih dari 6 juta pekerja di negaranya hingga tiga bulan ke depan.

(*)

Cegah Gelombang Kedua Covid-19, Inggris Berlakukan Aturan Baru, Minta Dua Pekan Karantina

Jadi Kasus Kematian Covid-19 Termuda, Bayi Berusia 6 Minggu di Inggris Meninggal Dunia

Bakal Longgarkan Aturan Lockdown, Bioskop di Inggris Minta Pembukaan Kembali Juni 2020

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul PM Inggris, Boris Johnson Minta Warga Kembali Kerja dan Rilis Slogan yang Bingungkan Publik.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved