Jumat, 15 Mei 2026

ANAMBAS TERKINI

Kapolres Anambas Girang, Berhasil Kelola Tanaman Hidroponik, Minta Warga Bisa Meniru di Rumah

Kapolres Anambas, AKBP Cakhyo Dipo Alam mengajak personelnya bercocok tanam untuk menjaga ketahanan pangan saat pandemi Corona

Tayang:
Editor: Dewi Haryati
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA
Kapolres Anambas AKBP Cakhyo Dipo Alam saat memetik hasil tanaman hidroponik yang dikelola di halaman kosong rumah dinas personel Polres Anambas, Selasa (2/6/2020). 

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Selama pandemi Covid-19 menjaga kesehatan dan pola makan menjadi hal yang penting bagi tubuh.

Polres Kepulauan Anambas punya cara unik untuk mengajak personelnya bercocok tanam, tumbuhan hijau yang bisa dikonsumsi.

Selain bercocok tanam sendiri lebih higienis, hal ini juga untuk mengisi waktu luang dan sekaligus belajar cara bercocok tanam yang baik.

Kapolres Kepulauan Anambas AKBP Cakhyo Dipo Alam mengatakan, kegiatan bercocok tanam itu termasuk upaya untuk menjaga ketahanan pangan.

Di sini, Polres Anambas mengembangkan produksi bahan pangan mandiri dengan menanam tanaman secara hidroponik.

Kantor Samsat Tanjungpinang Kembali Beroperasi Pasca Ditutup, Warga Antusias Urus Pajak Kendaraan

"Penanaman hidroponik ini kita lakukan di rumah yang punya lahan kosong. Ada kurang lebih 50 meter persegi lahan kosong yang ada di rumah dinas personel," ujar Cakhyo, Selasa (2/6/2020).

Untuk tanamannya sendiri, ada tujuh macam jenis sayuran yang ditanam. Seperti selada, sawi minyak, sawi hijau, timun, terong, dan cabai. Tak ketinggalan pula, ada juga buah-buahan yang ditanam.

Menurutnya program ini sangat bagus sekali diterapkan. Warga juga bisa mencontoh, untuk mengisi waktu senggang di rumah selama pandemi Covid-19 ini.

Kapolres Anambas AKBP Cakhyo Dipo Alam saat menunjukkan hasil tanaman hidroponik yang dikelola di halaman kosong rumah dinas personel Polres Anambas, Selasa (2/6/2020).
Kapolres Anambas AKBP Cakhyo Dipo Alam saat menunjukkan hasil tanaman hidroponik yang dikelola di halaman kosong rumah dinas personel Polres Anambas, Selasa (2/6/2020). (TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA)

"Ketahanan pangan seperti menanam tanaman hidroponik ini sangat penting untuk dikembangkan dan dikelola.

Untuk itu perlu adanya upaya dalam menguatkan ketahanan pangan," ujarnya.

Selain itu, cara menanam hidroponik ini juga sangat mudah sekali dilakukan. Potnya sendiri bisa menggunakan paralon ukuran besar, jadi tidak memakan lahan yang luas.

Hasil sayurnya pun cukup segar. Tentunya perlu dirawat secara teratur.

Menariknya lagi, saat ini sayuran hidroponik yang ditanam oleh Polres Kepulauan Anambas sudah bisa dipetik dan dinikmati.

Cakhyo selaku Kapolres Anambas turun langsung memetik sayuran yang sudah bisa dinikmati tersebut.

Budi Daya Ikan Air Tawar

Tak hanya Polres Anambas, Polres Bintan juga ikut berupaya menjaga ketahanan pangan. 

Caranya dengan membudi dayakan ikan air tawar di kolam belakang Mapolres Bintan, Minggu (31/5/2020) kemarin.

Bibit ikan air tawar dilepas Kapolres Bintan dan jajarannya di kolam yang telah disediakan.

Kapolres Bintan AKBP Bambang Sugihartono menuturkan, budi daya ikan air tawar ini dalam rangka menjaga ketahanan pangan selama pandemi virus Corona atau Covid-19.

Suasana saat Kapolres Bintan AKBP Bambang Sugihartono memberikan makan ikan air tawar di Mapolres Bintan, baru-baru ini
Suasana saat Kapolres Bintan AKBP Bambang Sugihartono memberikan makan ikan air tawar di Mapolres Bintan, baru-baru ini (TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA)

"Jadi dengan adanya budi daya ikan air tawar ini, kita harapkan bisa menjaga ketahanan pangan dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan air tawar di Bintan," ucapnya, Senin (01/6/2020).

Bambang juga menjelaskan, budidaya ikan air tawar dibuat di belakang Mako Polres Bintan.

 Sejumlah Foodcourt dan Restoran Ramai Pengunjung Menjelang Pemberlakuan New Normal di Batam

Dengan luas mencapai setengah hektare, pihaknya bisa memanfaatkan menjadi 2 dua kolam tempat ikan air tawar.

"Adapun ikan air tawar yang dibudidayakan yakni ikan lele sebanyak 5.000 ekor, ikan nila sebanyak 5.000 ekor dan ikan bawal 1.000 ekor,"tuturnya.

Bambang juga menambahkan, Kabupaten Bintan akan diberlakukan kebijakan pemerintah tentang New Normal sebagai tantanan kehidupan baru.

"Jadi kepada masyarakat Bintan diharapkan tetap disiplin dengan dibukanya kembali aktivitas ekonomi, sosial, dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan,”tutupnya.

Awalnya Dicemooh

Sementara itu di Batam, Hary Hazhary pria kelahiran Belakang padang1984 sejak Agustus 2019 mulai mengembangkan budi daya rumput laut di beberapa pulau di kecamatan  Belakang Padang, kota Batam.

Melakukan budi daya rumput laut di tengah daerah yang di cap sebagai kota industri merupakan sesuatu cukup di luar kebiasaan orang kebanyakan.

Mulai dari dicemooh oleh kebanyakan orang serta bebagai tantangan lain  seperti kesulitan mengajak masyarakat sekitar untuk berpartisipasi melakukan budi daya rumput laut .

Tetapi semua tantang tersebut tidak menjadi halangan baginya dan menjadi sebuah motivasi diri untuk terus bergerak membudidayakan rumput laut disekitar kampung kelahirannya.

Warga sedang panen rumput laut di Batam
Warga sedang panen rumput laut di Batam (ISTIMEWA)

"Target kita membudidayakan setiap orang yang ikut berpartisipasi bisa berpenghasilan upah minimum Kota (UMK) sehingga masyarakat sekitar tidak perlu bermigrasi ke Kota," ujar pria Yang disapa Azhari (36).

Saat memulai budidaya rumput laut di pulau Mat Belanda diceritakannya bisa menyerap sampai 20 orang yang bisa menggantungkan pencarian dari kegiatan tersebut.

Azhari juga menceritakan alasan dirinya pertama kali melirik Budi Daya rumput laut ialah karena dirasanya selama ini banyak sekali bantuan pemerintah untuk sektor kelautan tidak berjalan sesuai dengan harapan dan yang mampu menjalankan bantuan para kelompok nelayan yang memiliki modal.

"Contoh dikasih bantuan keramba ikan. Bisa dicek dari seribu keramba ikan bantuan pemerintah pasti yang mengelolanya adalah orang yang berduit, bukan para nelayan. Kenapa? Keramba untuk memberikan pakan ikan dan kebutuhan perawatan maka tidak akan sanggup. Karena nelayan yang  betul betul membutuhkan bantuan tidak memiliki modal seperti itu," ujarnya.

Hal yang disampaikannya itu menurutnya berdasarkan hasil temua DKP bahwa dari seribu titik bantuan keremba ikan yang dimanfaatkan dan betul dinikmati nelayan hanya sekitar 8%.

Azhari menyebutkan untuk budidaya rumput laut sendiri tidak membutuhkan modal yang terlalu besar dibandingkan dengan keremba ikan.

"Masyarakat hanya dikasih keramba dan bibit sudah bisa  membudidayakan hal tersebut," sebutnya.

Saat ini Budi daya rumput laut yang ia dan teman-temannya geluti sudah merambah di beberapa pulau seperti Pulau Mat Belanda, Pulau Pecung, Pulau Terong dan pulau Tolop dan direncanakan usai lebaran  idul Fitri  akan menjamah sekitar kecamatan Galang

" Supaya masyarakat yang ingin ikut berbudi daya rumput laut kita tidak kesusahan dan kita siap memberikan pelatihan kepada nelayan yang bersungguh sungguh ikut budidaya rumput laut," tandasnya.

Hasil panen rumput laut yang digelutinya hampir satu tahun itu sementara masih untuk memenuhi kebutuhan di kota Batam dengan pasaran UMKM yang ada.

Budi daya rumput laut sebelum dirinya sudah ditekuni secara tradisional oleh masyarakat.

Tetapi menurutnya hal itu kurang berkembang karena permainan tengkulak atau pengepul yang melakukan permainan harga.

"Mereka (Tengkulak)  bilang rumput laut jenis Eucheuma Spinosum Rumput Laut  mereka membeli dengan harga Rp 3000  yang jauh dari harga pasaran yang sekitar Rp 10.000 keatas," ujarnya.

Menurut Azhari hal yang paling berat saat memulai budidaya rumput laut ialah meyakinkan masyarakat untuk ikut Budi daya.

"Banyak potensi laut yang bisa kita kelola bersama dan juga jika ada bantuan untuk masyarakat nelayan mudah mudahan benar-benar tepat sasaran tidak jatuh ke tangan para pemodal, tengkulak dan cukong cukong," ujarnya.

Saat ini untuk panen rumput laut di beberapa tempat  tersebut satu Minggu bisa mencapai 1 ton sampi 1,5 ton.

Untuk masa budidaya sendiri  jenis Eucheuma Spinosum Rumput Laut jika ia merupakan bibit proses budidaya sendiri bisa memakan waktu sekitar 23 hari lamanya sebelum di panen.

Tetapi jika merupakan rumput laut yang tumbuh secara alamiah maka membutuhkan waktu sampai 45 hari lamanya sebelum di panen.

Usai dipanen rumput lakut tersebut dipanen maka akan dilanjutkan proses pengeringan dengan cuaca cerah memakan waktu 2 sampai tiga hari sebelum dipasarkan.

"Harapan kita kegiatan ini bisa lebih berkembang dan teman teman yang ikut bisa menjadikan sumber penghasilan untuk menafkahi keluarga," tutupnya.

(TRIBUNBATAM.ID/Rahma Tika/Alfandi Simamora/ALAMUDIN)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved